Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Gavra Andian

Fenomena Quiet Quitting dan Krisis Identitas Profesional di Era Hybrid Working

Gaya Hidup | 2025-12-07 14:55:06

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting bukanlah pengunduran diri secara harfiah, melainkan penarikan diri secara emosional dan mental dari pekerjaan. Istilah ini mulai viral di TikTok pada tahun 2022.

Perilaku ini didorong oleh:

  • Keinginan Menjaga Batasan (Boundaries): Menolak overwork (kerja berlebihan) dan jam kerja yang tidak jelas.
  • Kelelahan (Burnout): Respons terhadap budaya kerja yang menuntut karyawan untuk terus-menerus melampaui batas tanpa imbalan yang proporsional.
  • Rendahnya Employee Engagement: Merasa tidak dihargai atau terputus dari tujuan perusahaan.

Menurut survei Gallup pada tahun 2022, persentase karyawan yang "terlibat" (engaged) dalam pekerjaan mereka, yang merupakan lawan dari quiet quitting, terus menurun, menunjukkan bahwa banyak pekerja yang hanya melakukan upaya minimum.

Mengapa Hybrid Working Mempercepat Krisis Identitas Profesional?

Model kerja hybrid (gabungan kerja dari kantor dan rumah) yang diyakini membawa fleksibilitas, justru secara paradoks memperburuk krisis identitas bagi banyak pekerja.

 

  1. Kaburnya Batasan: Bekerja dari rumah membuat batasan antara kehidupan pribadi dan profesional menjadi kabur. Karyawan merasa harus "selalu tersedia" (always-on), yang meningkatkan risiko kelelahan.
  2. Hilangnya Koneksi Sosial: Kurangnya interaksi tatap muka rutin mengurangi rasa memiliki terhadap tim atau perusahaan, membuat pekerjaan terasa hanya sebagai transaksi—upah ditukar dengan waktu—bukan sebagai bagian dari identitas diri.
  3. Ancaman Otomatisasi: Gen Z dan milenial, yang sering kali memasuki pasar kerja di tengah resesi dan perubahan teknologi cepat, merasakan ancaman bahwa pekerjaan mereka mungkin menjadi usang. Perasaan ini, dikombinasikan dengan lingkungan hybrid yang kurang personal, membuat mereka enggan menginvestasikan identitas diri pada karier yang terasa tidak stabil.

Seorang psikolog organisasi, Dr. Sarah Miller, berpendapat bahwa "Saat work-life balance hilang, pekerjaan berhenti menjadi sumber makna dan kembali menjadi sekadar alat untuk bertahan hidup, yang merupakan pendorong utama di balik quiet quitting."

Mencari Solusi: Membangun Kembali Makna Kerja

Mengatasi quiet quitting membutuhkan lebih dari sekadar menaikkan gaji; ini adalah tentang reformasi budaya kerja untuk mengembalikan makna dan identitas profesional yang sehat.

 

  • Tanggung Jawab Perusahaan:Mendefinisikan Ulang Produktivitas: Fokus pada hasil dan dampak, bukan pada jam kerja yang panjang.Transparansi Imbalan: Menghubungkan upaya ekstra (melampaui deskripsi kerja) dengan jalur karier dan kompensasi yang jelas.Pelatihan Kepemimpinan: Melatih manajer untuk mengenali tanda-tanda burnout dan mendorong batasan yang sehat.
  • Mendefinisikan Ulang Produktivitas: Fokus pada hasil dan dampak, bukan pada jam kerja yang panjang.
  • Transparansi Imbalan: Menghubungkan upaya ekstra (melampaui deskripsi kerja) dengan jalur karier dan kompensasi yang jelas.
  • Pelatihan Kepemimpinan: Melatih manajer untuk mengenali tanda-tanda burnout dan mendorong batasan yang sehat.
  • Tanggung Jawab Individu:Literasi Batasan Diri: Mengembangkan keterampilan untuk menetapkan batasan yang kuat dan berkomunikasi secara efektif mengenai jam kerja.Diversifikasi Identitas: Mencari pemenuhan diri di luar pekerjaan, seperti hobi, komunitas, atau aktivitas pribadi, sehingga pekerjaan tidak menjadi satu-satunya sumber harga diri.
  • Literasi Batasan Diri: Mengembangkan keterampilan untuk menetapkan batasan yang kuat dan berkomunikasi secara efektif mengenai jam kerja.
  • Diversifikasi Identitas: Mencari pemenuhan diri di luar pekerjaan, seperti hobi, komunitas, atau aktivitas pribadi, sehingga pekerjaan tidak menjadi satu-satunya sumber harga diri.

Fenomena quiet quitting bukanlah sekadar tren kemalasan, melainkan alarm bahwa generasi pekerja saat ini sedang menuntut hubungan yang lebih sehat dan berkelanjutan dengan karier mereka. Dengan membangun budaya kerja yang menghargai waktu, memprioritaskan kesejahteraan mental, dan memberikan makna yang otentik, perusahaan dapat mengubah quiet quitting menjadi keterlibatan yang sehat (healthy engagement), yang pada akhirnya akan menguntungkan baik pekerja maupun organisasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image