Generasi Sandwich ketika Anak Muda Indonesia Dipaksa Dewasa Lebih Cepat
Culture | 2025-12-23 15:46:43
Di Indonesia hari ini, menjadi dewasa bukan lagi soal umur. Banyak anak muda, termasuk mahasiswa, dipaksa matang lebih cepat oleh keadaan. Kuliah sambil bekerja, menahan keinginan pribadi, dan ikut menopang kebutuhan keluarga sudah menjadi cerita yang semakin lumrah. Fenomena ini dikenal sebagai generasi sandwich, yaitu generasi yang berada di tengah, menanggung kebutuhan orang tua sekaligus menyiapkan masa depan sendiri.
Istilah ini mungkin terdengar akademik, tetapi realitasnya sangat dekat dengan kehidupan sehari hari. Kita bisa menemukannya di bangku kampus, kelas malam, hingga tempat kerja paruh waktu yang dipenuhi mahasiswa. Mereka datang ke kampus bukan hanya membawa tas dan buku, tetapi juga tanggung jawab yang tidak ringan.
Bagi sebagian mahasiswa Indonesia, kuliah bukan sekadar mengejar nilai atau gelar. Ada tanggung jawab ekonomi yang berjalan bersamaan. Penghasilan dari magang, kerja paruh waktu, atau freelance sering kali bukan untuk gaya hidup, melainkan untuk membantu orang tua, membiayai adik sekolah, atau sekadar memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Banyak anak muda belajar menunda mimpi demi bertahan hari ini.
Tekanan yang dihadapi generasi sandwich tidak selalu terlihat. Selain beban ekonomi, ada tekanan mental yang pelan pelan menggerogoti. Di satu sisi, mereka dituntut untuk berprestasi dan mandiri. Di sisi lain, ada rasa bersalah jika belum mampu membantu keluarga secara maksimal. Tidak sedikit yang kelelahan, tetapi memilih diam karena merasa kondisi ini adalah kewajiban, bukan pilihan.
Sayangnya, masyarakat sering kali hanya melihat hasil akhir. Ketika ada mahasiswa yang terlambat lulus atau terlihat tertinggal dibanding teman sebayanya, penilaian negatif mudah muncul. Padahal, tidak semua orang berangkat dari titik yang sama. Ada beban yang tidak terlihat dan jarang dibicarakan secara terbuka.
Dalam budaya Indonesia, membantu orang tua adalah nilai yang dijunjung tinggi. Namun, ketika tanggung jawab itu sepenuhnya dibebankan kepada anak muda tanpa dukungan sistem yang memadai, nilai tersebut berubah menjadi tekanan struktural. Minimnya jaminan sosial dan ketimpangan ekonomi membuat fenomena generasi sandwich semakin meluas, terutama di kalangan kelas menengah ke bawah.
Generasi sandwich bukan cerita tentang kelemahan, melainkan tentang ketahanan. Namun, ketahanan tidak seharusnya dibayar dengan kelelahan yang berkepanjangan. Fenomena ini perlu dibicarakan agar tidak terus dianggap wajar dan dibiarkan tanpa solusi.
Di balik senyum anak muda Indonesia, ada cerita tentang tanggung jawab yang datang terlalu cepat. Generasi sandwich adalah potret daya tahan sosial kita, sekaligus pengingat bahwa membangun masa depan tidak seharusnya menjadi perjuangan seorang diri. Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya mengapa seseorang belum sampai, dan mulai bertanya beban apa yang sedang ia bawa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
