Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image laila ramadhani

Kasus Katarak Makin Naik: Memahami Akar Masalah dan Solusi Pencegahannya

Info Sehat | 2025-11-22 19:38:00
sumber: blogs.icrc.org

Dari tahun ke tahun, kasus katarak masih menjadi penyebab kebutaan tertinggi di Indonesia, hingga Indonesia menjadi negara dengan beban katarak tertinggi di Asia Tenggara. Kondisi ini terlihat jelas, baik di kota besar, maupun daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), terutama pada masyarakat lansia. Menurut BPJS, kasus katarak melalui layanan jaminan kesehatan nasional (JKN) sangat besar. Di tahun 2024 sendiri, BPJS menangani 3,5 juta kasus yang menyebabkan beban anggaran sebesar 5,4 triliun. Hal ini menunjukkan beban peningkatan kasus katarak tidak hanya sebagai masalah klinis, tetapi juga sebagai beban finansial bagi sistem kesehatan di Indonesia.

Namun, hal yang jarang dibicarakan adalah kenyataan bahwa peningkatan kasus katarak tidak hanya disebabkan oleh faktor usia. Untuk memahami mengapa kasusnya terus meningkat, penting melihat apa yang sebenarnya terjadi pada kelainan mata ini. Katarak sendiri adalah kondisi ketika lensa mata menjadi keruh akibat penumpukan dan penggumpalan protein, terutama kristalin, di dalam lensa. Cahaya yang melewati lensa tersebar sehingga penglihatan tampak buram atau berkabut. Biasanya terjadi karena proses penuaan, namun faktor lain seperti paparan UV, diabetes, atau penggunaan steroid dapat mempercepat proses penggumpalan protein ini. Pola hidup, kondisi kesehatan masyarakat, dan minimnya deteksi dini juga berperan dalam meningkatnya kasus katarak di Indonesia.

Kasus katarak yang masih tinggi di Indonesia sebenarnya bukan sekadar persoalan medis, namun cermin dari masalah sosial dan struktural yang belum terselesaikan. Banyak orang masih menganggap katarak sebagai bagian proses alami dari penuaan, menganggap pandangan berkabut sebagai “tanda penuaan biasa” yang tidak perlu segera diperiksa, sehingga gejala awal sering diabaikan. Edukasi kesehatan mata belum merata, dan pemeriksaan dan kontrol rutin belum menjadi kebiasaan masyarakat. Akibatnya, pasien baru mencari pertolongan ketika penglihatan sudah sangat menurun, pada tahap ketika operasi menjadi satu-satunya pilihan.

Adapula perihal akses terhadap layanan mata yang memadai masih jauh dari merata. Jumlah dokter mata di Indonesia terbatas disertai dengan fasilitas operasi katarak tidak selalu tersedia, terkadang pasien harus menempuh perjalanan jauh atau menunggu antrean panjang hanya untuk mendapatkan penanganan untuk memulihkan penglihatan mereka. Kondisi ini diperparah oleh tingginya paparan sinar UV di Indonesia, apalagi pada masyarakat yang memiliki profesi seperti petani, nelayan, dan pekerja konstruksi yang selalu bekerja di luar sepanjang tahun serta meningkatnya angka penyakit tidak menular seperti diabetes. kedua faktor ini secara langsung mempercepat kerusakan lensa mata. Beberapa masyarakat Indonesia pun memiliki kebiasaan buruk untuk membiarkan suatu gejala dan baru melakukan konsultasi dokter ketika gejala tersebut berkembang menjadi penyakit yang fatal.

Jika Indonesia ingin menurunkan kasus katarak, solusinya tidak cukup hanya dengan memperbanyak jangkauan pelayanan operasi. Pendekatan preventif yang kuat perlu dibangun melalui edukasi yang tepat, kebiasaan hidup yang lebih sehat, serta sistem layanan kesehatan yang mudah diakses masyarakat. Edukasi publik mengenai tanda awal katarak serta pentingnya pemeriksaan mata tahunan bagi usia 40 tahun ke atas perlu diperluas, sehingga masyarakat dapat mengenali gejala sedini mungkin. Membiasakan gaya hidup sehat, seperti mengontrol gula darah, membatasi konsumsi rokok dan alkohol, serta memperbanyak konsumsi makanan kaya antioksidan, juga berperan penting dalam menjaga kesehatan lensa mata. Perlindungan dari paparan sinar UV, terutama bagi pekerja luar ruangan, melalui penggunaan kacamata berproteksi UV atau topi lebar merupakan langkah sederhana namun berdampak besar.

Selain itu, pemerataan akses layanan kesehatan mata tetap menjadi kunci. Pemerintah daerah dan pusat perlu memperluas program operasi katarak gratis, menggerakkan mobil klinik, serta meningkatkan kegiatan bakti sosial ke wilayah terpencil. Integrasi pemeriksaan mata dalam check-up rutin, termasuk di posyandu lansia, dapat membantu menemukan kasus lebih awal sebelum kondisinya semakin parah. Dengan kombinasi edukasi, pencegahan, dan pemerataan layanan, Indonesia dapat bergerak menuju penurunan angka kebutaan akibat katarak secara signifikan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image