Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Binnashiyah Nabilah Tulle

Pancasila: Dihafal Setiap Hari, Dijalankan Kapan?

Pendidikan dan Literasi | 2026-02-06 20:50:29

Pancasila bukan hal asing bagi mahasiswa. Kita menghafalnya sejak sekolah dasar, mengucapkannya saat upacara, dan mempelajarinya lagi di bangku kuliah. Namun, di tengah kondisi kebangsaan Indonesia saat ini, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apakah Pancasila benar-benar kita jalani, atau hanya berhenti sebagai hafalan wajib?

Realitas kebangsaan hari ini menunjukkan banyak ironi. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang diskusi justru sering dipenuhi konflik, ujaran kebencian, dan sikap saling menjatuhkan. Perbedaan pandangan politik, agama, maupun pilihan hidup kerap dianggap sebagai ancaman. Padahal, Pancasila dengan tegas menempatkan persatuan dan kemanusiaan sebagai nilai utama dalam kehidupan berbangsa.

Sebagai mahasiswa, kita hidup di tengah arus informasi yang deras. Sayangnya, tidak semua informasi disikapi secara kritis. Hoaks mudah menyebar, emosi sering kali lebih dominan daripada nalar, dan solidaritas sosial kerap kalah oleh ego kelompok. Situasi ini memperlihatkan bahwa tantangan kebangsaan hari ini bukan hanya soal kebijakan negara, tetapi juga soal sikap warganya, termasuk kita sebagai generasi muda.

Masalah lainnya adalah ketimpangan sosial yang masih terasa nyata. Di saat sebagian masyarakat menikmati kemajuan teknologi dan pendidikan, sebagian lainnya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini menjadi tamparan bagi sila keadilan sosial. Jika Pancasila hanya dibicarakan tanpa upaya nyata untuk memperjuangkan keadilan, maka ia kehilangan maknanya sebagai pedoman hidup.

Ironisnya, Pancasila sering kali diposisikan sebagai simbol formal. Ia hadir dalam spanduk, pidato, dan peringatan hari besar, tetapi kurang terasa dalam praktik sehari-hari. Padahal, mengamalkan Pancasila tidak selalu harus melalui tindakan besar. Bersikap adil, menghargai perbedaan pendapat, menolak diskriminasi, dan mau bergotong royong di lingkungan sekitar adalah bentuk nyata pengamalannya.

Di tengah kondisi kebangsaan yang mudah terpecah oleh perbedaan, Pancasila seharusnya menjadi alat refleksi, bukan sekadar doktrin. Mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan, bukan hanya dengan menyuarakan kritik, tetapi juga dengan memberi contoh sikap yang berlandaskan nilai Pancasila. Kritis tanpa menghina, berbeda tanpa membenci, dan aktif tanpa melupakan etika.

Pada akhirnya, masa depan kebangsaan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering Pancasila diucapkan, tetapi oleh sejauh mana nilai-nilainya benar-benar hidup dalam tindakan. Jika Pancasila terus berhenti pada hafalan, maka krisis kebangsaan akan terus berulang. Namun, jika ia dihayati dan dijalankan, Pancasila tetap relevan dan layak menjadi kompas bagi generasi muda.

 

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image