Bahasa di Zaman Digital: Antara Kreativitas, Identitas, dan Tantangan Literasi
Pendidikan | 2025-12-20 12:19:12
Bahasa tidak pernah diam. Ia bergerak, berubah, dan beradaptasi seiring perubahan zaman. Di era digital hari ini, perubahan bahasa berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan dekade sebelumnya. Media sosial, aplikasi percakapan, dan ruang digital lainnya telah menjadi “laboratorium linguistik” tempat lahirnya bentuk-bentuk bahasa baru yang unik, kreatif, sekaligus problematis. Fenomena kebahasaan masa kini tidak lagi sekadar soal benar dan salah, tetapi juga berkaitan dengan identitas, efisiensi komunikasi, dan dinamika sosial. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga cermin zaman.
Media Sosial dan Lahirnya Ragam Bahasa Baru
Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) telah melahirkan ragam bahasa yang khas. Munculnya istilah seperti spill, healing, flexing, gas, atau ngab menunjukkan bagaimana bahasa Indonesia berinteraksi intens dengan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, serta kreativitas penuturnya sendiri.
Dalam kajian linguistik, fenomena ini dikenal sebagai serapan, alih kode, dan campur kode. Menariknya, bentuk-bentuk tersebut tidak selalu mengikuti kaidah baku, tetapi justru menjadi efektif karena kontekstual dan mudah dipahami oleh kelompok pengguna tertentu, terutama generasi muda.
Namun, di sisi lain, kebiasaan menggunakan bahasa singkat, akronim berlebihan, dan struktur kalimat yang tidak lengkap berpotensi menurunkan sensitivitas berbahasa, khususnya dalam konteks formal dan akademik
Bahasa Gaul: Ancaman atau Kekayaan?
Bahasa gaul sering kali dipandang sebagai ancaman bagi kelestarian bahasa Indonesia baku. Kekhawatiran ini tidak sepenuhnya keliru, terutama ketika ragam nonbaku mendominasi ruang publik formal, seperti pemberitaan, pendidikan, atau dokumen resmi.
Akan tetapi, dari sudut pandang linguistik, bahasa gaul justru menandakan vitalitas bahasa. Bahasa yang hidup adalah bahasa yang digunakan, dimodifikasi, dan dinegosiasikan oleh penuturnya. Selama bahasa Indonesia baku tetap diajarkan dan digunakan pada tempatnya, keberadaan bahasa gaul seharusnya dipahami sebagai pelengkap, bukan pesaing.
Yang menjadi tantangan utama bukanlah keberagaman bahasa, melainkan ketidakmampuan penutur membedakan konteks penggunaan bahasa.
Tantangan Literasi di Era Cepat
Di era serba cepat, bahasa sering kali dikorbankan demi kecepatan. Judul sensasional, kalimat ambigu, dan ejaan yang diabaikan menjadi pemandangan umum. Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas literasi, terutama kemampuan membaca kritis dan menulis argumentatif.
Padahal, bahasa yang baik bukan sekadar soal estetika, melainkan juga soal ketepatan berpikir. Kalimat yang kacau sering kali mencerminkan gagasan yang tidak tertata. Oleh karena itu, menjaga kualitas bahasa berarti menjaga kualitas nalar publik.
Media massa, institusi pendidikan, dan tokoh publik memiliki peran strategis dalam memberikan teladan penggunaan bahasa yang baik, tanpa harus terkesan kaku atau elitis.
Menjaga Keseimbangan Bahasa
Tantangan kebahasaan masa kini menuntut keseimbangan. Di satu sisi, kita perlu terbuka terhadap dinamika dan kreativitas bahasa. Di sisi lain, kita tetap harus menjaga kaidah bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa ilmu
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
