Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Najla Aqila Rahma

Mengapa Banyak Anak Indonesia Tumbuh Tanpa Peran Ayah?

Edukasi | 2025-12-25 21:40:34

Fenomena fatherlessness di Indonesia pelan-pelan jadi cermin sosial yang mengkhawatirkan. Bukan cuma cerita di drama keluarga, tetapi kenyataan yang dialami jutaan anak. Penelitian Universitas Gadjah Mada (2024) menyebutkan bahwa sekitar 15,9 juta anak Indonesia hidup tanpa kehadiran ayah, dan 4,4 juta di antaranya bahkan tidak tinggal serumah dengan ayah. Angka sebesar ini menunjukkan bahwa absennya peran ayah bukan lagi kasus individual, ini sudah jadi pola yang berulang dalam masyarakat.

Padahal, keberadaan ayah jelas membawa dampak besar. Penelitian Nurmalasari dkk. (2024) menemukan bahwa ketiadaan peran ayah berhubungan dengan turunnya pencapaian akademik remaja. Artinya, hubungan ayah-anak bukan cuma soal kedekatan emosional, tetapi berpengaruh pada perkembangan sosial, kepercayaan diri, sampai kemampuan anak mengambil keputusan.

Lalu, kenapa semakin banyak ayah menjauh dari ruang tumbuh anaknya? Mari lihat tiga akar persoalan yang menjadi penyebabnya.

Anggapan bahwa Ayah Hanyalah “Mesin Ekonomi”

Dalam banyak keluarga Indonesia, ayah sering dibingkai sebagai sosok pencari nafkah utama. Selama uang masuk dan kebutuhan materi tercukupi, seolah-olah tugas pengasuhan selesai. Dari sinilah muncul pola “hadir secara fisik, tapi absen secara emosional”.

Padahal, penelitian Nurmalasari dkk. (2024) menunjukkan bahwa minimnya keterlibatan ayah berdampak nyata pada perkembangan anak, bukan hanya di aspek emosional, tetapi juga prestasi akademiknya. Ini menegaskan bahwa anak butuh lebih dari sekadar dukungan finansial, they need a father who is present, warm, and connected.

Pola Pengasuhan Lama yang Terus Berulang

Banyak ayah yang sebenarnya ingin dekat dengan anak, tapi tidak tahu caranya.

Sebagian besar tumbuh dalam keluarga yang juga tidak mengenal kehangatan emosional. Mereka tidak punya “role model” bagaimana menjadi figur ayah yang hadir. Akhirnya, pola itu terbawa ke generasi berikutnya.

Penelitian Musthofa & Arfensia (2024) mencatat bahwa orang dewasa yang tumbuh tanpa ayah memiliki tantangan dalam membangun hubungan emosional yang aman. Mereka lebih rentan stres, cemas, dan sulit mengekspresikan perasaan.

Jadi, bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena tidak pernah belajar bagaimana membangun kedekatan itu.

Budaya Maskulinitas yang Membungkam Emosi Laki-Laki

“Cowok itu harus kuat.”

“Jangan cengeng, nanti dikira lemah.”

Kalimat begini udah kayak kaset lama yang terus diulang. Efeknya? Banyak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan emosi itu salah. Jadinya, ketika mereka menjadi ayah, mereka sering bingung harus bersikap seperti apa. Mau dekat sama anak takut keliatan lembek, mau nyentuh ranah pengasuhan takut dibilang ‘nggak laki’.

Menariknya, pola ini juga terlihat dalam penelitian Khofifah, Musawwir, dan Purwasetiawatik (2024). Studi mereka menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih sangat rendah, dan kondisi ini berdampak langsung pada kemampuan remaja mengatur emosinya. Rendahnya keterlibatan ini bukan semata karena ayah tidak punya waktu, tetapi juga karena banyak ayah merasa bahwa urusan mengasuh, mulai dari memantau emosi anak, mendampingi, hingga memberi perhatian sehari-hari, secara otomatis menjadi tanggung jawab ibu.

Akibatnya, peran ayah dikenal menjadi penyedia kebutuhan materi, bukan figur emosional. Anak tumbuh tanpa kehadiran ayah sebagai tempat bercerita, meminta arahan, atau sekadar merasa aman.

Di titik ini, jelas banget bahwa fatherlessness bukan melulu soal ayah yang pergi. Kadang ayahnya ada, tinggal serumah, makan satu meja tapi secara emosional jauh. Ruang untuk terlibat nggak pernah dibuka, dan anak akhirnya tumbuh dengan figur ayah yang kabur, ada tapi nggak hadir.

Fatherlessness bukan sekadar “Ayah yang pergi.” Masalah absennya peran ayah jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Ada tekanan ekonomi, pola pengasuhan antargenerasi, dan budaya maskulinitas yang membatasi laki-laki untuk hadir secara emosional.

Saat kita memahami akar persoalannya, kita bisa melihat bahwa fatherlessness bukan hanya soal siapa yang ada di rumah, tetapi soal hubungan yang tidak diberi ruang untuk tumbuh.

Sudah waktunya keluarga, masyarakat, dan para ayah sendiri membangun pola hubungan yang lebih hangat, lebih terbuka, dan lebih manusiawi, karena kedekatan ayah bukan hanya kebutuhan, tetapi fondasi penting bagi masa depan anak-anak Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image