Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Roma Kyo Kae Saniro

Manuskrip Astrologische Abhandlung: Membaca Nasib atau Membaca Alam?

Eduaksi | 2026-05-29 12:51:18

oleh Roma Kyo Kae Saniro

Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Ilustrasi Manuskrip Astrologische Abhandlung: Membaca Nasib atau Membaca Alam? (Sumber: Gambar Dibantu AI)

Di Berlin, ribuan kilometer dari Sumatra dan Semenanjung Melayu, tersimpan sebuah manuskrip kecil tentang astrologi. Ironisnya, sebagian warisan intelektual Melayu justru lebih mudah diakses di perpustakaan Eropa daripada di tanah tempat ia dilahirkan. Hal ini dapat diliat dari adanya manuskrip Astrologische Abhandlung yang tersimpan di Staatsbibliothek zu Berlin dan dapat diakses melalui proyek digitalisasi Orientalische Handschriften digital. Naskah ini berisi mengenai astronomi yang kadang kala kita kaitkan dengan ramalan bintang atau zodiak seseorang.

Namun, sebelum lebih jauh untuk membahas terkait astrologi tersebut, kita akan mengulas terlebih dahulu salah satu manuskrip yang memuat pengetahuan astrologi, yaitu manuskrip Astrologische Abhandlung. Secara bibliografis, naskah ini tercatat dengan PPN 774080485, memiliki signatur Schoemann XI 3, 22, dan tersedia dalam bentuk digital melalui tautan resmi perpustakaan. Kategori naskah ini diklasifikasikan sebagai manuskrip Islam non-Eropa (Außereuropäische, Islamische Handschriften), yang menunjukkan asal-usul dan konteks kebudayaan di luar tradisi Eropa Barat.

Secara tematis, judul Astrologische Abhandlung menegaskan bahwa isi naskah berkaitan dengan ilmu astrologi, yaitu cabang pengetahuan tradisional yang mempelajari keterkaitan antara peredaran benda-benda langit dan kehidupan manusia. Dalam tradisi intelektual Islam–Melayu, astrologi kerap diposisikan berdampingan dengan ilmu falak (astronomi), hisab, dan pengetahuan waktu, serta berfungsi sebagai sarana untuk menentukan hari baik dan buruk, membaca tanda-tanda kosmik, dan menafsirkan fenomena alam.

Keberadaan manuskrip semacam ini mengingatkan kita bahwa masyarakat Melayu masa lalu memiliki cara tersendiri dalam memahami dunia. Mereka hidup jauh sebelum hadirnya teleskop modern, aplikasi cuaca, atau kecerdasan buatan yang mampu memprediksi berbagai kemungkinan. Namun, keterbatasan teknologi tidak membuat mereka berhenti mengamati alam. Langit, peredaran bulan, posisi bintang, dan perubahan musim dibaca sebagai petunjuk untuk menata kehidupan sehari-hari. Dari sinilah muncul pertanyaan yang menarik: apakah astrologi dalam manuskrip seperti Astrologische Abhandlung sesungguhnya dimaksudkan untuk meramal nasib manusia, atau justru merupakan upaya membaca keteraturan alam yang diyakini memengaruhi kehidupan?

Pertanyaan tersebut penting diajukan karena selama ini astrologi sering kali dipersempit menjadi sekadar ramalan zodiak yang muncul di media sosial atau majalah populer. Akibatnya, banyak orang memandang astrologi sebagai praktik takhayul yang tidak memiliki nilai pengetahuan. Padahal, jika ditelusuri melalui manuskrip-manuskrip lama, astrologi hadir sebagai bagian dari sistem pengetahuan kosmologis yang berupaya menjelaskan hubungan antara manusia, waktu, dan alam semesta.

Bukan untuk mempertentangkan pengetahuan tradisional dengan ilmu pengetahuan modern, melainkan untuk memahami bahwa setiap zaman memiliki cara sendiri dalam membaca dunia. Jika hari ini kita mempercayakan prediksi cuaca kepada satelit, algoritma, dan pusat data, masyarakat masa lalu mempercayakan pembacaan alam kepada pengamatan langit yang diwariskan melalui manuskrip. Perbedaannya terletak pada metode dan teknologi, tetapi keduanya lahir dari kebutuhan yang sama: memahami ketidakpastian hidup.

Karena itu, manuskrip Astrologische Abhandlung menarik untuk dibaca bukan semata-mata karena berbicara tentang astrologi, melainkan karena ia merekam cara berpikir masyarakat Melayu dalam membangun pengetahuan. Naskah ini mengingatkan kita bahwa warisan intelektual nenek moyang tidak selalu berbentuk hikayat atau cerita kerajaan, tetapi juga pengetahuan tentang alam semesta. Pertanyaan yang tersisa bagi kita hari ini bukan lagi apakah astrologi itu benar atau salah, melainkan apakah kita masih cukup peduli untuk membaca, memahami, dan menghargai pengetahuan lokal yang diwariskan oleh masa lalu.

Pada masa kini, astrologi semata-mata berkaitan dengan ramalan nasib, zodiak, atau prediksi masa depan yang bersifat spekulatif. Pandangan tersebut memang tidak sepenuhnya keliru jika merujuk pada praktik astrologi populer yang banyak beredar saat ini. Akan tetapi, pemahaman demikian sering kali menyederhanakan posisi astrologi dalam sejarah pengetahuan manusia. Dalam berbagai tradisi peradaban kuno, termasuk tradisi Islam dan Melayu, astrologi merupakan bagian dari upaya manusia memahami keteraturan alam semesta melalui pengamatan terhadap benda-benda langit, siklus waktu, serta hubungan simbolik antara kosmos dan kehidupan di bumi.

Dalam manuskrip-manuskrip Melayu, astrologi tidak hadir sebagai pengetahuan yang berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan ilmu falak (astronomi), hisab, penanggalan, dan berbagai pengetahuan praktis lainnya. Pengetahuan tersebut digunakan untuk menentukan waktu yang dianggap tepat dalam berbagai aktivitas kehidupan, seperti bercocok tanam, berlayar, membangun rumah, mengadakan perjalanan, hingga melaksanakan kegiatan sosial dan keagamaan. Dengan kata lain, astrologi pada masa itu lebih berfungsi sebagai instrumen untuk membaca pola-pola alam dan mengelola kehidupan berdasarkan pemahaman terhadap siklus waktu yang diyakini memiliki pengaruh terhadap aktivitas manusia.

Jika ditelaah lebih jauh, praktik ini lahir dari kebutuhan masyarakat tradisional untuk beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Sebelum hadirnya teknologi modern, satelit cuaca, dan sistem prediksi berbasis data, manusia mengandalkan pengamatan jangka panjang terhadap gejala alam. Perubahan musim, fase bulan, kemunculan gugusan bintang tertentu, serta pergerakan matahari menjadi sumber informasi penting dalam menentukan berbagai keputusan. Dalam konteks inilah astrologi berkembang sebagai salah satu cara masyarakat mengorganisasi pengalaman kolektif mereka terhadap alam semesta. Astrologi bukan semata-mata berbicara tentang nasib individu, melainkan tentang upaya memahami ritme kosmos yang diyakini berhubungan dengan kehidupan manusia.

Manuskrip Astrologische Abhandlung dapat dipahami dalam kerangka tersebut. Naskah ini menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu memiliki tradisi intelektual yang berusaha menjelaskan hubungan antara manusia, waktu, dan alam semesta melalui sistem pengetahuan yang mereka miliki. Meskipun sebagian konsep yang terdapat di dalamnya mungkin tidak lagi sejalan dengan paradigma sains modern, naskah ini tetap memiliki nilai penting sebagai rekaman sejarah cara berpikir manusia. Ia memperlihatkan bagaimana masyarakat Melayu dan Islam pada masa lalu membangun pengetahuan berdasarkan observasi, pengalaman, dan keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun.

Membaca manuskrip astrologi tidak seharusnya dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali praktik ramalan atau mempercayai prediksi nasib secara mentah. Yang lebih penting adalah memahami bahwa di balik teks-teks tersebut tersimpan jejak intelektual masyarakat yang berusaha menjawab pertanyaan mendasar tentang kehidupan: bagaimana manusia memahami alam, bagaimana mereka menafsirkan waktu, dan bagaimana mereka mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Dalam perspektif ini, astrologi menjadi bagian dari sejarah pengetahuan yang menunjukkan kreativitas manusia dalam membaca dunia sebelum hadirnya perangkat ilmu pengetahuan modern.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah apakah astrologi dalam manuskrip-manuskrip lama itu benar atau salah menurut ukuran sains kontemporer. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat menghargai warisan intelektual tersebut sebagai bagian dari perjalanan panjang manusia dalam memahami alam semesta. Sebab, setiap peradaban memiliki caranya sendiri untuk membaca dunia, dan manuskrip astrologi merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat Melayu pernah memiliki tradisi kosmologis yang kaya, sistematis, dan layak ditempatkan sebagai bagian dari sejarah pengetahuan Nusantara.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image