Pengolahan Limbah di Indonesia Masih Jauh dari Harapan
Edukasi | 2025-11-27 09:06:13Pengolahan limbah seharusnya menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Indonesia masih berada jauh dari standar yang layak. Negara dengan jumlah penduduk besar dan konsumsi yang terus meningkat ini justru belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang mampu mengimbangi laju produksi sampah. Menurut saya, masalah ini bukan sekadar soal teknis, tetapi juga soal prioritas dan keseriusan.
Pengolahan Limbah Hanya Jadi Agenda Pinggiran
Selama ini, pengolahan limbah lebih sering diperlakukan sebagai pekerjaan sampingan pemerintah daerah. Banyak kota besar masih bergantung pada TPA yang sudah penuh dan tidak memiliki fasilitas pengolahan lanjutan. Kita sering mendengar istilah open dumping, tetapi jarang melihat upaya nyata untuk meninggalkannya. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah belum menjadi agenda utama pembangunan.
Kesadaran Publik yang Belum Dewasa
Saya melihat bahwa sistem pengolahan limbah yang ideal akan sulit terwujud jika masyarakat masih abai terhadap pola konsumsi dan kebiasaan membuang sampah. Pemilahan sampah di rumah—yang merupakan langkah paling dasar—masih dianggap merepotkan. Akibatnya, sampah organik, plastik, dan bahkan limbah B3 bercampur dalam satu kantong. Dengan kondisi seperti ini, sebaik apa pun teknologi yang tersedia, hasilnya tetap tidak optimal.
Industri yang Lalai, Pengawasan yang Lemah
Tidak sedikit industri yang masih membuang limbah cair tanpa pengolahan memadai. Kasus pencemaran sungai berulang karena banyak perusahaan lebih memilih menghemat biaya operasional ketimbang memperbaiki IPAL mereka. Di sisi lain, pengawasan sering kali bersifat sporadis dan reaktif. Selama sanksi tidak tegas, praktik-praktik pencemaran ini akan terus terjadi.
Daur Ulang Masih Mengandalkan Sektor Informal
Kegiatan daur ulang di Indonesia pada praktiknya ditopang para pemulung—bukan sistem nasional yang terorganisir. Padahal, sektor daur ulang seharusnya menjadi kekuatan utama dalam mengurangi beban limbah. Selama pemerintah tidak mengambil peran besar dalam membangun rantai daur ulang yang terstruktur dan modern, potensi daur ulang yang besar hanya akan menjadi wacana.
Dampak Lingkungan Sudah di Depan Mata
Pengelolaan limbah yang buruk membuat berbagai masalah lingkungan semakin nyata: sungai tercemar, laut dipenuhi plastik, udara kotor akibat pembakaran sampah liar, hingga meningkatnya risiko penyakit. Ironisnya, kerusakan ini sering dianggap sebagai sesuatu yang “biasa”. Sikap permisif inilah yang membuat masalah semakin sulit diatasi.
Saatnya Serius Mengolah Limbah
Menurut saya, Indonesia harus berani mengubah paradigma. Pengolahan limbah bukan hanya urusan teknis, tetapi cermin kualitas tata kelola negara. Kita membutuhkan sistem IPAL yang kuat, kebijakan daur ulang yang tegas, edukasi publik yang lebih serius, dan penegakan hukum yang tidak kompromi. Tanpa itu semua, Indonesia hanya akan terus menjadi bangsa yang menghasilkan sampah, tetapi tidak tahu bagaimana mengelolanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
