Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Maryani Al-Hikmah

Beban yang Tak Seharusnya Dipikul Seorang Ibu: Fatherless di Tengah Ayah yang Masih Ada

Curhat | 2026-04-19 05:51:58
Ilustrasi seorang ibu bersama ketiga buah hatinya

Dalam banyak keluarga, perceraian sering menyisakan luka yang panjang, terutama bagi anak. Salah satu dampak yang kerap luput dibahas adalah fatherless, ketika anak tumbuh tanpa kehadiran ayah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan tanggung jawab.

Dalam kondisi seperti ini, sering kali ibu mengambil peran ganda. Ia bukan hanya menjadi pengasuh, tetapi juga pencari nafkah, pendidik utama, pelindung, bahkan memikul beban yang sejatinya adalah kewajiban ayah. Perempuan mengambil tanggung jawab yang awalnya bukan ditetapkan untuknya, bukan karena melampaui kodrat, tetapi karena keadaan memaksanya.

Dalam Islam, ayah memiliki amanah besar terhadap nafkah, pendidikan, dan penjagaan keluarga. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an, laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya (QS. An-Nisa: 34), yang maknanya mengandung tanggung jawab, bukan sekadar otoritas.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika ayah telah menikah lagi, tetapi tanggung jawab terhadap anak dari pernikahan sebelumnya terabaikan. Pernikahan baru tidak menggugurkan kewajiban lama. Hak anak tetap melekat, dan amanah orang tua tidak putus oleh perceraian.

Fenomena ini perlu dilihat bukan hanya sebagai masalah keluarga, tetapi persoalan sosial dan moral. Ketika ibu terus memikul beban sendirian, yang diuji bukan hanya ketahanannya, tetapi juga masa depan anak-anak.

Namun di tengah keadaan itu, banyak perempuan bertahan dengan luar biasa. Mereka memikul yang berat, menjaga anak tetap tumbuh, dan berusaha menutup kekosongan yang ditinggalkan. Ini bukan semata kisah beban perempuan, tetapi pengingat bahwa setiap kewajiban yang ditinggalkan seseorang, hampir selalu dipikul orang lain.

Pada akhirnya, isu fatherless bukan hanya tentang ketiadaan ayah, tetapi tentang tanggung jawab yang dialihkan, amanah yang diabaikan, dan perempuan yang terpaksa memikul lebih dari yang semestinya. Ini bukan keadaan ideal, tetapi realitas yang perlu disadari bersama.

Mari bangun peradapan umat bersama Sekolah Tinggi Agama Islam Dirosat Islamiyah Al Hikmah Jakarta, menjadi sarjana muslim unggul berwawasan global.

Penerimaan Mahasiswa Baru:

Program Studi : Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT), Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)

Tersedia kelas Reguler, kelas Karyawan dan Hybrid

Pendaftaran gelombang 1: 10 Maret-02 Mei 2026

Link Pendaftaran: pmb.alhikmah.ac.id

Konsultasi Gratis: WA 082118184747

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image