Paradigma Holistik Mengatasi Bencana Hidrometeorologi
Kebijakan | 2025-11-26 13:30:57Jika diletakkan dalam konteks krisis ekologi global yang semakin kompleks, dari pemanasan global, deforestasi, polusi plastik, hingga banjir perkotaan, pendekatan integral ecology yang lebih holistik semakin relevan. Pendekatan ekologi integral ini menolak pandangan tunggal dalam memaknai alam dan mengusulkan integrasi perspektif ilmiah, sosial, budaya, spiritual, dan subjektif. paradigma Integral Ecology memandang bahwa realitas ekologis tidak bisa hanya dijelaskan dengan data ilmiah, karena krisis ekologis juga merupakan krisis nilai, kesadaran, dan imajinasi sosial (Mickey, 2016).
Di Indonesia, persoalan ekologis seperti krisis gambut, kebakaran hutan, deforestasi di Sumatra dan Kalimantan, polusi sungai, serta banjir perkotaan akibat tata kelola yang buruk menunjukkan bahwa masalah lingkungan tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Pendekatan Integral menawarkan cara melihat persoalan secara multidimensional. Misalnya, kerusakan hutan tidak hanya soal hilangnya tutupan vegetasi, tetapi juga terkait kepentingan ekonomi, regulasi politik, budaya konsumsi, spiritualitas masyarakat lokal, dan bahkan psikologi kolektif yang memandang alam sebagai komoditas.
Paradigma Integral Ecology menawarkan cara menghindari polarisasi antara nilai antropocentris, biocentris, dan ekocentris. Dalam konteks Indonesia, hal ini dapat dilihat pada konflik antara kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar hutan, kepentingan industrialisasi, dan tuntutan pelestarian ekosistem. Pendekatan integral tidak memilih salah satu sebagai yang paling benar, tetapi mengajak semua pemangku kepentingan untuk melihat bahwa masing-masing nilai memiliki kebenaran parsial. Solusi ekologis dapat dirumuskan melalui dialog lintas perspektif yang pragmatis dan berorientasi pada penyelesaian masalah.
Dunia merupakan jaringan relasi yang saling mempengaruhi. Krisis iklim yang memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, misalnya, tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan fisik, tetapi terkait dengan ekonomi global, psikologi konsumsi, relasi kekuasaan, dan bahkan spiritualitas manusia. Kompleksitas ini menuntut cara berpikir yang mampu melihat keterhubungan antara bagian dan keseluruhan.
Dalam konteks perubahan iklim yang semakin ekstrem, cuaca tak terprediksi, curah hujan ekstrem, serta ancaman krisis air, pendekatan yang kompleks integratif membantu kita melihat bahwa adaptasi tidak hanya memerlukan teknologi seperti bendungan atau early warning system, tetapi juga perubahan budaya, kebijakan, perilaku publik, serta solidaritas sosial. Kesadaran bahwa nasib manusia saling terkait dengan seluruh makhluk hidup dan sistem ekologi bumi.
Pemikiran lain yang mendekati ekologi holistik integratif adalah paradigma ecosophy dari Félix Guattari yang menawarkan relevansi bagi situasi kontemporer. Guattari menekankan bahwa ekologi harus mencakup tiga dimensi yaitu lingkungan, sosial, dan mental. Krisis ekologis Indonesia misalnya banjir perkotaan akibat pembangunan yang tidak berkelanjutan tidak hanya disebabkan oleh faktor fisik seperti curah hujan tinggi, tetapi juga oleh mentalitas konsumsi, tata kota yang tidak visioner, lemahnya kapasitas masyarakat menjaga lingkungan, serta model pembangunan yang memprioritaskan ekonomi jangka pendek. Pendekatan ecosophy melihat bahwa ekologi adalah persoalan cara hidup dan cara berpikir.
Di titik ini, perlu dan penting mengembangkan kemampuan menghubungkan lingkungan, masyarakat, dan subjektivitas. Dalam konteks masyarakat urban Indonesia, hal ini berarti membangun kesadaran ekologis tidak hanya melalui edukasi sains atau kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui praktik hidup sehari-hari, spiritualitas, seni, dan media. Perubahan ekologis harus melibatkan transformasi kesadaran, karena tanpa perubahan subjektivitas publik, kebijakan lingkungan akan terus berhadapan dengan resistensi atau ketidakpatuhan (Mickey, 2016).
Alhasil, kita dapat memahami bahwa krisis ekologis saat ini adalah krisis multidimensi yang memerlukan pendekatan komprehensif. Tidak ada solusi tunggal. Setiap perspektif ilmiah, religius, filosofis, budaya, hingga spiritual memiliki kebenaran parsial. Dalam menghadapi ancaman ekologis yang semakin nyata, Indonesia membutuhkan ekologi integratif yang mampu menyatukan sains, moralitas, politik, ekonomi, dan spiritualitas. Inilah dasar menuju pola hubungan manusia–bumi yang lebih adil, dan berkelanjutan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
