Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Ilham Fauzi

Strategi Mencapai SDGs 7 untuk Mencapai Masa Depan yang Hijau

Agama | 2025-12-12 17:54:24
SDGs 7

Diunggah oleh Muhammad Ilham Fauzi, Mahasiswa Teknik Industri Universitas Airlangga.

Perkembangan peradaban manusia tidak dapat dilepaskan dari konsumsi energi. Sejak revolusi industri, dunia sangat bergantung pada energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam untuk menggerakkan mesin perekonomian, menghasilkan listrik, dan memenuhi kebutuhan transportasi. Ketergantungan ini telah membawa kemakmuran bagi banyak negara, namun sekaligus menanamkan bom waktu bagi keberlangsungan planet ini. Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembakaran energi fosil telah menjadi kontributor utama terhadap krisis perubahan iklim, yang dampaknya mulai dirasakan secara global dalam bentuk cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, dan gangguan ekosistem.

Menyadari urgensi ini, komunitas internasional melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di dalamnya. SDGs menjadi peta jalan global untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan bagi semua. Dari semua tujuan tersebut, SDG 7: "Energi Bersih dan Terjangkau" menempati posisi yang sangat strategis dan fundamental, karena energi adalah tulang punggung yang menghubungkan dan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan lainnya, mulai dari pengentasan kemiskinan (SDG 1), industri dan inovasi (SDG 9), hingga penanganan perubahan iklim (SDG 13).

Meskipun komitmen global telah dinyatakan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan untuk mencapai SDG 7 masih sangat besar. Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2030, diperkirakan masih ada 660 juta orang yang tidak memiliki akses ke listrik, dan sekitar 2 miliar orang akan tetap bergantung pada bahan bakar yang mencemari untuk memasak. Kesenjangan akses energi ini tidak hanya terjadi antara negara maju dan berkembang, tetapi juga di dalam negara itu sendiri, antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Ketimpangan ini menghambat kesempatan untuk pembangunan yang inklusif dan merata.

Selain masalah akses, transisi dari energi fosil ke energi terbarukan juga belum berjalan pada kecepatan yang diperlukan. Kapasitas energi terbarukan memang bertambah, namun pangsa bahan bakar fosil dalam bauran energi global masih sangat dominan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infrastruktur energi fosil yang sudah mapan, investasi yang masih besar ke sektor fosil, dan tantangan teknis dalam mengintegrasikan energi terbarukan yang bersifat intermiten, seperti matahari dan angin, ke dalam grid nasional. Akibatnya, target untuk mengurangi emisi karbon sektor energi masih jauh dari kata tercapai.

Oleh karena itu, esai ini akan membahas strategi-strategi kunci yang dapat diterapkan untuk mempercepat pencapaian SDG 7. Pembahasan akan difokuskan pada tiga pilar utama: pertama, memperkuat kebijakan dan regulasi pemerintah yang mendukung investasi energi terbarukan; kedua, mendorong inovasi teknologi dan bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya; dan ketiga, memastikan bahwa transisi energi dilakukan secara adil dan inklusif, sehingga tidak ada satu pun pihak yang tertinggal dalam perjalanan menuju masa depan yang hijau.

Pencapaian SDG 7 menghadapi benturan realitas yang kompleks antara ambisi global dan implementasi di tingkat nasional maupun lokal. Isu terkini tidak lagi sekadar tentang menyediakan akses listrik, tetapi tentang kualitas akses tersebut apakah andal, terjangkau, dan bersih. Meskipun progres telah dicatat, seperti peningkatan kapasitas energi terbarukan secara global, laju transisi energi masih jauh dari cukup untuk memenuhi target tahun 2030. International Energy Agency (IEA) dalam laporannya menegaskan bahwa kemajuan dalam efisiensi energi dan renewable energy harus dipercepat secara signifikan untuk tetap berada pada jalur pencapaian net-zero emission oleh mid-century. Tantangan utama saat ini bersifat multidimensi, meliputi aspek teknis, finansial, kebijakan, dan sosial.

Dari aspek teknis, intermitensi atau ketidakstabilan sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti surya dan angin menjadi kendala utama untuk diintegrasikan ke dalam grid listrik yang membutuhkan keandalan dan stabilitas. Grid nasional di banyak negara, termasuk Indonesia, didesain untuk pembangkit berbasis fosil yang dapat disuplai secara konstan. Ketergantungan pada EBT yang fluktuatif memerlukan investasi besar dalam teknologi smart grid, sistem penyimpanan energi (baterai), dan pembangkit penyeimbang yang fleksibel.

Tantangan finansial juga sangat besar. Meski biaya teknologi surya dan angin telah turun drastis, investasi modal awal untuk pembangunan pembangkit EBT, infrastruktur transmisi, dan penelitian teknologi penyimpanan masih sangat tinggi dibandingkan dengan pembangkit fosil. Negara-negara berkembang seringkali terbebani oleh tingginya biaya modal dan risiko investasi yang dipersepsikan lebih besar di sektor EBT. Selain itu, skema pendanaan dan insentif fiskal yang menarik bagi investor swasta masih terbatas.

Dampak dari lambatnya transisi energi ini sangat luas dan mendalam. Bagi masyarakat, terutama di daerah terpencil, ketiadaan akses ke energi bersih dan modern berarti mereka masih bergantung pada kayu bakar dan lampu minyak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dampaknya terhadap kesehatan sangat serius, asap dari pembakaran kayu di dalam ruangan merupakan penyebab utama penyakit pernapasan yang merenggut banyak nyawa, particularly among women and children. Dari perspektif lingkungan, terus bergantungnya bauran energi nasional pada batubara dan bahan bakar fosil lainnya berarti emisi gas rumah kaca terus meningkat, berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim. Dampak perubahan iklim seperti cuaca ekstrem dan kekeringan pada akhirnya akan kembali menghantam sektor pertanian dan ketahanan pangan, menciptakan siklus negatif yang sulit diputus.

Oleh karena itu, strategi untuk mencapai SDG 7 haruslah holistik dan integratif, mengatasi keempat dimensi tantangan tersebut secara simultan. Strategi ini tidak bisa parsial dan hanya berfokus pada satu aspek saja, misalnya hanya membangun pembangkit tanpa memperkuat grid atau hanya membuat regulasi tanpa memastikan kemudahan berusaha. Pembahasan pada bagian berikutnya akan menguraikan strategi-strategi konkret yang dapat dilakukan, yang dirancang untuk menjawab tantangan teknis, finansial, kebijakan, dan sosial yang telah dijelaskan di atas, untuk memastikan bahwa masa depan energi yang hijau, bersih, dan terjangkau bukan sekadar impian, tetapi sebuah keniscayaan yang dapat diraih.

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa perjalanan menuju pencapaian SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau menghadapi tantangan multidimensi yang kompleks. Tantangan ini tidak hanya bersifat teknis, seperti intermitensi sumber energi terbarukan dan ketidaksiapan infrastruktur grid, tetapi juga meliputi aspek finansial berupa tingginya biaya investasi awal, aspek kebijakan seperti inkonsistensi regulasi dan tumpang tindih kewenangan, serta aspek sosial yang berdampak pada kesehatan masyarakat dan ketahanan lingkungan. Lambatnya transisi energi dari bahan bakar fosil ke sumber energi yang berkelanjutan bukan hanya menghambat target SDG 7 itu sendiri, tetapi juga membahayakan pencapaian tujuan-tujuan SDGs lainnya, khususnya dalam penanganan perubahan iklim, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image