Lebih dari Sekadar Emas: Apa yang Sebenarnya Dipertaruhkan di SEA Games Thailand?
Olahraga | 2025-12-22 14:54:40
Setiap kali pesta olahraga Asia Tenggara digelar, publik selalu disuguhi dua hal yang sama: euforia medali dan polemik yang tak pernah benar-benar usai. SEA Games di Thailand kembali menegaskan satu kenyataan penting bahwa ajang ini tidak pernah sekadar soal siapa tercepat, terkuat, atau terbanyak mengoleksi emas. dia adalah panggung besar tempat nasionalisme, gengsi regional, dan keadilan kompetisi saling berkelindan.
Bagi negara-negara Asia Tenggara, SEA Games bukan hanya arena olahraga, melainkan simbol harga diri bangsa. Setiap kemenangan dibingkai sebagai prestasi nasional, sementara kekalahan kerap disikapi dengan emosi kolektif. Di sinilah olahraga berubah wajah: dari aktivitas fisik menjadi narasi politik dan identitas.
Olahraga yang Tidak Pernah Benar-Benar Netral
Sebagai tuan rumah, Thailand seperti negara lain sebelumnya memiliki kewenangan menentukan cabang olahraga yang dipertandingkan. Keputusan ini seringkali sah secara regulasi, namun memunculkan pertanyaan etis: sejauh mana olahraga masih menjunjung prinsip keadilan ketika kepentingan tuan rumah begitu dominan?
Fenomena ini bukan sekadar isu teknis, melainkan cermin ketimpangan kekuasaan dalam olahraga regional. Negara dengan sumber daya lebih besar memiliki peluang mengarahkan jalannya kompetisi, sementara negara lain harus beradaptasi dengan kondisi yang tidak selalu setara. SEA Games pun berubah dari ajang persatuan menjadi arena negosiasi kepentingan.
Indonesia dan Cermin Evaluasi Diri
Bagi Indonesia, SEA Games Thailand seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan hanya ajang hitung-hitungan peringkat. Prestasi atlet patut diapresiasi, namun yang lebih penting adalah keberlanjutan pembinaan olahraga. Ketergantungan pada cabang tertentu dan target jangka pendek sering membuat evaluasi struktural terabaikan.
Di tengah hiruk-pikuk medali, kita kerap lupa bertanya: apakah sistem olahraga nasional sudah benar-benar berpihak pada atlet? Apakah kesejahteraan, pendidikan, dan masa depan mereka dijamin setelah sorak sorai berakhir?
Antara Persatuan Kawasan dan Gengsi Nasional
SEA Games lahir dari semangat persatuan Asia Tenggara, sejalan dengan cita-cita kerja sama regional yang diusung ASEAN. Namun realitas di lapangan sering menunjukkan paradoks. Nasionalisme yang berlebihan justru menjauhkan semangat kebersamaan yang menjadi fondasi awal pesta olahraga ini.
Alih-alih menjadi jembatan persaudaraan, SEA Games kerap berubah menjadi panggung pembuktian superioritas. Media sosial memperkeruh suasana dengan narasi saling serang antarsuporter, memperlihatkan bahwa olahraga mudah sekali ditarik ke wilayah emosional dan politis.
Masa Depan SEA Games: Tetap Relevan atau Kehilangan Makna?
Pertanyaan pentingnya kini adalah: ke mana arah SEA Games ke depan? Jika ajang ini terus dipenuhi kontroversi soal keadilan, transparansi, dan kepentingan tuan rumah, maka legitimasinya akan terus dipertanyakan terutama oleh generasi muda yang makin kritis.
SEA Games Thailand memberi pelajaran berharga bahwa reformasi tata kelola olahraga regional bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa komitmen bersama untuk menjunjung fair play dan kesetaraan, SEA Games berisiko kehilangan maknanya sebagai simbol persatuan Asia Tenggara.
Pada akhirnya, emas memang berkilau, tetapi nilai olahraga jauh lebih berharga. Yang dipertaruhkan bukan hanya medali, melainkan integritas, keadilan, dan masa depan olahraga kawasan.
Penulis: Ahmad Fajar Romdhoni
Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
