Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fadli Akbar Ramadhan

Kampus yang Sibuk, Tapi Pikiran Mahasiswa Terasa Diam

Gaya Hidup | 2025-12-21 20:00:04

Di kampus, aktivitas hampir tidak pernah benar-benar berhenti. Mahasiswa datang silih berganti. Ada yang masuk kelas pagi, ada yang bertahan sampai sore. Gedung ramai. Jadwal padat. Dari luar, semuanya terlihat berjalan sebagaimana mestinya. Tapi suasana itu tidak selalu mencerminkan apa yang terjadi di dalam kelas.

Banyak perkuliahan berjalan satu arah. Dosen menjelaskan, mahasiswa mencatat. Sesekali ada pertanyaan, itu pun biasanya soal teknis. Jarang yang benar-benar mengajak berpikir lebih jauh. Bukan karena mahasiswa tidak mampu. Lebih sering karena terbiasa diam. Bicara terasa berisiko. Salah ucap bisa dinilai kurang pintar. Berbeda pendapat kadang dianggap menentang.

Situasi seperti ini pelan-pelan membentuk kebiasaan. Mahasiswa datang ke kelas dengan tujuan yang sederhana. Hadir. Mengisi presensi. Mengumpulkan tugas. Setelah itu pulang. Proses berpikir sering kali menjadi urusan nomor dua. Yang penting aman. Tidak bermasalah. Tidak menonjol.

Ada tekanan lain yang ikut bermain. Target nilai. Tumpukan tugas. Jadwal yang saling bertabrakan. Dalam kondisi seperti itu, diskusi terasa melelahkan. Berpikir mendalam dianggap membuang waktu. Lebih praktis mengikuti alur. Mendengar. Mencatat. Selesai. Pola ini terus berulang sampai terasa normal.

Dampaknya tidak langsung terlihat. Tapi perlahan muncul. Mahasiswa menjadi ragu menyampaikan pendapat. Sulit menyusun argumen panjang. Tidak terbiasa menguji ide. Saat dihadapkan pada persoalan nyata, banyak yang bingung harus mulai dari mana. Bukan karena kurang pintar, tapi karena jarang dilatih berpikir terbuka.

Menghidupkan kembali ruang diskusi tentu tidak mudah. Tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Mahasiswa perlu mulai mengambil ruang, meski pendapatnya belum sempurna. Dosen juga punya peran besar. Kelas perlu terasa aman. Tidak menghakimi. Tidak menekan. Cukup memberi ruang untuk mencoba berbicara.

Kampus yang hidup bukan soal ramainya gedung atau padatnya jadwal. Tapi tentang seberapa sering ide bertemu, diuji, lalu berkembang. Tanpa itu, kampus hanya menjadi tempat datang dan pergi. Sibuk, tapi sunyi dalam berpikir.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image