Quarter Life Crisis Mahasiswa sebagai Fenomena Psikologis di Dunia Perkuliahan
Info Terkini | 2025-11-26 22:25:16
Bagi banyak mahasiswa, masa kuliah bukan hanya tentang mengejar gelar dan menyelesaikan tugas. Di balik layar kehidupan kampus yang tampak aktif dan produktif, ada lapisan kegelisahan yang sering tidak terlihat sebuah fase psikologis yang oleh Arnett (2020) disebut sebagai quarter life crisis, yakni masa ketika individu berusia 18–25 tahun mulai mempertanyakan arah hidup, kemampuan diri, hingga identitas pribadi mereka. Dalam lingkungan perkuliahan yang semakin kompetitif dan bergerak cepat, krisis ini bukanlah fenomena sesaat, melainkan kondisi nyata yang dialami banyak mahasiswa di berbagai negara.
Pada titik tertentu, mahasiswa mulai menyadari bahwa hidup tidak lagi sesederhana naik kelas seperti semasa sekolah. Tuntutan akademik membutuhkan kedisiplinan, organisasi mahasiswa menghadirkan pengalaman namun sekaligus menyita energi, dan lingkungan sosial menumbuhkan ekspektasi baru. Di tengah semua itu, mahasiswa harus mulai memikirkan masa depan mereka, terutama karier. Ketika realitas tidak selaras dengan ekspektasi, kegelisahan sering muncul “Apakah jurusanku sudah tepat?” “Apa aku mampu bersaing nanti?” “Ke mana aku harus melangkah setelah lulus?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menjadi pemicu utama tekanan psikologi.
Fenomena quarter life crisis semakin diperparah oleh budaya perbandingan di media sosial. Ketika mahasiswa melihat teman sebaya meraih prestasi, lolos magang bergengsi, atau tampil sempurna di Instagram, rasa minder perlahan tumbuh. Budaya “harus produktif” yang kini menjadi tren juga memperkuat tekanan tersebut. Lunia (2024) mencatat bahwa paparan pencapaian orang lain sering memperburuk kecemasan pada usia awal dewasa. Padahal, perjalanan setiap orang memiliki ritme berbeda. Namun, algoritma media sosial membuat kita seolah berada dalam perlombaan tanpa garis finis.
Di dalam kampus sendiri, standar kesempurnaan mahasiswa semakin tinggi nilai harus bagus, aktif berorganisasi, portofolio harus padat, dan jaringan pertemanan seolah wajib dibangun. Ketika performa menurun atau organisasi terasa melelahkan, rasa takut gagal menjadi bayangan yang sulit dihilangkan. Hal ini dapat membuat mahasiswa merasa kehilangan kontrol diri dan terjebak dalam krisis identitas.
Ramadhani & Herdi (2021) menunjukkan bahwa tekanan akademik dan tuntutan sosial merupakan pemicu kuat stres mahasiswa pada era digital. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya kehilangan motivasi, merasa terisolasi, bahkan mengalami gejala kecemasan yang berkepanjangan. Namun, quarter life crisis bukanlah akhir, melainkan titik balik bagi banyak mahasiswa. Fase ini bisa menjadi ruang refleksi untuk berhenti sejenak dan menata ulang arah hidup. Meski menyakitkan, proses ini penting untuk tumbuh dan memahami diri lebih dalam. Rossi & Mebert (2011) bahkan menegaskan bahwa krisis ini adalah bagian normal dari proses menuju kedewasaan. Mengelola krisis ini bisa dimulai dari langkah-langkah kecil: berani menceritakan beban pada teman atau konselor kampus, mengurangi tekanan yang tidak perlu, mengatur waktu dengan lebih realistis, hingga berani berkata “tidak” pada tuntutan yang membebani mental.
Pada akhirnya, quarter life crisis adalah fase hidup yang wajar. Ia hadir bukan untuk melemahkan, tetapi untuk mengingatkan bahwa kita manusia bukan mesin prestasi. Dunia kampus memang penuh tantangan, tetapi juga penuh peluang untuk memahami diri. Pelan-pelan, mahasiswa akan belajar bahwa tidak apa-apa jika hidup tidak sesuai rencana. Yang terpenting adalah terus melangkah, sekecil apa pun langkah itu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
