Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Thaufan Arifuddin

Aliansi Global Melawan Hegemoni Barat di Timur Tengah

Politik | 2026-02-23 10:21:19

Potensi pecahnya perang besar di Timur Tengah kini berada pada titik nadir yang membahayakan peradaban. Dominasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang kian sinkron dengan agenda ekspansionis Israel, sebagaimana diulas oleh Derek Mailhiot dalam buku Trump: America's First Zionist President(2019), telah menciptakan jalur cepat menuju konfrontasi.

Rivalitas Israel mewakili Barat melawan Iran di kawasan Timur Tengah. Foto: pexels

Kebijakan ini tidak hanya berakar pada dukungan politik, tetapi juga pada kendali lobi yang memastikan kepentingan Washington hampir tidak dapat dibedakan dari aspirasi Zionisme, termasuk dalam upaya normalisasi pendudukan teritorial.

Sudah saatnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) keluar dari kelumpuhan diplomatiknya dan bertindak sebagai wasit yang berdaulat. PBB tidak boleh lagi hanya menjadi penonton saat hukum internasional diinjak-injak demi agenda "The Greater Israel".

Narasi ekspansionis ini sejalan dengan analisis Paul Moorcraft dalam buku Israel’s Forever War (2024), yang memaparkan bahwa bagi Israel, perang adalah kondisi permanen untuk mempertahankan dan memperluas kontrol. Intervensi global diperlukan untuk memastikan bahwa tatanan dunia tidak didikte oleh syahwat politik elit global yang mengabaikan kedaulatan bangsa lain.

Rusia memegang peran kunci sebagai penyeimbang militer dan diplomatik di kawasan untuk mencegah restrukturisasi total yang diinginkan aliansi AS-Israel. Iran, dalam konteks ini, muncul sebagai target primer karena merupakan kekuatan yang konsisten menghalangi penguasaan sumber daya ekonomi.

Mohsen M. Milani dalam buku Iran's Rise and Rivalry with the US in the Middle East (2025) menjelaskan bahwa kebangkitan Iran mengancam monopoli Amerika atas energi di Teluk. Jika Rusia membiarkan Iran dilumpuhkan, maka gerbang pengaruh ekonomi dan keamanan Rusia di wilayah selatan akan tertutup oleh imperialisme baru.

Cina, dengan visi ekonomi jalur sutra modernnya, memiliki kepentingan vital untuk menjaga stabilitas jalur energi dunia dari monopoli Barat. Beijing tidak bisa lagi bersikap pasif saat sumber daya minyak di kawasan strategis terancam dikuasai secara sepihak. Persaingan ini dipicu oleh kekhawatiran Barat atas pengaruh Iran, sebagaimana didokumentasikan oleh Jerusalem Center for Public Affairs dalam Iran’s Race for Regional Supremacy (2008). Dukungan ekonomi dan diplomatik Cina bagi negara-negara yang menolak hegemoni adalah instrumen krusial untuk mencegah eskalasi militer yang dapat menghancurkan peta ekonomi global.

Turki, sebagai kekuatan regional independen, harus menjadi garda depan dalam menggalang kekuatan di antara negara-negara Muslim. Ankara perlu menyadari bahwa proyek penyeragaman kawasan oleh Zionisme yang sering kali diamini oleh diplomat AS seperti Mike Huckabee adalah ancaman langsung bagi kedaulatan Turki di masa depan.

Turki harus mampu memimpin diplomasi agresif untuk membuktikan bahwa Timur Tengah bukan milik koalisi imperialis, melainkan milik bangsa-bangsa yang memiliki sejarah panjang di tanah tersebut.

Negara-negara Arab perlu segera mengakhiri sikap pasif dan mulai bersatu dalam satu barisan keamanan kolektif. Ketergantungan pada skema keamanan Barat selama ini terbukti hanya memfasilitasi penguatan kedaulatan tunggal Israel yang didukung penuh oleh militer Amerika.

Tanpa persatuan, kedaulatan ekonomi dan politik bangsa-bangsa Arab akan terus tereduksi oleh proyek imperialisme yang tidak mengenal batas negara. Kesadaran kolektif blok Arab adalah kunci untuk menghentikan mesin perang yang haus akan ekspansi teritorial.

Logika perang abadi yang dipaparkan oleh Paul Moorcraft menunjukkan bahwa mesin perang memerlukan musuh konstan untuk membenarkan tindakannya. Setelah Gaza dan Lebanon, target berikutnya adalah jantung kekuatan penentang di Teheran.

Di sinilah peran Rusia dan Cina sangat dibutuhkan untuk menyediakan penyeimbang geopolitik yang mumpuni. Perang dalam beberapa minggu ke depan menjadi sangat mungkin terjadi sebagai upaya pre-emptive koalisi AS-Israel sebelum aliansi ekonomi timur menjadi terlalu kuat untuk dibendung.

Eskalasi yang dipicu oleh kebutuhan rezim untuk menjaga legitimasi politik melalui retorika keamanan, sebagaimana dianalisis oleh Jalil Roshandel dan Nathan Chapman Lean dalam buku Iran, Israel, and the United States: Regime Security vs. Political Legitimacy (2011), harus dilawan dengan transparansi global.

Dunia internasional melalui PBB harus mengekspos bahwa ketegangan yang diciptakan sering kali merupakan alat untuk kepentingan politik domestik di Washington dan Tel Aviv. Kebohongan publik internasional atas nama keamanan harus dipatahkan dengan fakta objektif tentang upaya penguasaan minyak regional.

Keruntuhan stabilitas di satu negara penentang akan menjadi bencana efek domino bagi Rusia, Cina, dan Turki. Proyek imperialisme Zionisme bertujuan menutup akses kekuatan luar terhadap sumber daya ekonomi secara total.

Jika aliansi ekonomi Timur tidak segera mensinkronkan langkah mereka untuk membendung Trump dan Netanyahu, mereka akan menjadi mangsa selanjutnya dari proyek penyeragaman kawasan yang tidak mentoleransi adanya kutub kekuatan independen selain yang didukung Amerika.

Alhasil, eskalasi di Timur Tengah saat ini adalah manifestasi dari pertemuan antara ambisi teritorial Zionisme dan kontrol lobi politik di Amerika Serikat. Hanya dengan perlawanan kolektif dari blok Arab yang didukung penuh oleh Rusia, Cina, dan Turki, serta ketegasan PBB, proyek imperialisme ini dapat dihentikan.

Timur Tengah membutuhkan keseimbangan kekuatan yang nyata untuk memastikan perdamaian tetap tegak di atas prinsip keadilan, bukan di atas nafsu kekuasaan dan penguasaan sumber daya secara sepihak.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image