Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Eni Agustin Safitri

Mengapa Cewek Cantik Selalu Dihujat Sesama Cewek? Ini Dia Rahasianya

Eduaksi | 2025-12-25 07:36:24
Sesama perempuan saling membully

Baru-baru ini, jagad Twitter (X) kembali heboh dengan nama Amanda Zahra yang mendadak trending. Dokter cantik lulusan UGM ini sering jadi sasaran hate, mulai dari foto selfienya yang banjir pujian tapi juga komentar negatif karena perempuan merasa "insecure". Banyak netizen bilang, "Kenapa sih cewek secantik Amanda aja masih dihujat sesama cewek?" Fenomena ini bukan hal baru—banyak perempuan sukses atau berpenampilan menarik sering dibully oleh sesama jenisnya. Ternyata, ini akar dari iri hati antar perempuan yang dipicu faktor psikologis dan sosial.

Artikel ini membahas mengapa banyak perempuan yang iri hati? Yuk simak paparannya dibawah ini!

Menurut penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Psychology (2024), iri hati antar perempuan sering muncul karena kompetisi tersembunyi akibat standar kecantikan yang tidak realistis dari masyarakat patriarkal. Perempuan diajarkan bersaing untuk perhatian, status, atau pasangan, sehingga melihat yang lain "lebih unggul" (seperti kecantikan Amanda yang disebut "spek anime") memicu rasa inferior dan frustrasi. Psikolog Melanie Klein menambahkan bahwa envy ini bisa jadi "ablative envy"—iri karena ingin bebas dari beban yang dialami sendiri, tapi malah menyalahkan yang lain.

Iri antar cewek adalah gejala patriarki: media sosial memaksakan ideal beauty, membuat banyak perempuan merasa kurang dan iri pada yang "sempurna". Hasilnya? Hate comments, bullying, atau bahkan fitnah seperti kasus Amanda. Padahal, envy ini merusak—bikin stres, rendah diri, dan hubungan toxic.

Di Indonesia, fenomena ini makin parah karena media sosial. Psikolog Ikhsan Bella Persada bilang iri sering unconscious, tapi bisa jadi motivasi positif jika diubah jadi inspirasi. Sayangnya, banyak yang stuck di fase negatif: dari iri jinak jadi dengki berbahaya.

Intinya, iri antar perempuan bukan karena "cewek memang gitu", tapi ini tuh campuran evolusi kompetitif dan tekanan sosial disekitar kita. Yuk, stop bandingkan diri! Rayakan kesuksesan sesama, karena lift each other up jauh lebih empowering. Kamu juga bisa glow up seperti Amanda—fokus self-love aja!

Reference:

Frontiers in Psychology (2023–2024): studi tentang social comparison, appearance-based envy, dan kompetisi gender

Melanie Klein – Envy and Gratitude (1957)

Literatur psikologi feminis & media (Susan Bordo, Naomi Wolf, Rosalind Gill)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image