Fenomena Fatherless di Era Modern: Luka Sunyi Generasi Masa Kini
Parenting | 2025-12-16 13:17:35
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, fenomena fatherless semakin sering ditemui, meski kerap luput dari perhatian. Fatherless tidak selalu berarti anak tumbuh tanpa ayah secara fisik, tetapi juga ketika ayah hadir di rumah namun absen secara emosional dan peran. Banyak anak hari ini hidup bersama ayahnya, namun merasa sendirian karena kurangnya keterlibatan, komunikasi, dan kedekatan.
Tuntutan ekonomi dan tekanan pekerjaan sering dijadikan alasan utama minimnya peran ayah dalam keluarga. Ayah dipandang sebatas pencari nafkah, sementara urusan pengasuhan sepenuhnya dibebankan kepada ibu. Budaya kerja dengan jam panjang, kelelahan, serta kebiasaan bermain gawai semakin menjauhkan ayah dari interaksi berkualitas dengan anak. Akibatnya, anak kehilangan figur ayah sebagai teladan, pelindung, dan tempat merasa aman secara emosional.
Dampak fatherless tidak bisa dianggap sepele. Anak yang tumbuh tanpa peran ayah yang cukup berisiko mengalami kesulitan mengelola emosi, kurang percaya diri, dan kesulitan membangun hubungan sosial. Pada masa remaja, kondisi ini dapat memicu krisis identitas, perilaku agresif, atau justru menarik diri dari lingkungan. Luka emosional tersebut bahkan dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka membangun keluarga di masa depan.
Ironisnya, di era digital, fatherless justru semakin nyata. Teknologi yang seharusnya mendekatkan sering kali menjadi penghalang interaksi keluarga. Tidak jarang ayah lebih fokus pada layar ponsel dibandingkan mendengarkan cerita anaknya. Ketika komunikasi hanya sebatas perintah atau teguran, anak kehilangan ruang aman untuk berbagi perasaan dan mimpi.
Mengatasi fenomena fatherless bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga masyarakat. Perlu ada perubahan cara pandang bahwa peran ayah dalam pengasuhan sama pentingnya dengan ibu. Kehadiran ayah yang hangat, peduli, dan komunikatif adalah investasi besar bagi kesehatan mental anak. Menjadi ayah yang hadir bukan soal waktu semata, tetapi tentang keterlibatan yang tulus dalam kehidupan anak.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
