Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tia Damayanti, M.Pd.

Mencetak Generasi Unggul, Cukupkah dengan Pendidikan Karakter?

Pendidikan | 2026-05-28 22:36:57

Oleh Tia Damayanti, M.Pd.

Setiap bangsa menaruh harapan besar pada generasi mudanya. Di tangan merekalah estafet kepemimpinan akan dilanjutkan, kemajuan akan diwujudkan, dan masa depan peradaban akan ditentukan. Karena itu, berbagai upaya untuk melahirkan generasi unggul terus dilakukan, terutama melalui dunia pendidikan yang diyakini sebagai sarana strategis dalam membentuk kualitas manusia.

Semangat tersebut kembali mengemuka dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026. Dalam upacara Harkitnas yang digelar di lingkungan Dinas Pendidikan Jawa Barat, Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menggaungkan pentingnya implementasi Pendidikan Pancawaluya untuk mencetak generasi unggul. Sebagaimana diberitakan Dinas Pendidikan Jawa Barat pada 20 Mei 2026, konsep Pancawaluya mengusung lima karakter utama, yakni cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (terampil). Kelima nilai tersebut dipandang sebagai fondasi penting dalam membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Gagasan tersebut tentu patut diapresiasi. Di tengah berbagai persoalan yang melibatkan generasi muda saat ini, perhatian terhadap pembentukan karakter merupakan sesuatu yang sangat penting. Pendidikan memang tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk manusia yang memiliki kepribadian baik dan bertanggung jawab.

Namun di balik berbagai ikhtiar tersebut, muncul pertanyaan yang layak direnungkan bersama. Ketika berbagai persoalan yang melibatkan generasi muda terus berulang dari waktu ke waktu, apakah pembentukan generasi unggul cukup diwujudkan melalui penguatan nilai dan karakter semata? Ataukah terdapat persoalan yang lebih mendasar yang perlu mendapat perhatian?

Ketika Generasi Tumbuh Bersama Layar

Generasi hari ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi faktor dominan dalam proses pembentukan karakter, kini hadir ruang baru yang memiliki pengaruh luar biasa besar dalam membentuk cara berpikir dan cara bersikap generasi, yaitu dunia digital.

Banyak anak dan remaja mengawali hari dengan membuka gawai, menghabiskan waktu luang bersama gawai, berinteraksi melalui gawai, bahkan mencari hiburan dan referensi hidup melalui gawai. Tidak sedikit yang menghabiskan lebih banyak waktu bersama layar dibandingkan bersama guru maupun orang tuanya.

Melalui perangkat yang selalu berada dalam genggaman itu, berbagai informasi, tontonan, tren, dan gaya hidup mengalir tanpa henti. Anak-anak disuguhi beragam konten yang tidak semuanya mendidik. Perundungan kerap dikemas sebagai hiburan. Pertengkaran dipertontonkan demi mengejar perhatian. Budaya pamer kehidupan pribadi (flexing) dianggap sebagai simbol keberhasilan. Hubungan percintaan remaja diumbar secara terbuka dan dinormalisasi. Bahkan berbagai bentuk kemaksiatan dan penyimpangan sering kali tampil sebagai sesuatu yang lumrah.

Di saat yang sama, kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja terus bermunculan. Tawuran, penganiayaan, perundungan, penyalahgunaan narkoba, hingga kasus penghilangan nyawa yang melibatkan pelaku usia muda silih berganti menghiasi pemberitaan. Persoalan demi persoalan seakan datang tanpa jeda.

Realitas ini tentu tidak asing bagi orang tua maupun para pendidik. Banyak yang merasakan bahwa anak-anak hari ini hidup dalam arus informasi yang jauh lebih deras dibandingkan kemampuan mereka untuk menyaringnya. Mereka mengenal tokoh media sosial dengan sangat baik, mengikuti kehidupan para influencer secara detail, namun sering kali tidak memiliki kedekatan yang sama dengan tokoh-tokoh teladan yang layak dijadikan panutan.

Apa yang mereka lihat setiap hari perlahan membentuk cara pandang mereka tentang kehidupan. Viralitas menjadi ukuran keberhasilan. Popularitas dianggap sebagai prestasi. Jumlah pengikut menjadi simbol pengaruh. Dalam situasi seperti ini, standar baik dan buruk sering kali tidak lagi ditentukan oleh kebenaran, melainkan oleh apa yang sedang ramai dibicarakan.

Generasi tidak tumbuh dalam ruang hampa. Apa yang mereka lihat, dengar, dan konsumsi setiap hari akan membentuk persepsi, kebiasaan, bahkan karakter mereka. Karena itu, persoalan generasi tidak dapat dilepaskan dari lingkungan yang membentuk mereka.

Saat Nilai yang Diajarkan Berhadapan dengan Realita Kehidupan

Di sekolah, peserta didik diajarkan tentang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan berbagai nilai kebaikan lainnya. Orang tua pun berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang santun, berakhlak mulia, dan memiliki masa depan yang baik.

Namun pada saat yang sama, mereka hidup dalam lingkungan yang sering kali menyampaikan pesan yang berbeda.

Ketika kebohongan dianggap strategi yang wajar untuk meraih keuntungan, ketika popularitas lebih dihargai daripada integritas, ketika kebebasan diposisikan sebagai nilai tertinggi, dan ketika standar hidup lebih banyak ditentukan oleh tren daripada tuntunan agama, maka sesungguhnya generasi sedang menerima dua pesan yang berbeda secara bersamaan.

Di satu sisi mereka diajarkan tentang nilai-nilai kebaikan. Namun di sisi lain, mereka menyaksikan praktik kehidupan yang tidak selalu sejalan dengan nilai tersebut.

Inilah yang menjelaskan mengapa berbagai persoalan generasi tidak mudah diselesaikan hanya dengan menambah slogan, kampanye, atau program penguatan karakter. Sebab karakter yang baik tidak hanya membutuhkan pengajaran, tetapi juga penjagaan. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai tersebut secara konsisten.

Mengapa Persoalan Generasi Tak Kunjung Usai?

Berbagai program pembentukan karakter sejatinya bukan hal baru dalam dunia pendidikan. Dari waktu ke waktu, beragam kebijakan diluncurkan untuk memperkuat moralitas peserta didik, menumbuhkan budaya positif di sekolah, serta membangun generasi yang berakhlak dan berdaya saing. Namun di tengah berbagai ikhtiar tersebut, persoalan yang melibatkan generasi muda masih terus bermunculan.

Fenomena ini mengisyaratkan bahwa persoalan generasi tidak semata-mata berkaitan dengan kurangnya pengetahuan tentang nilai-nilai kebaikan. Sebagian besar anak sebenarnya memahami bahwa perundungan adalah perbuatan yang salah. Mereka mengetahui bahwa tawuran berbahaya, narkoba merusak, dan pergaulan bebas membawa dampak buruk. Akan tetapi, pengetahuan tentang kebaikan tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku yang muncul dalam kehidupan nyata.

Di sinilah pentingnya melihat persoalan generasi secara lebih mendasar. Sebab manusia tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang diajarkan kepadanya, tetapi juga oleh cara pandang yang membentuk dirinya dalam memahami kehidupan.

Apa yang dianggap penting dalam hidup? Apa yang dipandang sebagai keberhasilan? Untuk apa seseorang belajar, bekerja, dan menjalani kehidupannya? Pertanyaan-pertanyaan mendasar semacam inilah yang sesungguhnya menentukan arah perilaku manusia.

Ketika ukuran keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh popularitas, kekayaan, atau pengakuan manusia, maka berbagai cara akan ditempuh untuk mencapainya. Sebaliknya, ketika seseorang memahami bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan duniawi, maka pilihan dan tindakannya pun akan berbeda.

Karena itu, berbagai kerusakan yang tampak pada generasi hari ini sesungguhnya tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan buah dari cara pandang hidup yang terus-menerus ditanamkan melalui berbagai aspek kehidupan.

Ketika Agama Ditempatkan di Pinggir Kehidupan

Jika dicermati lebih jauh, banyak persoalan generasi hari ini berakar pada cara pandang yang berkembang dalam masyarakat modern. Dalam cara pandang tersebut, agama tetap dihormati sebagai urusan pribadi, tetapi tidak dijadikan rujukan utama dalam mengatur kehidupan.

Agama hadir dalam ibadah, ritual, dan urusan spiritual. Namun ketika berbicara tentang pendidikan, ekonomi, politik, media, budaya, hingga standar kehidupan, manusia lebih banyak merujuk pada pemikiran dan aturan yang dibuat oleh manusia sendiri.

Akibatnya, ukuran benar dan salah perlahan bergeser. Apa yang dianggap baik sering kali ditentukan oleh kesepakatan manusia, tren sosial, atau kepentingan tertentu. Apa yang dianggap berhasil lebih banyak diukur dari capaian materi, popularitas, dan pencapaian duniawi.

Dari cara pandang inilah lahir berbagai gagasan yang menempatkan kebebasan individu sebagai nilai utama. Seseorang dianggap berhak menentukan sendiri standar hidupnya, selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Pilihan hidup dipandang sebagai hak personal yang tidak boleh dibatasi oleh aturan agama.

Tidak mengherankan jika berbagai perilaku yang dahulu dianggap menyimpang perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa. Berbagai bentuk kemaksiatan dipromosikan atas nama kebebasan. Hubungan yang melanggar batas syariat dinormalisasi atas nama hak individu. Bahkan tidak jarang kebenaran dipersepsikan sebagai sesuatu yang relatif, bergantung pada sudut pandang masing-masing.

Dalam kondisi seperti ini, pendidikan menghadapi tantangan yang sangat besar. Sekolah dapat mengajarkan nilai-nilai kebaikan selama beberapa jam setiap hari. Namun setelah itu, peserta didik kembali berhadapan dengan lingkungan yang sering kali menyampaikan pesan yang berbeda.

Pendidikan dalam Bayang-bayang Sistem Kapitalisme

Persoalan semakin kompleks ketika pendidikan berada dalam sistem kehidupan yang berlandaskan kapitalisme. Dalam sistem ini, keberhasilan umumnya diukur melalui indikator-indikator yang bersifat material. Kemajuan dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi, produktivitas, daya saing, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.

Akibatnya, pendidikan pun cenderung diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mampu menopang kebutuhan sistem tersebut. Peserta didik dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja yang kompeten, produktif, dan siap bersaing dalam dunia kerja.

Tentu keterampilan dan kompetensi merupakan hal yang penting. Namun ketika orientasi pendidikan berhenti pada aspek tersebut, muncul pertanyaan mendasar: Untuk apa manusia dididik?

Apakah tujuan pendidikan sekadar menghasilkan individu yang mampu memperoleh pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi? Ataukah pendidikan seharusnya membentuk manusia yang memahami tujuan hidupnya serta mampu menjalani kehidupan sesuai tuntunan Sang Pencipta?

Dalam sistem kapitalisme, berbagai kebijakan publik pun tidak jarang berkelindan dengan kepentingan ekonomi dan politik. Pendidikan akhirnya lebih sering dipandang sebagai instrumen pembangunan daripada sarana membentuk manusia sesuai fitrahnya. Perubahan kebijakan terus terjadi, program-program baru terus bermunculan, tetapi akar persoalan yang menyentuh cara pandang hidup manusia sering kali tidak tersentuh.

Di sinilah letak persoalannya. Kerusakan generasi tidak mungkin diselesaikan hanya dengan memperbaiki gejalanya, sementara akar yang melahirkannya tetap dipertahankan.

Pendidikan adalah Amanah Peradaban

Islam memandang persoalan ini dari sudut yang berbeda. Dalam Islam, manusia tidak diciptakan untuk hidup tanpa arah. Allah Swt. sebagai Al-Khalik tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga menurunkan aturan yang mengatur kehidupannya. Allah Swt. juga merupakan Al-Mudabbir, Zat Yang Maha Mengatur seluruh urusan makhluk-Nya.

Karena itu, pendidikan dalam Islam bukan sekadar proses transfer ilmu atau pembentukan keterampilan. Pendidikan merupakan bagian dari upaya menyiapkan manusia agar mampu menjalankan tujuan penciptaannya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi.

Pandangan inilah yang membedakan Islam dengan sistem sekuler. Jika sistem sekuler memandang keberhasilan terutama dalam ukuran duniawi, Islam memandang kehidupan sebagai satu kesatuan yang mencakup dunia dan akhirat. Setiap aktivitas manusia tidak hanya akan dinilai oleh manusia, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.

Dengan perspektif ini, persoalan generasi tidak lagi dipandang sebagai persoalan sosial semata. Ia merupakan amanah peradaban yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Banyak orang tua mencemaskan masa depan anak-anaknya. Banyak guru mengkhawatirkan kondisi peserta didiknya. Banyak pemimpin berbicara tentang pentingnya generasi unggul. Namun seorang muslim semestinya memulai dari pertanyaan yang lebih mendasar:U ntuk apa generasi itu dipersiapkan?

Jika tujuan hidup hanya dipahami sebatas keberhasilan dunia, maka pendidikan akan diarahkan untuk mengejar keberhasilan dunia. Namun jika manusia memahami bahwa hidup adalah perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah Swt. dan pertanggungjawaban atas setiap amanah yang diembannya, maka pendidikan akan diarahkan untuk menyiapkan kebahagiaan dunia sekaligus keselamatan akhirat.

Negara sebagai Pengurus dan Pelindung Generasi

Jika pendidikan dipandang sebagai amanah peradaban, maka tanggung jawab membentuk generasi tentu tidak dapat dibebankan kepada keluarga dan sekolah semata. Islam menempatkan negara sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan setiap warga mendapatkan lingkungan kehidupan yang mendukung tumbuhnya keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.

Rasulullah saw. bersabda,

"Imam (pemimpin) adalah ra'in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kekuasaan administratif, melainkan amanah pengurusan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memastikan roda pemerintahan berjalan. Ia juga bertanggung jawab atas kondisi masyarakat yang dipimpinnya, termasuk akidah, moral, dan masa depan generasi yang tumbuh di bawah pengurusannya.

Tanggung jawab tersebut tidak dapat dilepaskan dari hakikat manusia sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan untuk dipengaruhi oleh lingkungan. Karena itu, Islam tidak hanya memerintahkan individu agar berbuat baik, tetapi juga mengatur lingkungan kehidupan agar mendukung lahirnya kebaikan tersebut.

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda,

"Imam adalah junnah (perisai)." (HR al-Bukhari dan Muslim)

Perisai berfungsi melindungi. Dalam konteks kehidupan masyarakat, negara berfungsi melindungi rakyat dari berbagai hal yang dapat merusak agama, akhlak, dan kehidupan mereka. Negara tidak bersikap netral terhadap kerusakan yang berkembang di tengah masyarakat. Negara juga tidak menyerahkan seluruh proses pembentukan generasi kepada mekanisme pasar, industri hiburan, atau algoritma media sosial.

Sebaliknya, negara memastikan bahwa seluruh aspek kehidupan bergerak dalam arah yang sama, yaitu mendukung ketaatan kepada Allah Swt.

Karena itulah dalam sistem Islam, pendidikan tidak berdiri sendiri. Apa yang diajarkan di sekolah selaras dengan apa yang ditampilkan media. Apa yang ditanamkan keluarga didukung oleh kebijakan negara. Apa yang dibangun dalam ruang pendidikan diperkuat oleh budaya masyarakat. Seluruh elemen bergerak dalam satu tujuan yang sama, yakni membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan bertakwa.

Inilah yang membedakan pendekatan Islam dengan pendekatan yang hanya bertumpu pada perbaikan individu. Islam memahami bahwa karakter yang baik membutuhkan lingkungan yang baik. Sementara lingkungan yang baik membutuhkan pengaturan yang baik. Dan pengaturan tersebut merupakan bagian dari amanah yang diberikan Allah Swt. kepada para pemimpin.

Dalam perspektif ini, persoalan generasi tidak lagi dipandang sebagai kegagalan anak-anak atau kegagalan sekolah semata. Ia menjadi cerminan dari sistem kehidupan yang sedang bekerja membentuk mereka.

Melahirkan Generasi Khairu Ummah

Tujuan pendidikan dalam Islam tidak berhenti pada lahirnya individu yang cerdas atau terampil. Lebih dari itu, Islam menghendaki lahirnya manusia yang memiliki kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah), yaitu manusia yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir dan bersikap.

Kepribadian Islam terbentuk dari dua unsur yang saling terkait, yakni aqliyah Islamiyah (pola pikir Islam) dan nafsiyah Islamiyah (pola sikap Islam).

Pola pikir Islam menjadikan akidah sebagai dasar dalam memahami berbagai persoalan kehidupan. Seseorang tidak menilai sesuatu berdasarkan hawa nafsu, tren, atau kepentingan sesaat, melainkan berdasarkan pandangan yang bersumber dari wahyu Allah Swt.

Dari pola pikir inilah lahir pola sikap Islam. Ketika seseorang meyakini bahwa Allah adalah Pencipta sekaligus Pengatur kehidupan, keyakinan tersebut akan tercermin dalam pilihan, tindakan, dan perilakunya sehari-hari. Apa yang diyakini dalam pikiran selaras dengan apa yang diwujudkan dalam perbuatan.

Dengan kata lain, akidah tidak berhenti sebagai pengetahuan. Akidah melahirkan cara pandang. Cara pandang melahirkan pola pikir. Pola pikir melahirkan pola sikap. Dan pola sikap melahirkan perilaku.

Di sinilah terwujud keselarasan antara pemikiran dan tindakan. Tidak ada kontradiksi antara apa yang diyakini dengan apa yang dilakukan. Kepribadian seperti inilah yang menjadi fondasi lahirnya generasi yang kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman.

Generasi yang dibentuk melalui sistem pendidikan Islam tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kesadaran akan tujuan hidupnya. Mereka memahami bahwa ilmu bukan sekadar alat meraih keuntungan duniawi, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan kemaslahatan bagi manusia.

Dari sistem pendidikan dan sistem kehidupan seperti inilah dahulu lahir generasi terbaik umat. Allah Swt. Berfirman,

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS Ali Imran [3]: 110)

Ayat ini bukan sekadar pujian bagi umat Islam. Ia juga menunjukkan karakter generasi yang dikehendaki Islam. Generasi terbaik bukanlah generasi yang hanya unggul dalam ilmu pengetahuan atau teknologi. Mereka adalah generasi yang menjadikan keimanan sebagai fondasi, amar makruf nahi mungkar sebagai karakter, serta kemanfaatan bagi manusia sebagai orientasi hidup.

Generasi khairu ummah tidak lahir secara kebetulan. Mereka lahir dari sistem yang menjadikan Islam sebagai asas kehidupan, bukan sekadar identitas atau simbol keagamaan.

Menata Kembali Akar Pembentukan Generasi

Pendidikan Pancawaluya menunjukkan adanya kesadaran bahwa generasi unggul harus dibangun melalui nilai-nilai yang baik. Kesadaran ini tentu patut diapresiasi. Namun pengalaman panjang menunjukkan bahwa nilai-nilai yang baik tidak cukup hanya diajarkan. Nilai tersebut harus ditopang oleh lingkungan dan sistem kehidupan yang memungkinkan nilai itu tumbuh, terjaga, dan mengakar kuat dalam diri generasi.

Karena generasi tidak dibentuk oleh sekolah saja, maka perbaikannya pun tidak cukup dilakukan di ruang kelas semata. Keluarga, masyarakat, media, dan negara merupakan bagian dari ekosistem yang turut membentuk cara berpikir dan cara bersikap generasi. Ketika ekosistem tersebut berjalan dengan arah yang berbeda, berbagai upaya pembentukan karakter akan selalu berhadapan dengan tantangan yang tidak ringan.

Di sinilah pentingnya melihat persoalan generasi secara lebih mendasar. Kerusakan yang tampak pada generasi muda hari ini bukan sekadar persoalan perilaku individu. Ia terkait erat dengan sistem kehidupan yang membentuk cara manusia memahami tujuan hidup, menentukan standar benar dan salah, serta memilih arah yang akan ditempuh.

Sebagai Al-Khalik, Allah Swt. telah menciptakan manusia. Sebagai Al-Mudabbir, Allah Swt. juga telah menurunkan aturan yang mengatur kehidupan manusia. Karena itu, upaya mewujudkan generasi unggul pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari upaya mengembalikan kehidupan kepada petunjuk Allah Swt. secara menyeluruh.

Sebab jika generasi adalah amanah, maka memperbaikinya tidak cukup dengan menasihati mereka. Kita juga harus memperbaiki sistem yang membentuk mereka. Hanya dengan fondasi yang kokoh itulah umat ini dapat kembali melahirkan generasi khairu ummah, generasi yang unggul dalam ilmu, mulia dalam akhlak, lurus dalam keimanan, dan siap mengemban perannya sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Penutup

Pada akhirnya, upaya mewujudkan generasi unggul tidak cukup hanya bertumpu pada penguatan nilai-nilai karakter semata, selama lingkungan yang membentuk mereka tidak ikut diarahkan pada kebaikan yang sama. Sebab generasi tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari sistem kehidupan yang terus-menerus membentuk cara berpikir dan cara bersikap mereka.

Karena itu, diperlukan kesadaran yang lebih mendasar bahwa membangun generasi sejatinya adalah membangun arah kehidupan itu sendiri, agar selaras dengan petunjuk Allah Swt. sebagai Al-Khalik dan Al-Mudabbir.

Wallahua’alam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image