Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image pdpm kabupaten pekalongan

Mengapa Banyak Orang Berhenti Peduli Saat Hidup Sudah Nyaman?

Khazanah | 2026-01-24 15:40:55

Ada satu fase dalam hidup yang sering dianggap sebagai keberhasilan: fase ketika hidup terasa aman, stabil, dan serba cukup. Kebutuhan, tercapainya rutinitas tertata, dan masa depan terlihat lebih jelas. Namun tanpa disadari, fase ini justru sering menjadi titik balik memudarnya kepedulian.

Di masa-masa awal perjuangan hidup, banyak orang memiliki idealisme yang kuat. Waktu dan tenaga dicurahkan untuk berbagai aktivitas bermakna—entah itu kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, gerakan kemanusiaan, atau upaya memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini benar. Saat kondisi masih terbatas, kepedulian terasa sebagai kebutuhan, bukan beban.

Namun seiring berjalannya waktu, keadaan berubah.

Kesebukan meningkat, tanggung jawab bertambah, dan prioritas bergeser. Perlahan, aktivitas yang dulu dijalani dengan penuh semangat mulai ditinggalkan. Undangan kegiatan yang sering terlewat, ajakan diskusi ditunda, dan komitmen lama kalah oleh rutinitas baru.

Bukan karena seseorang menjadi tidak baik, namun karena kenyamanan sering membuat manusia lupa untuk terus peduli.

Zona nyaman memberi rasa aman, tetapi juga berpotensi sensitif. Kepedulian yang tidak dirawat akan memudar, digantikan oleh sikap “asal hidup saya baik-baik saja”. Padahal, kenyamanan seharusnya memberi ruang lebih luas untuk berbagi, bukan menjadi alasan untuk menjauh.

Nilai kepedulian bukan sejati terletak pada seberapa besar peran yang pernah dilakukan di masa lalu, melainkan seberapa besar nilai konsistensi yang dijaga dalam berbagai fase kehidupan. Kontribusi kecil yang berkelanjutan jauh lebih bermakna daripada semangat besar yang hanya hadir sesaat.

Hidup memang menuntut keseimbangan. Keluarga, pekerjaan, dan tanggung jawab pribadi adalah amanah yang tidak bisa diabaikan. Namun kepedulian sosial, keberanian, dan kesediaan untuk tetap memberi manfaat juga bagian dari tanggung jawab sebagai manusia.

Pertanyaannya kemudian menjadi sangat pribadi:

apakah kenyamanan membuat kita berhenti peduli, atau justru seharusnya mendorong kita untuk memberi lebih banyak?

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan ajakan untuk bercermin. Karena sering kali, perjuangan tidak berhenti karena kalah, tetapi karena kita terlalu lama merasa sudah cukup.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image