Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diva Aisah Maharani

Cewek Itu Ribet, atau Kamu yang Belum Mau Mengerti?

Gaya Hidup | 2026-01-28 22:11:24

“Cewek itu ribet.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan sering diucapkan tanpa pikir panjang. Tapi entah benarkah ribet, atau hanya karena perasaannya terlalu sering diabaikan? Ketika seorang perempuan mencoba menyampaikan apa yang ia rasakan, yang ia butuhkan, dan yang membuatnya tidak nyaman, sering kali respons yang datang bukanlah usaha untuk memahami—melainkan label yang mematikan percakapan. Dan terkadang dari komunikasi tersebut, mereka bisa menyimpulkan bahwa semua cewek itu ribet.

Dalam kesehariannya, perempuan memang sering terlihat ribet. Mengurus dirinya saja sudah penuh pertimbangan—mulai dari penampilan, perasaan, kesehatan, hingga pikiran yang jarang benar-benar berhenti. Ada banyak hal kecil yang dipikirkan, bukan karena ingin mempersulit hidup, tetapi karena terbiasa bertanggung jawab pada banyak aspek sekaligus. Apa yang tampak sepele bagi orang lain, sering kali memiliki makna lebih bagi perempuan.

Dalam hubungan pun demikian. Perempuan kerap dianggap ribet karena hal-hal kecil: minta dikabarin, bertanya sudah sampai mana, atau sekadar ingin tahu bagaimana hari pasangannya berjalan. Padahal, itu bukan bentuk posesif atau ingin mengontrol. Itu adalah cara sederhana untuk merasa dilibatkan, diperhatikan, dan diyakinkan bahwa ia masih memiliki tempat dalam hidup seseorang. “Ribet” di sini sebenarnya hanyalah bahasa lain dari rasa peduli yang diekspresikan dengan caranya sendiri.

Secara ilmiah dan psikologis, perempuan sering dianggap “ribet” karena cenderung memproses emosi dan hubungan secara lebih detail. Mereka terbiasa memikirkan perasaan, dampak tindakan, dan kestabilan relasi sekaligus—yang dikenal sebagai mental load. Perbedaan cara berpikir ini kerap disalahartikan sebagai keribetan, padahal sejatinya merupakan bentuk perhatian dan tanggung jawab emosional dalam menjaga hubungan.

Mungkin sudah saatnya label “cewek ribet” diganti dengan kemauan untuk lebih mendengar dan memahami. Karena yang sering dianggap ribet bukanlah perempuannya, melainkan proses memahami perasaan—dan tidak semua orang mau meluangkan waktu untuk itu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image