Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hasbi Rahmatullah

Rupiah Tanpa Ribuan: Siapkah Ekonomi Kita?

Bisnis | 2025-12-17 00:13:06

Seiring berjalannya waktu, struktur ekonomi dunia terus mengalami perubahan untuk menyesuaikan dengan jalannya transaksi masyarakat yang semakin cepat. redenominasi rupiah, atau penyederhanaan nilai mata uang tanpa mengurangi daya belinya, kini kembali terangkat di tengah upaya pemerintah untuk memperbarui sistem keuangan nasional. Kehadiran kebijakan ini digadang-gadang sebagai langkah strategis untuk menyeimbangkan rupiah dengan mata uang global lainnya, mengingat jumlah digit nol yang terlalu banyak pada mata uang kita sering kali dianggap tidak efisien dan memperumit pencatatan transaksi dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Redenominasi yang bertujuan menyederhanakan mata uang. misalnya mengubah Rp1.000 menjadi Rp1. membawa angin segar bagi efisiensi akuntansi dan sistem pembayaran digital. Namun, di balik potensi dampak positif tersebut, tentu terdapat kekhawatiran yang secara tidak langsung dirasakan oleh masyarakat. Meskipun menjanjikan efisiensi, kebijakan ini memiliki risiko besar yang perlu diawasi, kebijakan ini memerlukan pertimbangan matang terkait kesiapan dan pemahaman publik. Beberapa ahli beranggapan bahwa dengan jumlah angka yang lebih ringkas, kredibilitas rupiah di mata internasional akan meningkat dan biaya operasional perbankan dalam memproses data keuangan dapat ditekan secara signifikan.

Di sisi lain, penerapan kebijakan ini secara operasional menuntut kesiapan yang tidak sedikit bagi negara. Pemerintah perlu mengantisipasi anggaran besar untuk pencetakan seluruh pecahan uang baru sekaligus memastikan kesiapan sistem digital perbankan hingga ke pelosok agar tidak terjadi kekacauan transaksi saat masa peralihan.

Nyatanya, meskipun redenominasi secara teori tidak mengurangi nilai asli kekayaan seseorang, kebijakan ini tetap memiliki risiko psikologis yang tidak bisa dianggap main-main. Sangat disayangkan jika sosialisasi yang kurang mendalam justru akan memicu fenomena ilusi uang (money illusion), di mana masyarakat merasa harga-harga menjadi murah lalu cenderung berperilaku konsumtif, atau sebaliknya, muncul risiko pedagang yang sengaja menaikkan harga dengan alasan untuk membulatkan angka, sehingga tanpa sadar harga barang-barang semakin mahal. Hal ini tentu mengancam daya beli masyarakat jika tidak diawasi dengan ketat.

Keadaan rupiah yang baru nantinya tidak hanya menuntut pemerintah untuk melakukan ekstra dalam menjaga kestabilan harga, melainkan juga menuntut masyarakat untuk lebih kritis dan teredukasi agar tidak kebingungan dalam fase transisi. Keberhasilan redenominasi bukan sekadar tentang menghilangkan angka nol pada kertas uang, tetapi tentang bagaimana kita mampu mempertahankan nilai ekonomi bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.

Sumber Referensi

Pohan, A. (2017). Dampak Psikologis dan Ekonomi dari Redenominasi Mata Uang: Sebuah Tinjauan Teoretis. Jurnal Ekonomi dan Keuangan Indonesia, 12(2), 45-58.

Siahaan, H., & Pratama, R. (2023). Analisis Kesiapan Masyarakat Terhadap Kebijakan Redenominasi Rupiah Dalam Perspektif Stabilitas Moneter. Jurnal Ekonomi Nasional, 15(1), 110-125. Doi: 10.52969/jen.v15i1.312

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image