Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image fateeya Azka Rohmad

Generasi yang Melangkah Maju, Tapi Diam-Diam Hilang Arah

Eduaksi | 2025-12-21 23:39:33
Gambaran seseorang berjalan di tengah jalan panjang dengan cahaya yang redup — ini bisa mewakili tema perjalanan hidup yang tampak terarah, tapi penuh refleksi seperti dalam tulisanmu.

Jakarta—

Pernahkah kau memperhatikan sekawanan burung yang terbang rapi di langit sore? Formasinya nyaris sempurna. Tidak ada yang menabrak, tidak ada yang tertinggal. Dari bawah, pemandangan itu tampak seperti keberhasilan yang tak terbantahkan.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: apakah burung itu benar-benar sedang memilih ke mana ia terbang, atau ia hanya setia mengikuti arah yang sudah disepakati oleh kawanan?

Entah mengapa, semakin lama aku memperhatikannya, semakin sulit untuk tidak melihat diri kita sendiri di sana.

Kita hidup di zaman yang bergerak cepat—bahkan terlalu cepat untuk sempat bertanya apakah kita benar-benar ingin bergerak sejauh itu. Hidup kita seperti berjalan di atas rel yang licin dan lurus. Sejak kecil, papan penunjuk arahnya sudah berdiri kokoh: sekolah yang baik, kampus yang diakui, pekerjaan yang menjanjikan, stabilitas, lalu “hidup mapan” sebagai penutup cerita.

Semuanya tampak logis. Semuanya tampak benar. Dan justru di situlah masalahnya mulai terasa.

Di balik kalender yang penuh, target yang tercapai, dan produktivitas yang dipuja, ada sesuatu yang jarang dibicarakan secara terbuka. Bukan kelelahan biasa—melainkan kegelisahan yang tidak punya nama. Ia muncul diam-diam, sering kali di waktu yang tidak dramatis: di perjalanan pulang, di sela-sela layar ponsel yang terus digeser, atau tepat sebelum tidur ketika suara dunia akhirnya mereda.

Pertanyaannya sederhana, tapi menghantui: “Aku sedang ke mana, sebenarnya?”

Ini bukan krisis besar yang meledak. Ini krisis yang pelan, nyaris sopan. Ia tidak menghancurkan hidup kita, hanya membuat kita merasa seperti tamu di dalamnya.

Banyak dari kita menjalani apa yang bisa disebut sebagai hidup yang terlalu benar. Checklistnya lengkap. Pendidikan, pekerjaan, citra diri—semua sesuai standar. Namun ada jarak tipis antara apa yang kita jalani dan apa yang kita rasakan. Seperti mengenakan pakaian yang ukurannya pas, tapi bahannya asing di kulit.

Aku teringat seorang perempuan muda yang pernah berkata, hampir berbisik, “Kalau semua ini sudah benar, kenapa aku masih merasa salah?”

Mungkin karena selama ini kita lebih sering menjalankan hidup, bukan menghidupinya.

Budaya kita hari ini sangat piawai memproduksi gambaran keberhasilan. Media sosial menjadi etalase raksasa tempat pencapaian dipajang rapi. Tanpa sadar, kita mulai mengukur diri bukan dari kedalaman hidup, tetapi dari seberapa baik kita terlihat hidup.

Kita mengejar sesuatu, lalu berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan baru bertanya: “Sejak kapan aku ingin ini?”

Di sinilah letak ironi terbesar manusia modern. Kita begitu takut gagal, hingga lupa bahwa ada nasib yang lebih sunyi: berhasil dalam hidup yang tidak pernah kita inginkan.

Kegagalan terlihat jelas—ia memalukan, terbuka, dan sering dibicarakan. Keberhasilan yang salah arah jauh lebih licin. Ia dipuji, didukung, bahkan dirayakan, sementara batin kita diam-diam menjauh.

Dan ketika rasa kosong itu muncul, kita tidak mempertanyakan jalannya. Kita mempertanyakan diri sendiri. Kita menyebutnya kurang bersyukur, kurang kuat, kurang tahan banting. Padahal mungkin masalahnya bukan pada diri kita, melainkan pada arah yang kita ikuti tanpa pernah benar-benar kita pilih.

Filsuf-filsuf lama sudah mengingatkan hal ini jauh sebelum dunia menjadi secepat sekarang. Sokrates menyebut hidup yang tidak pernah diperiksa sebagai hidup yang kehilangan martabatnya. Bukan karena hidup itu buruk, tetapi karena ia dijalani tanpa kesadaran.

Namun kesadaran tidak datang dari kebisingan. Ia muncul dari jeda.

Beberapa tahun lalu, dunia dipaksa berhenti. Bagi sebagian orang, jeda itu terasa menakutkan. Bagi yang lain, ia terasa seperti pertama kalinya bernapas tanpa dikejar-kejar. Banyak yang akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini teredam: suara batin yang pelan, tapi jujur.

Ada yang memilih berbelok. Tidak selalu ke arah yang lebih aman, tidak selalu ke arah yang lebih dipuji. Ada yang meninggalkan pekerjaan bergengsi, ada yang mengubah definisi suksesnya sendiri. Mereka tidak selalu lebih kaya, tapi sering kali terdengar lebih hadir saat bercerita tentang hidupnya.

Dan mungkin di situlah pelajaran kecil itu tersembunyi: hidup tidak selalu meminta kita untuk naik lebih tinggi—kadang ia hanya meminta kita untuk lebih dekat.

Tulisan ini bukan ajakan untuk memberontak. Bukan pula manifesto untuk meninggalkan segalanya.

Ini hanyalah undangan yang sangat manusiawi: untuk berhenti sejenak dari mode otomatis.

Untuk bertanya, dengan jujur dan tanpa tuntutan jawaban cepat: seberapa jauh jarak antara hidup yang kita jalani dan hidup yang kita rindukan? Suara siapa yang paling sering kita dengarkan? Dan kapan terakhir kali kita benar-benar mendengar diri sendiri?

Mungkin jawabannya tidak akan mengubah hidupmu hari ini. Tidak apa-apa. Kesadaran tidak selalu datang sebagai peta—kadang ia hanya hadir sebagai pengingat.

Bahwa di balik semua peran yang kita mainkan, di balik semua arah yang kita ikuti, ada seseorang yang sedang berjalan di dalam tubuh ini.

Dan mengenal siapa yang berjalan itu adalah awal dari perjalanan yang sesungguhnya.

Tarik napas. Biarkan sunyi sebentar. Lalu tanyakan, bukan dengan suara keras, tapi dengan kejujuran paling lembut:

“Apakah ini hidupku?”

Jawabannya mungkin tidak memberimu arah. Ia tidak akan langsung menunjukkan jalan, apalagi menjanjikan kepastian. Namun ia akan melakukan sesuatu yang jauh lebih penting: membangunkanmu dari hidup yang dijalani setengah sadar.

Jika suatu hari nanti kamu berhenti dan menoleh ke belakang, apakah kamu ingin melihat jejak langkahmu sendiri— atau hanya bukti bahwa kamu sangat pandai mengikuti arah orang lain?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image