Sepenggal Cerita di Balik Glorifikasi Kesibukan
Gaya Hidup | 2025-12-19 12:44:06
Kiranya pertanyaan ini dirasa perlu untuk dilayangkan kepada kita, “Kapan terakhir kali kamu menjawab ‘baik-baik saja’ tanpa harus menyelipkan kalimat, ‘tapi lagi hectic banget sih sejujurnya’?. Tidak dapat kita pungkiri bersama bahwa sejatinya kita sedang hidup di zaman di mana kesibukan menjelma menjadi sebuah prestasi dan label diri. Bahkan tidak berlebihan apabila disebut sebagai identitas yang wajib disematkan agar terlihat ‘bervalue’. Orang tak lagi menguliti dan melayangkan pertanyaan kabar dengan tulus, tapi lebih tertarik pada seberapa banyak to-do list yang sudah tercentang dan berhasil terlaksana per hari ini.
Perlahan label ini menyamar menjadi badge of honor, sebuah simbol bahwa hidupmu sedang ‘on track’, tapi tunggu dulu, on track ke mana sebenarnya?. Dalam tubuh media sosial hari ini kesibukan dikurasi sedemikian rupa, Instagram stories misalnya, diramaikan dengan banyak slide yang memunculkan kondisi kesibukan kita, penuh akan jadwal meeting back-to-back, LinkedIn yang diwarnai post ‘grateful for the grind’, Tiktok yang ramai akan tips ‘Bagaimana cara agar mampu produktif 25 jam sehari’. Banyak yang berbangga diri dengan jadwal yang tidak memiliki satu pun celah kosong untuk sekadar mengambil nafas kembali dan menepi dari kesibukan, mereka memaknai jeda sebagai sebuah aib. Rapat beruntun yang merajai hari, dari pagi sampai malam, bahkan rela lembur hingga subuh. Dengan disisipkan caption sederhana, namun menusuk : ‘Laporan produktivitas hari ini’ atau ‘Another hustle’.
Budaya kerja modern ini sebetulnya sudah banyak dipopulerkan, diterapkan, dan berlaku di banyak startup dan corporate culture telah berhasil merasuk dan menanamkan mantra implisit yang merusak, bahwa kamu baru berharga kalau sibuk. Istirahat dinilai kemewahan yang hanya boleh dinikmati setelah ‘berhasil’ atau ‘rampung’, melambat atau jeda terasa seperti sebuah kesalahan fatal yang akan membuat dirimu tertinggal dan jauh dari kompetisi.
Hal tersebut lah yang sebetulnya memunculkan narasi burnout ke permukaan menjadi sebuah terminologi yang diadopsi sehari-hari. WHO bahkan telah mengakuinya sebagai occupational phenomenon sejak 2019. Namun alih-alih menjadi alarm peringatan, banyak yang justru menjadikannya badge, seolah burnout adalah keniscayaan dan harga yang sudah sepatutnya dibayar demi sebuah kesuksesan.
Ada semacam ironi di sini, bahwa kita mengisi hari dengan beragam aktivitas justru supaya tidak sempat merasa. Supaya tidak sempat menyadari betapa banyak hal yang belum kita pahami akan diri sendiri, tentang apa yang sesungguhnya kita butuhkan agar tetap utuh dan penuh menjadi manusia. Padahal, bukankah justru dalam situasi hening, dalam jeda dan menepi dari segala bentuk pergulatan duniawi, kita mampu menghadirkan ruang paling jujur dan terbuka untuk menyelami diri sendiri dan mengenali makna hidup? Dalam situasi itulah kita baru bisa mendengar suara hati yang selama ini seringkali tertimbun dan terkungkung oleh pikiran-pikiran akan agenda yang panjang.
Satu hal yang perlu sama-sama menjadi sorotan dalam tulisan ini, bahwa produktivitas seharusnya berarti menghasilkan sebuah nilai, bukan sekadar menghabiskan dan menyempitkan waktu. Tapi entah sejak kapan, produktivitas telah tereduksi menjadi seberapa penuh catatan kalendermu, seberapa banyak project yang telah kamu handle, dan seberapa cepat kamu merampungkan tugasmu.
Hakikat daripada produktivitas bukan tentang how much you do, tapi how well you do it—dan lebih penting lagi, why you do it. Apakah pekerjaan ini sebetulnya aligned dengan nilaimu? Apakah dengannya, dapat memberimu energi atau justru malah menguras dan membuat dirimu tidak memiliki waktu luang untuk menghabiskannya bersama orang tersayang? Seuntaian pertanyaan ini jarang diajukan, karena kita terlalu sibuk untuk berhenti dan bertanya."
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
