Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Acep Lesmana

Dilema Naturalisasi: Akselerasi Prestasi atau Ancaman Regenerasi?

Olahraga | 2025-12-17 14:01:54

Bagi masyarakat Indonesia, sepakbola bukan sekadar olahraga sebelas lawan sebelas di atas lapangan hijau. Ia adalah sebuah napas, denyut nadi, dan identitas yang sudah mendarah daging. Sejak kecil, kita terbiasa melihat anak-anak berlari tanpa alas kaki di lapangan tanah liat, anak-anak yang berlarian digang sempit sambil menendang bola plastik, hingga orang tua yang rela begadang demi menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Banyaknya lapangan sepakbola diseluruh pejuru negeri ini menjadi bukti ukti otentik bahwa kecintaan kita pada si kulit bundar tidak perlu diragukan lagi.

Berbicara terkait rasa suka terhadap sepakbola juga tidak luput dari adanya klub lokal. Di jawabarat sendiri, khususnya bandung. Persib Bandung bukan sekadar klub, tapi identitas. Masyarakat Sunda merasa terwakili identitasnya ketika "Maung Bandung" bertarung di kasta tertinggi liga Indonesia. Begitu pula di daerah lain, mulai dari semen padang, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya hingga psbs biak. Klub daerah adalah rumah pertama bagi emosi kita, tempat di mana loyalitas tumbuh berdasarkan kedekatan geografis dan budaya.

Namun diatas semua itu, Timnas Indonesia yang menyatukan kita semua. Ketika Garuda bertanding, identitas "Bobotoh", "The Jak", atau "Bonek" sejenak luruh, berganti menjadi Merah Putih. Ingat euforia kualifikasi Piala Dunia kemarin? Dukungan masyarakat begitu meluap, memenuhi stadion dan membanjiri media sosial dengan doa-doa tulus. Namun, kejutan dan harapan besar itu seringkali harus berujung pada pil pahit. Kegagalan demi kegagalan yang kita alami memicu sebuah perdebatan dan pertanyaan besar, kenapa prestasi timnas kita masih mentok begitu-begitu saja?

Polemik besar dating ketika Indonesia mulai banyak menaturalisasi pemain keturunannya di eropa, mulai dari sandy walsh, Jordi amat, jay idjes sampai emil audero, dan sederet pemain keturunan lainnya. Harus diakui secara jujur, kehadiran mereka memberikan warna dan kualitas permainan yang berbeda. Kita melihat standar operan yang lebih akurat, visi bermain yang lebih dewasa, hingga mentalitas Eropa yang perlahan mulai menular ke skuad Garuda. Prestasi kita di kancah Asia perlahan menanjak, dan peringkat FIFA kita pun ikut terkerek naik.

Kehadiran para pemain ini memang memberikan akselerasi prestasi yang nyata. Bagi saya, melihat Jay Idzes yang begitu tenang di lini belakang atau Thom Haye yang mengatur ritme di tengah dan bahkan ivar jenner pemain muda yang mampu mengendalikan lapangan tengah adalah sebuah tontonan yang mahal. mereka adalah profesional yang membawa standar baru ke dalam tim. Indonesia yang dulunya sering dianggap remeh oleh raksasa Asia, kini mulai dipandang sebagai kuda hitam yang memiliki potensi mengejutkan. Rasanya, impian melihat Indonesia di panggung dunia bukan lagi sekadar bualan menjelang tidur.

Namun, dibalik gemerlapnya prestasi timnas Indonesia yang dihiasi dengan pemain naturalisasi ini, muncullah desas-desus bahwa gelombang naturalisasi ini adalah "obat penenang" yang menyamarkan penyakit kronis dalam sistem sepak bola kita. Banyak yang merasa bahwa jalan pintas ini perlahan namun pasti mulai "membunuh" mimpi anak-anak lokal yang sejak kecil bercita-cita mengenakan jersey Garuda. Dalam benak saya selaku penggemar sepakbola pun terkadang hal itu ada benarnya, karena dengan mayoritas pemain naturalisasi tersebut bisa saja bakat muda Indonesia dari sabang sampai Merauke tidak diperhitungkan lagi.

Bayangkan perasaan seorang pemain muda di akademi lokal yang setiap hari berlatih keras di bawah terik matahari, hanya untuk menyadari bahwa pintu Timnas seolah tertutup karena posisinya sudah diisi oleh pemain yang lahir dan besar di sistem pembinaan Eropa. Ada kekhawatiran yang sah mengenai ancaman regenerasi ini. jika kita terlalu bergantung pada pemain keturunan, apakah kita masih memiliki motivasi untuk membenahi kompetisi domestik dan sekolah sepak bola kita sendiri? Atau bahkan memang ini rencana federasi agar bisa korupsi?

Inilah dilema sepakbola Indonesia yang sessungguhnya. Di satu sisi, kita haus akan prestasi internasional yang sudah puluhan tahun absen. Kita ingin Indonesia bangga, kita ingin dunia melihat bahwa Garuda bisa terbang tinggi. Dan naturalisasi adalah kendaraan tercepat untuk sampai ke sana. Namun di sisi lain, sepak bola adalah tentang proses panjang pembinaan generasi muda. Sebuah tim nasional idealnya adalah puncak dari piramida pembinaan yang sehat di dalam negeribukan sekadar kumpulan pemain berbakat yang dipanggil pulang dari liga-liga luar negeri.

Saya setuju dan percaya terhadap proses naturalisasi, tapi dengan cara mengambil pemain naturalisasi yang masih muda dan berpengalaman sehingga dapat memperkuat tim nasional Indonesia dalam jangka waktu yang Panjang. Jika kita cerdas, kehadiran pemain seperti Jay Idzes justru harus dijadikan sebagai katalis atau guru bagi pemain lokal. Kehadiran mereka seharusnya menaikkan standar kompetisi. Pemain lokal harus merasa tertantang, bukan terancam. Mereka harus belajar bagaimana cara hidup atlet profesional, bagaimana menjaga pola makan, dan bagaimana disiplin taktik dilakukan.

Pemain local juga seharusnya bisa mencontoh risky ridho dan ricky kambuaya yang selalu konsisten dipanggil tim nasional dan mampu memberikan penempilan terbaiknya. Di tengah gempuran para pemain naturalisasi, justru mereka selalu mendapatkan menit bermain di timnas Indonesia.

Menurut pandangan pribadi saya, keseimbangan adalah kuncinya. Kita boleh menggunakan pemain naturalisasi sebagai solusi jangka pendek untuk mengangkat nama bangsa di kancah internasional, namun porsi untuk bakat lokal tidak boleh dihilangkan. PSSI dan pemerintah harus tetap konsisten membangun infrastruktur dan memperbaiki sistem liga. Jangan biarkan naturalisasi menjadi alasan bagi kita untuk memaklumi pembinaan usia dini yang jalan di tempat. Kita butuh prestasi, tapi kita juga butuh jati diri yang tumbuh dari tanah kita sendiri.

Pada akhirnya, dilema ini kembali ke kita sebagai suporter. Saya pilih dukung timnas apa pun wujudnya, tapi tak henti kritik agar naturalisasi jadi jembatan, bukan tembok. Kalau kita diam saja, Garuda akan terus terbang setengah hati.

Bagi masyarakat Indonesia, sepakbola bukan sekadar olahraga sebelas lawan sebelas di atas lapangan hijau. Ia adalah sebuah napas, denyut nadi, dan identitas yang sudah mendarah daging. Sejak kecil, kita terbiasa melihat anak-anak berlari tanpa alas kaki di lapangan tanah liat, anak-anak yang berlarian digang sempit sambil menendang bola plastik, hingga orang tua yang rela begadang demi menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Banyaknya lapangan sepakbola diseluruh pejuru negeri ini menjadi bukti ukti otentik bahwa kecintaan kita pada si kulit bundar tidak perlu diragukan lagi.

Berbicara terkait rasa suka terhadap sepakbola juga tidak luput dari adanya klub lokal. Di jawabarat sendiri, khususnya bandung. Persib Bandung bukan sekadar klub, tapi identitas. Masyarakat Sunda merasa terwakili identitasnya ketika "Maung Bandung" bertarung di kasta tertinggi liga Indonesia. Begitu pula di daerah lain, mulai dari semen padang, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya hingga psbs biak. Klub daerah adalah rumah pertama bagi emosi kita, tempat di mana loyalitas tumbuh berdasarkan kedekatan geografis dan budaya.

Namun diatas semua itu, Timnas Indonesia yang menyatukan kita semua. Ketika Garuda bertanding, identitas "Bobotoh", "The Jak", atau "Bonek" sejenak luruh, berganti menjadi Merah Putih. Ingat euforia kualifikasi Piala Dunia kemarin? Dukungan masyarakat begitu meluap, memenuhi stadion dan membanjiri media sosial dengan doa-doa tulus. Namun, kejutan dan harapan besar itu seringkali harus berujung pada pil pahit. Kegagalan demi kegagalan yang kita alami memicu sebuah perdebatan dan pertanyaan besar, kenapa prestasi timnas kita masih mentok begitu-begitu saja?

Polemik besar dating ketika Indonesia mulai banyak menaturalisasi pemain keturunannya di eropa, mulai dari sandy walsh, Jordi amat, jay idjes sampai emil audero, dan sederet pemain keturunan lainnya. Harus diakui secara jujur, kehadiran mereka memberikan warna dan kualitas permainan yang berbeda. Kita melihat standar operan yang lebih akurat, visi bermain yang lebih dewasa, hingga mentalitas Eropa yang perlahan mulai menular ke skuad Garuda. Prestasi kita di kancah Asia perlahan menanjak, dan peringkat FIFA kita pun ikut terkerek naik.

Kehadiran para pemain ini memang memberikan akselerasi prestasi yang nyata. Bagi saya, melihat Jay Idzes yang begitu tenang di lini belakang atau Thom Haye yang mengatur ritme di tengah dan bahkan ivar jenner pemain muda yang mampu mengendalikan lapangan tengah adalah sebuah tontonan yang mahal. mereka adalah profesional yang membawa standar baru ke dalam tim. Indonesia yang dulunya sering dianggap remeh oleh raksasa Asia, kini mulai dipandang sebagai kuda hitam yang memiliki potensi mengejutkan. Rasanya, impian melihat Indonesia di panggung dunia bukan lagi sekadar bualan menjelang tidur.

Namun, dibalik gemerlapnya prestasi timnas Indonesia yang dihiasi dengan pemain naturalisasi ini, muncullah desas-desus bahwa gelombang naturalisasi ini adalah "obat penenang" yang menyamarkan penyakit kronis dalam sistem sepak bola kita. Banyak yang merasa bahwa jalan pintas ini perlahan namun pasti mulai "membunuh" mimpi anak-anak lokal yang sejak kecil bercita-cita mengenakan jersey Garuda. Dalam benak saya selaku penggemar sepakbola pun terkadang hal itu ada benarnya, karena dengan mayoritas pemain naturalisasi tersebut bisa saja bakat muda Indonesia dari sabang sampai Merauke tidak diperhitungkan lagi.

Bayangkan perasaan seorang pemain muda di akademi lokal yang setiap hari berlatih keras di bawah terik matahari, hanya untuk menyadari bahwa pintu Timnas seolah tertutup karena posisinya sudah diisi oleh pemain yang lahir dan besar di sistem pembinaan Eropa. Ada kekhawatiran yang sah mengenai ancaman regenerasi ini. jika kita terlalu bergantung pada pemain keturunan, apakah kita masih memiliki motivasi untuk membenahi kompetisi domestik dan sekolah sepak bola kita sendiri? Atau bahkan memang ini rencana federasi agar bisa korupsi?

Inilah dilema sepakbola Indonesia yang sessungguhnya. Di satu sisi, kita haus akan prestasi internasional yang sudah puluhan tahun absen. Kita ingin Indonesia bangga, kita ingin dunia melihat bahwa Garuda bisa terbang tinggi. Dan naturalisasi adalah kendaraan tercepat untuk sampai ke sana. Namun di sisi lain, sepak bola adalah tentang proses panjang pembinaan generasi muda. Sebuah tim nasional idealnya adalah puncak dari piramida pembinaan yang sehat di dalam negeribukan sekadar kumpulan pemain berbakat yang dipanggil pulang dari liga-liga luar negeri.

Saya setuju dan percaya terhadap proses naturalisasi, tapi dengan cara mengambil pemain naturalisasi yang masih muda dan berpengalaman sehingga dapat memperkuat tim nasional Indonesia dalam jangka waktu yang Panjang. Jika kita cerdas, kehadiran pemain seperti Jay Idzes justru harus dijadikan sebagai katalis atau guru bagi pemain lokal. Kehadiran mereka seharusnya menaikkan standar kompetisi. Pemain lokal harus merasa tertantang, bukan terancam. Mereka harus belajar bagaimana cara hidup atlet profesional, bagaimana menjaga pola makan, dan bagaimana disiplin taktik dilakukan.

Pemain local juga seharusnya bisa mencontoh risky ridho dan ricky kambuaya yang selalu konsisten dipanggil tim nasional dan mampu memberikan penempilan terbaiknya. Di tengah gempuran para pemain naturalisasi, justru mereka selalu mendapatkan menit bermain di timnas Indonesia.

Menurut pandangan pribadi saya, keseimbangan adalah kuncinya. Kita boleh menggunakan pemain naturalisasi sebagai solusi jangka pendek untuk mengangkat nama bangsa di kancah internasional, namun porsi untuk bakat lokal tidak boleh dihilangkan. PSSI dan pemerintah harus tetap konsisten membangun infrastruktur dan memperbaiki sistem liga. Jangan biarkan naturalisasi menjadi alasan bagi kita untuk memaklumi pembinaan usia dini yang jalan di tempat. Kita butuh prestasi, tapi kita juga butuh jati diri yang tumbuh dari tanah kita sendiri.

Pada akhirnya, dilema ini kembali ke kita sebagai suporter. Saya pilih dukung timnas apa pun wujudnya, tapi tak henti kritik agar naturalisasi jadi jembatan, bukan tembok. Kalau kita diam saja, Garuda akan terus terbang setengah hati.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image