Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nailaa Nafisaa

Cinta Boleh Romantis, Tapi Tidak Perlu Patriarkis : Gen-Z Pilih Karier Daripada Menjadi Korban Tradisi

Humaniora | 2025-11-20 23:44:35
Gambar 1 : Karier women by pixabay
Gambar 2 : Merried by pixabay

AKULAH PATRIARKI KEKAR YANG.... shutttt..... Bro, patriarki masih berdiri di tengah-tengah ruang pernikahan? Sangat tidak kece yha, padahal zaman sudah semakin canggih sehingga kita dapat hidup melalui layar laptop dan dapat mendapatkan cinta melalui swipe right. hal tersebut menimbulkan banyak anak muda mulai berpikir ulang tentang hal-hal yang dulu dianggap “harga diri”. Salah satunya adalah pernikahan. Kalau dulu menikah adalah lambang kedewasaan, status sosial, dan bukti sebuah kesuksesan, sekarang banyak Gen Z yang justru berfikir dua kali. “Ngapain nikah kalau cuma bikin kehilangan jati diri?” Begitu kira-kira isi hati generasi yang tumbuh bersamaan dengan era transformasi dan kesadaran sosial.

Gen Z tidak anti cinta. Mereka masih percaya cinta itu indah selama tidak dibungkus dengan patriarki. Permasalahannya banyak rumah tangga yang masih betah berdiri di ruang patriarki. Ia bersembunyi di balik kalimat manis seperti “istri yang baik harus nurut” atau “suami itu pemimpin keluarga”. Padahal, patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki di posisi superior, dan perempuan di kursi belakang dipuji karena pengorbanannya, tapi jarang diberi kendali atas hidupnya sendiri (Mansour Fakih ,2013).

Bagi Gen Z, pola semacam ini sudah kedaluwarsa. Mereka tumbuh di dunia yang bicara lantang soal kesetaraan dan kebebasan. Mereka tahu bahwa cinta tidak seharusnya jadi ajang siapa yang lebih dominan, tapi siapa yang saling mendukung. Mereka belajar bahwa bahagia bukan berarti harus menikah muda, punya buah hati 2, rumah minimalis, dan karier setengah jalan. Bahagia itu ketika bisa jadi diri sendiri tanpa harus minta izin pada tradisi.

Bro, masih ingat denganTren “Marriage Is Scary” yang viral di media sosial? Yupss, ini bukan Cuma sekedar bahan meme melainkan bentuk keresahan yang nyata. Banyak Gen Z yang tumbuh dengan relasi tidak seimbang di sekitar mereka. Kondisi lingkungan menjadi faktor kerisauan yang berlanjut tanpa jawaban. Ibu yang terus berkorban, ayah yang dikejar ekspektasi, dan keluarga yang dijaga cuma biar “nggak malu di mata tetangga”. Seperti kata (Sylvia Walby ,1990), patriarki adalah struktur sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi tidak seimbang di berbagai institusi dan sayangnya, keluarga sering jadi panggung utamanya.

Tapi jangan salah, Gen Z bukan generasi yang takut cinta. Mereka cuma lebih realistis. Mereka paham bahwa cinta tanpa kesetaraan adalah jebakan yang dibungkus manis. Mereka tahu, “bahagia selamanya” tidak mungkin tercapai jika salah satu pihak harus berhenti tumbuh. Makanya, banyak dari mereka yang memilih fokus dulu pada karier, mimpi, dan self-love. Karena buat mereka, mencintai diri sendiri juga bentuk cinta yang paling jujur. Kasus ini mungkin, di mata generasi sebelumnya, pandangan ini terdengar “kebarat-baratan” atau “kurang berani berkomitmen”. Tapi kenyataannya, Gen Z justru sedang berkomitmen—pada diri sendiri, pada mimpi, dan pada kebahagiaan. Mereka bukan generasi yang anti pernikahan, tapi generasi yang sadar bahwa menikah seharusnya bukan kehilangan jati diri, melainkan kolaborasi dua manusia yang setara.

Bro, lewat keberanian Gen Z untuk bilang “nggak dulu, deh”, kita akhirnya bisa belajar bahwa cinta bukan tentang siapa yang punya siapa, tapi tentang siapa yang tetap bebas berekspresi walau saling memiliki. Karena di ujung semua narasi ini, cuma ada satu kebenaran sederhana: cinta boleh romantis, tapi tidak harus patriarkis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image