Mengapa Gaza Masih Belum Pulih
Politik | 2025-12-03 17:01:53"Ketika angka korban di Gaza terus bertambah sementara dunia hanya bergerak setapak demi setapak, kita dipaksa mempertanyakan apakah kemanusiaan masih menjadi prioritas global"
Lebih dari 70.000 warga Palestina di Gaza dilaporkan meninggal sejak eskalasi besar terbaru, menurut data yang dirilis Kementerian Kesehatan Gaza dan dikonfirmasi berbagai lembaga internasional. PBB mencatat bahwa lebih dari 1,9 juta orang mengungsi, atau sekitar tiga perempat populasi Gaza. Sementara itu, infrastruktur penting seperti rumah sakit, jaringan air, sekolah, dan tempat ibadah mengalami kerusakan parah. Meski beberapa kali diumumkan gencatan senjata, kekerasan sporadis dan serangan terbatas masih terjadi, membuat pemulihan hampir mustahil dilakukan.
Melihat kenyataan ini, pertanyaan besar kembali muncul. Mengapa Gaza belum pulih, bahkan setelah begitu banyak kecaman dan seruan internasional. Mengapa dunia tampak bergerak sangat lambat ketika menyangkut upaya nyata untuk menghentikan penderitaan yang terus berulang. Untuk menjawabnya, kita perlu melihat dinamika Gaza bukan hanya sebagai konflik lokal, melainkan bagian dari struktur geopolitik yang sangat kompleks.
Israel memandang Gaza sebagai wilayah yang harus dikendalikan demi keamanan nasionalnya. Kebijakan blokade yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, pembatasan pergerakan, serta operasi militer yang berulang menunjukkan bahwa pendekatan keamanan tetap mendominasi strategi Israel. Setiap upaya rekonstruksi atau pembangunan kapasitas lokal seringkali dianggap sebagai potensi ancaman. Dalam kerangka ini, Gaza tidak ditempatkan sebagai entitas yang harus dipulihkan, tetapi sebagai wilayah yang diawasi secara ketat.
Di sisi lain, Amerika Serikat memegang peran penting dalam dinamika konflik. Dukungan politik dan militer Washington kepada Israel membuat pendekatan diplomatik internasional sering kali tidak mencapai keputusan tegas. Veto yang dikeluarkan dalam forum Dewan Keamanan PBB menjadi penghalang bagi resolusi yang lebih kuat terkait perlindungan warga sipil atau penghentian agresi. Selama mekanisme internasional tidak berjalan secara efektif, Gaza tetap berada dalam ruang kebijakan yang buntu.
Negara-negara kawasan pun memiliki kepentingan yang beragam. Mesir mengontrol pintu Rafah dan memegang kunci masuknya bantuan kemanusiaan, namun kebijakan perbatasan sering dipengaruhi kondisi domestik dan hubungan regional. Qatar berperan sebagai mediator dalam pertukaran tawanan dan pembicaraan gencatan senjata, tetapi tetap harus menjaga keseimbangan diplomatik dengan banyak pihak. Di sisi lain, kehadiran kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran memperluas ruang konflik dari lokal menjadi regional.
Dengan begitu banyak aktor yang memiliki agenda berbeda, Gaza kerap berada di tengah tarik-menarik kepentingan. Ini menjadikan konflik sulit selesai karena setiap langkah menuju penyelesaian harus melewati proses negosiasi yang panjang dan rumit. Dalam situasi ini, kebutuhan warga sipil seperti akses makanan, perawatan medis, dan perlindungan tidak selalu menjadi prioritas utama.
Namun ada lapisan lain yang jarang dibahas, yakni bagaimana absennya struktur politik yang kuat di Palestina turut memperpanjang situasi ini. Fragmentasi internal antara Gaza dan Tepi Barat melemahkan kapasitas representasi politik Palestina di forum internasional. Ketika satu suara tidak muncul dengan jelas, peluang untuk mendorong resolusi yang mengikat semakin kecil. Dalam tradisi pemikiran Islam, perlindungan terhadap kaum lemah, keadilan, dan tanggung jawab moral terhadap wilayah yang tertindas adalah prinsip yang tidak dapat dinegosiasikan. Nilai-nilai ini menekankan pentingnya solidaritas yang bukan hanya emosional, tetapi juga terstruktur dan berkelanjutan.
Dalam konteks modern, nilai itu dapat diterjemahkan sebagai keharusan menguatkan suara diplomatik, kerja sama lintas negara, serta dorongan agar lembaga internasional lebih tegas dan tidak terjebak dalam kepentingan politik tertentu. Gaza membutuhkan dukungan global yang kontinu, bukan hanya ketika terjadi eskalasi besar. Ia membutuhkan tekanan internasional yang konsisten agar akses kemanusiaan dibuka, rekonstruksi dapat berjalan, dan warga sipil dilindungi sesuai hukum internasional.
Gaza belum pulih bukan karena dunia tidak peduli, tetapi karena struktur politik global bergerak lambat dibandingkan kecepatan kerusakan yang terjadi di lapangan. Agar Gaza pulih, dunia memerlukan pendekatan baru yang menempatkan nilai kemanusiaan di depan kepentingan politik. Sebab sebesar apa pun kompleksitas geopolitik, tidak boleh ada keadaan di mana penderitaan manusia menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
