Guru, Keanekaragaman Hayati, dan Masa Depan Indonesia
Iptek | 2025-11-25 15:09:49Gres Maretta
Mahasiswa Program Studi Doktor Biologi Universitas Gadjah Mada
Setiap tahun, peringatan Hari Guru di Indonesia selalu menjadi momentum refleksi atas peran sentral guru dalam membangun masa depan bangsa. Namun dalam setiap apresiasi dan ungkapan terima kasih, ada satu isu besar yang jarang muncul dalam percakapan publik: bagaimana pendidikan dan guru menjadi aktor penting dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Salah satu kekayaan terbesar yang dimiliki negeri ini, namun juga salah satu yang paling terancam.
Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas di dunia. Dari hutan Sumatra yang dihuni harimau, gajah dan badak, hingga Sulawesi yang penuh spesies endemik unik, dan laut Indonesia yang menjadi pusat keanekaragaman terumbu karang dunia. Tidak hanya satwa karismatik, Indonesia juga menyimpan ribuan spesies kecil yang jarang terdengar, seperti amfibi dari genus Pelophryne, Ansonia, atau berbagai herpetofauna kecil yang bahkan tidak pernah masuk buku pelajaran. Sebagian spesies mungkin punah sebelum sempat kita kenali.
Sayangnya, ancaman terhadap biodiversitas Indonesia semakin meningkat. Deforestasi, polusi, illegal wildlife trade, dan perubahan iklim mempercepat hilangnya habitat. Ironisnya, di tengah ancaman tersebut, literasi ekologis masyarakat justru menurun. Generasi muda mengenal satwa asing dari film dan gim, tetapi tidak mengenal spesies asli di sekitar rumah mereka.
Di sinilah guru memainkan peran strategis. Guru bukan hanya penyampai materi kurikulum, melainkan penjaga pengetahuan alam, penjembatan antara generasi yang hidup hari ini dan kekayaan ekosistem yang harus dijaga besok. Peran guru menjadi semakin penting ketika sekolah tidak memiliki fasilitas laboratorium atau sarana praktik yang memadai. Guru Biologi, terutama di daerah, sering kali menjadi satu-satunya figur yang memperkenalkan siswa pada burung lokal, pohon-pohon di pekarangan sekolah, atau suara kodok setelah hujan.
Namun realitas pendidikan Indonesia masih jauh dari ideal. Kurikulum sering kali memosisikan keanekaragaman hayati sebagai materi hafalan, bukan pengalaman hidup. Kalimat “Indonesia kaya flora dan fauna” di buku paket tidak pernah berubah selama puluhan tahun, sementara spesies yang dimaksud telah banyak mengalami degradasi. Siswa menghafal definisi ekosistem tanpa pernah diajak masuk ke ekosistem itu sendiri. Pendidikan menjadi jauh dari tanahnya sendiri.
Padahal, pengalaman langsung memiliki daya transformasi besar terhadap kepedulian lingkungan. Ketika seorang guru mengajak siswa membuat jurnal pengamatan harian di halaman sekolah, membandingkan jenis daun, atau mencatat kehadiran burung pada pagi hari, ia sebenarnya sedang membangun fondasi kecintaan terhadap alam. Pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang memberi ruang bagi rasa ingin tahu, pengamatan ilmiah, dan interaksi dengan lingkungan.
Sayangnya, guru tidak dapat memikul semua beban sendirian. Negara perlu menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung guru untuk menjadi agen konservasi. Dukungan yang dibutuhkan guru tidak hanya berupa honorarium atau kesejahteraan, tetapi juga pelatihan, akses terhadap riset lokal, fasilitas sekolah yang memungkinkan pembelajaran berbasis lingkungan, dan kebijakan pendidikan yang memberi ruang kreativitas. Selama guru masih terjebak dalam birokrasi administrasi sekolah, beban laporan, atau sekadar mengejar angka kredit, inovasi di kelas akan sulit tumbuh.
Isu keanekaragaman hayati seharusnya menjadi agenda penting dalam Hari Guru, karena pendidikan merupakan strategi konservasi jangka panjang paling efektif. Aturan hukum dan kawasan konservasi tidak akan banyak berarti jika generasi muda tidak memiliki kesadaran ekologis. Guru berada di garis terdepan untuk menumbuhkan kesadaran itu. Bahkan pendidikan sederhana seperti mengenalkan spesies lokal, melibatkan siswa dalam proyek kecil seperti menanam pohon endemik, atau membuat peta keanekaragaman hayati sekolah dapat menciptakan dampak besar dalam jangka panjang.
Guru dapat memainkan peran lebih besar bila didukung oleh kolaborasi. Perguruan tinggi dapat melibatkan sekolah dalam penelitian sederhana, misalnya inventarisasi herpetofauna lokal, pengamatan burung migran, atau monitoring kualitas air sungai. Pemerintah daerah dapat menyediakan program pelatihan biodiversitas yang sesuai dengan karakter daerah masing-masing. LSM lingkungan dapat menyediakan modul pembelajaran lapangan yang ramah bagi guru dan siswa. Dunia usaha dapat mendukung melalui program CSR berbasis edukasi ekologi.
Momentum Hari Guru adalah saat yang tepat untuk menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari teknologi, ekonomi, atau infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana generasinya mampu merawat alam. Pendidikan dan konservasi tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling menguatkan. Pendidikan menciptakan generasi yang peduli lingkungannya, sementara keberlanjutan lingkungan memastikan masa depan generasi itu sendiri.
Di masa depan, generasi muda Indonesia akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks: krisis iklim, kelangkaan sumber daya, penyakit zoonotik, dan hilangnya habitat alami. Semua ini menuntut masyarakat yang melek ekologi, kritis, dan mampu mengambil keputusan berbasis pengetahuan ilmiah. Peran guru sangat penting dalam menyiapkan generasi tersebut. Guru yang mengajarkan sains tidak hanya mengajarkan rumus, tetapi cara berpikir; guru yang mengajarkan biologi tidak hanya mengajarkan nama-nama organisme, tetapi keterhubungan kehidupan; guru yang mengajarkan geografi tidak hanya mengajarkan peta, tetapi relasi manusia dengan bumi.
Sudah saatnya isu keanekaragaman hayati masuk secara lebih serius dalam pendidikan nasional. Kurikulum harus memberi ruang pada pendekatan berbasis riset, studi lapangan, dan pengenalan spesies lokal. Pemerintah perlu mengembangkan modul khusus tentang biodiversitas tiap provinsi. Guru perlu diberi pelatihan tentang metodologi sains yang sederhana namun efektif, seperti cara membuat transek, teknik pengamatan amfibi, atau pemantauan vegetasi. Pembelajaran tidak perlu mahal; yang diperlukan adalah imajinasi, dukungan, dan kemauan politik.
Hari Guru adalah kesempatan untuk mengingat bahwa masa depan konservasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh ilmuwan atau pengelola kawasan konservasi, tetapi juga oleh guru di ruang-ruang kelas kecil di seluruh Indonesia. Guru yang memberi inspirasi, membuka rasa ingin tahu, dan menanamkan nilai bahwa alam bukan hanya objek studi, tetapi rumah yang harus dijaga.
Indonesia membutuhkan guru yang tidak hanya paham ilmu, tetapi juga mencintai alam. Dan untuk melahirkan guru seperti itu, negara harus hadir: memberikan fasilitas, pelatihan, ruang gerak, dan kepercayaan. Ketika guru mendapatkan dukungan yang layak, mereka dapat menjalankan perannya sebagai pilar pendidikan dan penjaga pengetahuan ekologis bangsa.
Pada akhirnya, menghormati guru berarti menghormati masa depan. Menguatkan pendidikan berarti menguatkan konservasi. Dan merawat keanekaragaman hayati berarti merawat Indonesia itu sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
