Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tania Sianturi

Mengajarkan Pajak ke Anak SD, Terlalu Dini?

Eduaksi | 2026-03-09 15:12:50

Kita pasti sering mendengar jargon “Empat Sehat Lima Sempurna” atau lagu “Aku anak sehat, tubuhku kuat ”, atau pepatah “Mens sana in corpore sano” (Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat). Kampanye kesehatan tersebut sudah disiarkan bahkan sejak kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Mengingat kesehatan adalah hal yang vital, setiap orang perlu memberikan perhatian yang tinggi terhadap aspek tersebut. Sebagai hal yang urgen, menjaga kesehatan mutlak dilakukan oleh setiap pribadi tanpa memandang usia.

Anak dalam rentang usia 6-12 tahun mungkin belum bisa sepenuhnya mengerti mengenai apa saja yang penting bagi diri mereka. Mereka masih perlu dibimbing dan diarahkan oleh orang yang lebih dewasa; dengan kata lain, orang yang memiliki pengetahuan lebih mengenai kesehatan. Di umur yang demikian belia, keterbatasan pemahaman anak-anak harus diimbangi dengan pengajaran yang mudah dimengerti. Tidak hanya mudah, tetapi juga menyenangkan. Tidak sedikit hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ada korelasi antara pembelajaran yang menyenangkan dan tingkat pemahaman. Ketika berada dalam lingkungan belajar yang menyenangkan, murid cenderung memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi. Bagaimana lingkungan yang menyenangkan itu? Anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar memiliki insting yang besar untuk bermain. Mereka mencari unsur kesenangan dalam segala hal. Kondisi inilah yang perlu ditangkap oleh para pengajar, bahwa pembelajaran harus dapat dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.

Di sisi lain, kesehatan hanyalah satu dari sekian aspek yang melekat dalam diri setiap orang. Ada banyak aspek yang membuat setiap orang wajib terjun ke dalamnya, mau tidak mau. Mengutip perkataan Benjamin Franklin, “Di dunia ini tidak ada yang bisa dikatakan pasti, kecuali kematian dan pajak”. Tentu, kita tidak membahas yang pertama. Mungkin bagi beberapa orang, ide ini adalah hal yang terlalu terburu-buru. Bagaimana mungkin mengajarkan pajak kepada anak yang saat menghitung jumlah kembalian belanja dalam aritmetika sosial masih menggunakan metode pengurangan bersusun? Bagaimana mungkin mengajarkan pajak kepada anak yang baru belajar perkalian angka dua digit? Bagaimana mungkin mengajarkan pajak kepada anak yang baru belajar jenis-jenis uang dan fungsinya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah tiga dari sekian banyak kemungkinan pertanyaan yang bisa dilontarkan oleh masyarakat. Akan tetapi, tulisan ini akan menunjukkan mengapa menginternalisasi pajak kepada anak sekolah dasar adalah hal yang sangat disarankan untuk dilakukan.

Hingga duduk di kelas 4 atau 5, anak SD tidak mempelajari bagaimana enzim pencernaan bekerja mengolah makanan di dalam tubuh, serta mengubahnya menjadi senyawa-senyawa kimia untuk diserap tubuh sebagai sumber energi. Tanpa penjelasan kompleks tentang bagaimana tubuh membutuhkan protein untuk memperbaiki sel-sel yang rusak, karbohidrat untuk menghasilkan energi, dan vitamin untuk mengatur metabolisme, jargon “Empat Sehat Lima Sempurna” sudah mulai dikumandangkan setidaknya di tiga tahun pertama di bangku SD. Anak-anak diajarkan terlebih dahulu bahwa ada makanan yang penting untuk tubuh, dan makanan seperti apa yang dimaksud. Hal fundamental tersebut adalah langkah awal yang kuat untuk membangun pemahaman pentingnya menjaga kesehatan. Secara praktis, melalui metode ini, setiap anak hanya perlu mengelompokkan apa yang termasuk dalam makanan pokok, lauk-pauk, sayur-mayur, buah-buahan, dan susu. Anak-anak dapat mempelajari sesuatu yang bisa mereka lihat dan rasakan langsung, apalagi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Jargonnya cukup sederhana, hanya terdiri dari empat kata. Hal ini merupakan bentuk pengajaran yang ramah bagi otak anak yang masih dalam proses perkembangan.

Sumber: Internet

Bayangkan apabila hal yang sama diterapkan dalam mengajarkan pajak. Materi pajak memang sudah mulai diintegrasikan ke dalam sistem perbukuan dan pembelajaran dari tingkat SD hingga menengah, melalui Nota Kesepahaman (MoU) antara Kementerian Keuangan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: MoU-21/MK.03/2014 dan Nomor: 13/X/NK/2014 tentang Peningkatan Kesadaran Perpajakan Melalui Pendidikan. Inklusi kesadaran pajak berfokus pada pembentukan karakter dan pemahaman dasar, bukan hitungan matematis.

Sudah jelas bahwa kita tidak mengajarkan pajak kepada anak SD menggunakan istilah yang tertera dalam undang-undang. Mari kita lihat pengertian pajak menurut UU No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan: “Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan, bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, tanpa imbalan langsung, dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Diperlukan usaha ekstra hanya untuk sekadar membaca definisi dari sebuah terminologi, apalagi untuk memahami dan mengingatnya. Tidak hanya jumlah kata yang banyak, kosakata yang dipakai juga belum familier bagi anak-anak. Sekarang, mari mengingat lagi kampanye-kampanye kesehatan yang dibuat dalam jargon-jargon singkat: “Empat Sehat Lima Sempurna”, “Bersih Pangkal Sehat”, “Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati”. Slogan itu sukses tertanam dari generasi ke generasi, tidak ditelan zaman, sederhana, tetapi sangat esensial.

Dengan cara yang sama, pajak dapat diajarkan kepada anak-anak. Suatu saat nanti, anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar akan beranjak dewasa dan suatu hal mutlak akan datang menghampiri mereka. Mereka akan berhadapan dengan pajak, sekali lagi, mau tidak mau. Tidak ada yang salah dengan membekali pelajar sejak dini dengan hal-hal yang menyangkut masa depan mereka, asalkan metode dan kadar pengajarannya disesuaikan. Mengajarkan hal yang mendasar dan bertahap akan menyadarkan murid bahwa pajak berperan penting untuk membangun negara. Memang, terdapat gap antara kampanye kesehatan dan pajak, yakni menjaga kesehatan dapat dilakukan langsung oleh anak-anak, sedangkan administrasi pajak baru boleh dilakukan jika seseorang sudah memenuhi syarat sebagai wajib pajak. Namun, kesadaran akan kewajiban sebagai warga negara bukanlah hal yang terlalu cepat untuk dipupuk sejak dini. Ibarat membangun rumah, memperkenalkan pajak sejak awal seperti menyusun bata demi bata. Tidak menjadi masalah apakah ukuran batunya kecil atau besar, jumlahnya sedikit atau banyak. Kita tidak bisa memungkiri bahwa pekerjaan yang dimulai lebih awal akan selesai lebih awal juga dengan kecepatan pengerjaan yang sama.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa pembelajaran harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak dapat diajarkan mengenai jargon yang sederhana misalnya: “Pajak dari kita, untuk sekolah kita” atau “Bayar pajak, negara tegak”. Jargon pertama menjelaskan dari mana pajak berasal dan apa peruntukannya. “Sekolah” adalah contoh dampak yang paling bisa dirasakan para murid. Dampak ini mulai dari gedung, peralatan, buku, hingga guru yang dibayar. Pengembangan dari jargon itu adalah pemahaman bahwa fasilitas pendidikan tidak hanya sebatas sekolah dasar, tetapi sampai ke perguruan tinggi. Jika dikembangkan lebih jauh lagi, fasilitas yang disediakan pemerintah tidak hanya di sektor pendidikan, tetapi juga kesehatan, sosial, budaya, dan masih banyak lagi. Jargon kedua adalah lanjutan dari jargon pertama. Ketika warga negara sudah mendapat fasilitas hidup yang memadai, kesejahteraan meningkat. Generasi yang menikmati fasilitas baik nantinya menjadi generasi yang sehat, cerdas, kreatif, dan mampu menjunjung negara Indonesia setinggi-tingginya. Pengajar dapat menggunakan jargon-jargon lain yang bisa melingkupi karakteristik, jenis, atau aspek lain dari pajak.

Dengan metode lain, materi tentang pajak dapat diajarkan dan bahkan bisa diterapkan langsung, yaitu melalui perumpamaan uang kas kelas. Uang kas kelas dikumpulkan dari seluruh anggota kelas, dan hasilnya dinikmati bersama, misalnya untuk kegiatan rekreasi. Di situasi lain, pengajar dapat menggunakan lagu. Ada banyak melodi lagu anak-anak yang dapat diadopsi, dan pengajar hanya perlu mengganti liriknya agar berkaitan dengan pajak. Metode pengajaran seperti ini, yang menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan kanan, dapat meningkatkan daya ingat. Penyajian materi juga tidak hanya berupa pengajaran satu arah antara pengajar dan murid. Anak-anak dapat belajar melalui kuis sederhana. Selain mendapat pemahaman tentang pajak, daya saing mereka juga terasah.

Terakhir, tetapi tidak kalah penting, diperlukan semangat yang besar untuk mengajar anak-anak, apalagi tentang pajak (suatu hal yang cukup terspesialisasi dan eksklusif). Tantangannya pasti ada, atau bahkan banyak. Namun, kita perlu mengingat bahwa mereka yang sedang duduk di bangku sekolah adalah generasi penerus bangsa yang akan menggendong nama Indonesia di zaman “Indonesia Emas” nanti. Kesadaran atas posisi mereka sebagai warga negara harus bisa dipupuk perlahan, dimulai dari hal kecil, sejak dini. Sebagai penutup, kita yang sudah mendapat status “wajib pajak” juga sudah selayaknya memberi teladan kepada mereka dengan memenuhi kewajiban perpajakan. Pajak kuat, Indonesia maju.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image