Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hamidatul Fithriyah

Lebih dari Sekadar Teori: Peran Ahli Gizi yang Terlupakan

Agama | 2025-12-18 08:54:18

Profesi ahli gizi kerap kali dianggap mudah, hanya tentang menghitung kalori dan memilih makanan sehat. Namun, pengalaman saya mengamati di Puskesmas Kalijudan, Surabaya, mengubah cara berpikir saya. Peran ahli gizi jauh lebih luas daripada yang dibayangkan. Mereka bukan hanya bertugas di ruang konsultasi, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan layanan kesehatan, mulai dari tugas administrasi hingga program yang melibatkan masyarakat.

Komunikasi adalah inti dari segala tugas yang dilakukan. Ahli gizi tidak hanya menyampaikan informasi tentang pola makan yang sehat, tetapi juga membangun kepercayaan, memberi motivasi, dan menunjukkan empati. Penjelasan tentang sembelit, penggunaan probiotik, atau pola makan seimbang akan lebih bermakna jika disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan penuh kesabaran. Tanpa komunikasi yang efektif, ilmu gizi hanya akan tetap berada di tingkat teori, bukan menjadi alat perubahan hidup nyata.

Saat mengamati mahasiswa gizi yang sedang menjalani magang di puskesmas, saya menemukan bahwa pengalaman lapangan memiliki tantangan tersendiri. Mereka terlibat dalam program pemberian makanan tambahan, input data, dan edukasi kepada masyarakat. Semua hal itu membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik agar pesan teknis bisa dengan mudah dipahami oleh masyarakat. Dari sini saya belajar bahwa menjadi ahli gizi bukan hanya tentang memahami nutrisi, tetapi juga tentang memahami manusia di balik setiap piring makanan.

Konteks nasional menunjukkan betapa pentingnya peran ahli gizi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting berhasil menurun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024, pertama kalinya di bawah 20%. Pemerintah menargetkan angka tersebut terus ditekan hingga mencapai 14,2% pada 2029 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Target ini tidak mungkin tercapai tanpa peran tenaga gizi di lini depan, terutama di puskesmas yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Selain stunting, Indonesia masih menghadapi masalah gizi ganda.Di satu sisi masih ada kelompok yang mengalami gizi kurang, sementara di sisi lain masalah obesitas dan penyakit tidak menular seperti diabetes terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa peran ahli gizi tidak hanya fokus pada anak-anak tetapi juga seluruh siklus kehidupan: ibu hamil, balita, remaja, hingga lansia. Dengan komunikasi yang efektif, tenaga gizi bisa menghubungkan kebijakan pemerintah dengan perilaku sehari-hari masyarakat, sehingga pesan kesehatan tidak hanya berada di kertas, tetapi benar-benar berdampak dalam pola hidup.

Di tingkat global, masalah gizi tetap menjadi perhatian besar. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) menetapkan Zero Hunger dan Good Health and Well-being sebagai target penting yang harus tercapai pada tahun 2030. Indonesia, sebagai bagian dari masyarakat dunia, pun memiliki tanggung jawab untuk ikut mewujudkan tujuan tersebut. Tenaga gizi di puskesmas, meski bekerja di tingkat lokal, sebenarnya sedang berkontribusi nyata dalam mencapai tujuan-tujuan global ini.

Layanan kesehatan tidak dapat berjalan sendiri tanpa kerja sama dari berbagai profesi. Dokter, perawat, bidan, dan tenaga gizi saling melengkapi dalam memberikan pelayanan yang menyeluruh. Meskipun ahli gizi di puskesmas mungkin jarang diperhatikan, dari balik meja kecil mereka membantu masyarakat dalam membangun kebiasaan hidup sehat. Komunikasi yang efektif adalah bentuk nyata dari pelayanan terapeutik: bukan hanya keterampilan berbicara, melainkan cara menyentuh hati dan menumbuhkan kesadaran.

Sebagai mahasiswa baru yang sedang melakukan studi lapangan, pengalaman ini membuka mata saya. Saya menyadari bahwa ilmu gizi tidak hanya tentang angka dan tabel, tetapi juga tentang manusia dan interaksi. Komunikasi menjadi jembatan antara teori dan praktik, antara ilmu dan rasa peduli. Dari puskesmas sederhana di Surabaya, saya belajar bahwa senyuman, empati, dan kata-kata yang menenangkan bisa menjadi terapi yang tidak kalah pentingnya dari rekomendasi gizi itu sendiri.

Pengalaman observasi ini membuat saya yakin bahwa pekerjaan ahli gizi bukan hanya soal teori di dalam kelas. Di balik meja kecil di puskesmas, mereka melakukan tugas yang sering diabaikan, tetapi sebenarnya menjadi bagian penting dari kesehatan masyarakat. Saatnya kita memberi perhatian lebih kepada para ahli gizi, karena dengan berkomunikasi dengan baik, mereka membantu menciptakan masyarakat yang lebih sehat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image