Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Iqbal Zayyan Muafi

Ketika Empati Menjadi Bagian dari Terapi: Pelajaran dari Ruang Periksa Dokter Kulit

Pendidikan dan Literasi | 2025-12-04 17:03:05
Sumber: iStock

Di tengah hiruk pikuk pelayanan kesehatan modern, sering muncul anggapan bahwa proses medis berjalan kaku dan terburu-buru. Namun pengalaman fieldtrip saya di Rumah Sakit Universitas Airlangga justru menunjukkan sisi lain dari profesi dokter, yakni sisi yang lebih hangat, manusiawi, dan penuh empati. Selama mengamati praktik seorang dokter spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (DVE), saya melihat dengan jelas bahwa kualitas sebuah pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada obat atau teknologi, tetapi juga pada bagaimana dokter berinteraksi dengan pasien, mengelola kecemasan, serta memastikan setiap orang memperoleh haknya sebagai penerima layanan kesehatan.

Pasien pertama yang datang pagi itu adalah seorang lansia dengan keluhan kulit menghitam pada area selangkangan. Situasi ini jelas sensitif, sehingga membutuhkan pendekatan komunikasi yang hati-hati. Dokter memulai dengan percakapan sederhana, menanyakan riwayat keluhan sambil menjaga kontak mata yang menenangkan. Saat pemeriksaan fisik diperlukan, dokter menjelaskan terlebih dahulu tujuan tindakan, memastikan bahwa privasi pasien dihormati, dan memberikan ruang bagi pasien untuk merasa aman. Pendekatan semacam ini sejalan dengan prinsip patient-centered care, dimana dokter tidak hanya memperhatikan penyakitnya, tetapi juga memerhatikan pengalaman emosional pasien selama proses perawatan (Epstein & Street, 2011).

Tidak lama kemudian, seorang anak kecil datang bersama ibunya dengan keluhan kulit kepala bersisik. Anak itu tampak gelisah, sementara ibunya terlihat cemas menunggu penjelasan dokter. Situasi seperti ini membuat dokter harus menangani dua kebutuhan sekaligus: menenangkan anak agar pemeriksaan dapat berjalan lancar, serta memberikan penjelasan yang jelas kepada orang tua. Dokter kemudian memeriksa kondisi kulit kepala sambil berbicara lembut kepada si anak untuk mengurangi rasa takutnya. Kepada sang ibu, dokter memberikan edukasi mengenai kemungkinan penyebab keluhan, cara perawatan yang tepat, serta gejala yang harus diperhatikan setelah pulang. Pendekatan komunikasi seperti ini terbukti sangat penting, karena hubungan yang baik antara dokter, anak, dan orang tua meningkatkan kepatuhan terhadap terapi dan hasil perawatan secara keseluruhan (Coyne et al., 2016).

Selama mengamati proses tersebut, saya menyadari bahwa dokter bukan hanya penyembuh, tetapi juga pendengar yang baik. Setiap gerakan kecil baik cara dokter menjelaskan diagnosis, memastikan pasien memahami apa yang terjadi, atau memberikan jeda agar pasien dapat bertanya, merupakan bagian dari terapi emosional yang tidak tertulis di dalam resep. Pengalaman ini memberi saya pemahaman yang lebih nyata bahwa pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya mengobati kulit yang bermasalah, tetapi juga merawat rasa percaya pasien.

Sebagai mahasiswa kedokteran, momen-momen ini menjadi pengingat penting bahwa menjadi dokter bukan hanya tentang menguasai ilmu penyakit, tetapi juga tentang memanusiakan pasien. Ruang periksa bukan hanya tempat menegakkan diagnosis, tetapi juga ruang kepercayaan. Saya belajar bahwa empati bukan sekadar sifat tambahan dalam dunia medis, tetapi empati juga adalah bagian dari kompetensi profesional. Dalam setiap tindakan kecil yang dilakukan dokter seperti menjelaskan, mendengar, dan menenangkan, ada nilai moral yang begitu besar, yaitu mengembalikan martabat pasien sebagai manusia yang layak dihormati, bahkan dalam kondisi paling rentan sekalipun.

Pengalaman fieldtrip ini mungkin berlangsung singkat, tetapi memberikan gambaran mendalam bahwa profesi medis berdiri di atas dua pilar: ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi layanan kesehatan, sentuhan manusiawi seperti ini justru semakin berharga. Mesin mungkin mampu membaca hasil pemeriksaan dengan cepat dan akurat, tetapi hanya manusia yang mampu membuat pasien merasa dilihat, dipahami, dan dirawat dengan hati. Dari ruang praktik kecil itu, saya pulang dengan keyakinan baru: bahwa menjadi dokter berarti merawat lebih dari sekadar tubuh, tetapi juga menjaga kepercayaan yang dititipkan oleh pasien.


Epstein, R. M., & Street, R. L. Jr. (2011). The values and value of patient-centered care. Annals of Family Medicine, 9(2), 100–103. https://doi.org/10.1370/afm.1239

Coyne, I., Hallström, I., & Söderbäck, M. (2016). Reframing the focus from a family-centred to a child-centred care approach for children's healthcare. Journal of child health care : for professionals working with children in the hospital and community, 20(4), 494–502. https://doi.org/10.1177/1367493516642744

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image