Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jenny Ramadhani Daely

Menuju Hari Natal: Merawat Toleransi di Tengah Keberagaman Bangsa

Momen | 2025-12-23 16:09:49

Menjelang perayaan Hari Raya Natal, suasana kebersamaan kembali terasa di berbagai sudut negeri. Lampu-lampu hias menghiasi rumah ibadah, pusat perbelanjaan, dan ruang publik. Ucapan selamat Natal mulai bergema, tidak hanya dari umat Kristiani, tetapi juga dari masyarakat lintas agama. Fenomena ini mencerminkan wajah Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya menjaga toleransi dan persatuan di tengah perbedaan.

Natal bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momentum refleksi nilai-nilai universal seperti kasih, perdamaian, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sejatinya selaras dengan jati diri bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Natal menjadi pengingat bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati.

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai polarisasi dan gesekan identitas, perayaan Natal menghadirkan ruang untuk memperkuat solidaritas sosial. Masyarakat Indonesia memiliki tradisi saling menjaga dan membantu, terutama saat perayaan hari besar keagamaan. Penjagaan keamanan tempat ibadah oleh aparat bersama masyarakat lintas agama, misalnya, merupakan wujud nyata toleransi yang patut diapresiasi dan terus dirawat.

Namun demikian, tantangan dalam menjaga harmoni sosial tidak bisa diabaikan. Masih terdapat sikap intoleran, ujaran kebencian, hingga politisasi identitas yang berpotensi merusak persatuan bangsa. Menjelang hari besar keagamaan, termasuk Natal, upaya-upaya provokatif kerap muncul dan menyasar ruang digital. Oleh karena itu, diperlukan kedewasaan kolektif dalam menyikapi perbedaan serta tanggung jawab bersama untuk menciptakan suasana yang aman dan kondusif.

Peran media massa menjadi sangat penting dalam konteks ini. Media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penentu arah wacana publik. Pemberitaan yang menyejukkan, berimbang, dan menjunjung tinggi nilai persatuan akan membantu membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya toleransi. Sebaliknya, narasi yang sensasional dan memecah belah justru berpotensi memperuncing perbedaan.

Pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan pesan damai. Dialog antarumat beragama perlu diperkuat, tidak hanya dalam forum resmi, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari di lingkungan masyarakat. Pendidikan toleransi sejak dini pun menjadi kunci agar generasi muda tumbuh dengan pemahaman bahwa keberagaman adalah kekayaan, bukan ancaman.

Menuju Hari Natal, marilah kita jadikan perayaan ini sebagai momentum memperteguh komitmen kebangsaan. Menghormati saudara-saudara kita yang merayakan Natal merupakan bagian dari praktik nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan saling menghargai, menjaga lisan dan tindakan, serta menolak segala bentuk intoleransi, kita turut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Akhirnya, Natal mengajarkan bahwa damai tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam sikap dan perbuatan nyata. Di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia, semangat Natal hendaknya menjadi cahaya yang menerangi jalan persatuan, solidaritas, dan harapan bagi masa depan bangsa yang lebih harmonis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image