Mengamalkan Ilmu, Menebar Manfaat Melalui Pendidikan Bahasa Arab Lintas Negara
Edukasi | 2026-05-29 02:12:12
العلم بلا عمل كا الشجر بلا ثمر, Ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon tanpa buah.
Pepatah arab ini sudah sering saya dengar sejak saya duduk di bangku sekolah.
Dulu saya sempat bertanya – tanya, apa maksud dari pepatah itu? Bukan kah banyak pohon yang tetap hidup dan berdiri tegak meski tidak berbuah?
Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa pohon yang berbuah dan yang tidak berbuah tentunya berbeda. Pohon yang berbuah bukan hanya hidup untuk diri nya sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi makhluk lain. Daun nya meneduhkan dan menjadi sumber oksigen, buah nya juga dapat memberikan kehidupan bagi makhluk lain.
Begitu pula dengan Ilmu yang dimiliki oleh manusia. Apabila seseorang mempunyai ilmu, pasti sangat berguna bagi kehidupannya karena bertambah pengetahuan nya dan juga hidup nya lebih terarah dengan ilmu. Tapi jika ilmu yang dimiliki juga di amalkan, bukan hanya berguna untuk diri nya, tetapi juga memberikan manfaat untuk orang lain.
Sejak memahami makna tersebut, saya bertekad untuk menerapkan pepatah tersebut dalam kehidupan saya. Sebagai mahasiswa pendidikan Bahasa arab, saya merasa ilmu yang saya pelajari di bidang Bahasa arab menjadi sebuah kewajiban bagi saya untuk mengamalkan nya dengan membagikan nya kepada sesama.
Karena sampai detik ini banyak sekali yang masih menganggap bahwa Bahasa arab adalah ilmu yang sulit untuk di pelajari dan terbatas hanya untuk orang islam dan juga anak pesantren. Padahal Bahasa arab sama hal nya dengan Bahasa inggris dan Bahasa Bahasa lain nya yang di pelajari oleh seluruh manusia, tidak memandang suka, negara juga agama.
Salah satu cara saya mengamalkan ilmu yang saya miliki adalah saya ingin mengajar, berbagi sedikit ilmu yang saya milki terutama di bidang Bahasa arab. Alhamdulillah di tahun 2024 saya mendapat kesempatan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, yaitu terpilih menjadi delegasi ITHLA Abroad untuk mengajar Bahasa arab lintas negara.
Menjadi delegasi ITHLA Abroad menjadi salah satu hal yang sangat amat saya syukuri dalam hidup. Bahagia pasti nya karena mendapat kesempatan untuk mengamalkan sedikit ilmu Bahasa arab yang saya miliki, apalagi sampai lintas negara. Tetapi di sisi lain saya juga merasa takut karena ini merupakan pengalaman pertama bagi saya untuk mengamalkan ilmu saya terutama Bahasa arab di lingkungan dan dan budaya yang berbeda. Saya sadar, perjalanan ini bukan hanya soal tuntutan akademik sebagai seorang mahasiswa Pendidikan, tetapi juga merupakan bentuk khidmah atau pengabdian sosial saya sebagai seseorang yang mempunyai ilmu untuk mengamalkan ilmu dan juga menebar manfaat kepada sesama manusia.
Selama program berlangsung, saya mendapat kesempatan untuk mengajar Bahasa Arab kepada pelajar dan masyarakat lokal. Saya di tempatkan di sekolah yang berbasis pesantren, namun kondisi nya sedang mengalami keterpurukan akibat wabah covid 19. Jumlah murid disana menurun drastis dari jumlah murid pada sekolah umum nya di Malaysia, bahkan terbilang sangat tidak layak dan memenuhi standar pendidikan di malaysia. Kemudian terbatasnya jumlah guru yang mengajar dan juga kurang nya fasilitas yang menunjang pembelajaran menjadi salah satu permasalahan yang di alami sekolah tersebut.
Program ini sepenuhnya bersifat pengabdian. Saya sebagai delegasi tidak menerima imbalan materi, tetapi setiap senyum dan pemahaman yang meningkat dari para siswa menjadi balasan yang paling berharga.
Dari situ saya belajar bahwa mengajar bukan soal bayaran, melainkan soal keberkahan ilmu. Di sini lah saya menyadari dan merasakan langsung makna pepatah yang sering saya dengar sejak bangku sekolah, bahwa ilmu yang tidak di amalkan hanya berguna untuk diri sendiri dan ilmu yang di amalkan akan berguna untuk orang lain. Saya merasa ilmu saya masih sangat sedikit, tetapi dengan saya amalkan kepada orang lain rasa nya kebahagiaan dalam hidup saya menjadi berlipat ganda.
Dalam proses pembelajaran, saya merasakan kebahagiaan ketika adik adik yang menjadi murid saya berhasil mengetahui makna mufrodat yang baru saya ajarkan, ketika mereka mampu menyusun kalimat sederhana dalam Bahasa Arab. Bagi saya, momen-momen itu sangat berharga dan menjadi gambaran langsung dari pepatah yang sering saya dengar sejak di bangku sekolah.
Mengajar terutama mengajar Bahasa arab lintas negara tentunya bukan hal yang mudah. Ada banyak tantangan dan rintangan yang saya hadapi, mulai dari perbedaan budaya, adaptasi Bahasa, dan juga keterbetasan fasilitas. Saya di amanahkan mengajar murid di kelas 1 tingkat menengah pertama, atau setara kelas 1 SMP di Indonesia. Banyak dari mereka yang merasa sulit dalam pembelajaran Bahasa arab bahkan ada juga yang tidak menyukai Bahasa arab.
Selain itu terdapat tantangan tentang bagaimana menyampaikan Bahasa arab kepada mereka yang belum memahami nya namun kesulitan dengan Bahasa pengantar nya. Hal tersebut menjadi tantangan yang mana juga menguji keilmuan saya sebagai mahasiswa Pendidikan dalam menggunakan metode, media serta strategi dalam pembelajaran. Serta tantangan dan rintangan lainnya baik yang kecil maupun yang besar membuat saya semakin belajar bagaimana agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri.
Namun di balik segala kesulitan itu, poin yang saya dapat dan membuat saya semakin belajar adalah bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membangun jembatan hati antara guru dan murid. Saya berusaha menjadikan kelas Bahasa Arab sebagai ruang yang hidup, tempat mereka belajar, bermain, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa yang mulia ini.
Menurut saya, pengalaman ini bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga menjadi pembelajaran berharga dalam hidup. Pengalaman menjadi delegasi ITHLA Abroad mengajarkan dan meyakinkan saya bahawa ilmu, ketika di amalkan dengan penuh keikhlasan, akan menghasilkan kebermanfaatan yang jauh lebih luas daripada yang pernah kita bayangkan.
Kini, sepulang dari program tersebut, saya membawa pulang lebih dari sekedar pengalaman. Saya menyadari bahwa untuk mengamalkan ilmu tidak selalu harus dalam bentuk besar, tetapi bisa dimulai dari hal sederhana seperti mengajarkan satu kata baru, mengajarkan membuat satu kalimat sederhana, bahkan membuat satu senyum tulus pada seseorang karena menyadari kemampuannya.
Pengalaman ini juga memperkuat tekad saya untuk terus menjadi bagian perubahan dalam dunia Pendidikan. Saya ingin terus melanjutkan langkah ini, menjadikan Bahasa Arab bukan hanya sekedar mata pelajaran, tetapi juga media untuk menebar kebaikan dan keberkahan serta membangun peradaban pendidikan yang berakar pada nilai- nilai kemanusiaan dan keilmuan.
Saya percaya bahwa setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk berbuat baik dan menebar manfaat. Dan bagi saya, cara itu adalah melalui pendidikan dan Bahasa Arab. Bahasa yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan, bahasa yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, dan bahasa yang menyatukan umat di seluruh dunia. Seperti layaknya pohon yang berbuah, saya ingin terus menumbuhkan ilmu yang bermanfaat, agar dari setiap kata yang saya ajarkan, dapat melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya bagi masyarakat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
