Sanggar Titisan Karuhun: Ruang Kesenian dan Budaya di Tanah Simpenan
Edukasi | 2026-07-18 23:03:32
Seni dalam bentuk umun seringkali diartikan sebagai bentuk ekspresi dan keindahan seperti seni musik, seni tari, seni akting dan berbagai macam lainnya. Di Indonesia yang notabenya daerah kepulauan dengan ribuan pulau tentunya memiliki banyak budaya dan tradisi. Jawa barat salah satu daerah yang masih memegang nilai budaya dan tradisi yang diwariskan leluhur secara turun temurun. Kesenian yang terdapat di daerah ini salah satunya adalah seni debus.
Debus sering kali diartikan sebagai suatu pertunjukan yang mistis atau selalu dikaitkan dengan hal-hal gaib. Sosok yang berkecimpung dalam seni debus ialah Sansan Ariansyah atau yang akrab disapa Kang Sansan seseorang yang terlahir di tanah Pasundaan tepatnya Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Menurutnya, debus adalah seni dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun yang di dalamnya terkandung banyak nilai filosofis dan ajaran hidup.
Sebagai contoh, dalam seni debus terdapat atraksi menyayat lidah menggunakan golok ataupun silet yang apabila dimaknai memiliki pesan bahwa lidah atau mulut bisa lebih tajam daripada silet silet dan pada setiap adegan selalu diberangi dengan dzikir dalam hati sambal menyebut asma “Allah Allah” untuk menambahkan keyakinan agar senantiasa ingat kepada Tuhan. Biasanya sebelum melakukan adegan debus pelaku seni debus melakukan rajah (berdoa) terlebih dahulu untuk meminta ijin dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pemaknaan tersebut menunjukkan bahwa setiap atraksi dalam seni debus bukan sekadar mempertontonkan keberanian atau kekebalan tubuh, melainkan menjadi media penyampaian nilai moral kepada masyarakat. Kang Sansan menjelaskan bahwa setiap gerakan, alat, hingga tata cara pertunjukan memiliki simbol yang mengajarkan manusia agar mampu mengendalikan diri, menjaga ucapan, serta menghormati sesama. Nilai-nilai inilah yang sering kali luput dipahami oleh masyarakat yang hanya melihat debus dari sisi atraksinya saja.
“Aggapan bahwa debus identik dengan praktik mistis muncul karena kurangnya pemahaman terhadap sejarah dan filosofi kesenian tersebut”, begitu tuturnya.
Padahal, dalam perkembangannya debus tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan Nusantara yang sarat akan nilai spiritual, kedisiplinan, keberanian, serta penguatan karakter. Seorang pemain debus tidak hanya dituntut memiliki kemampuan fisik, tetapi juga harus memiliki akhlak yang baik, sikap rendah hati, dan tanggung jawab dalam menjaga warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Sebagai pegiat seni dan budaya, Kang Sansan juga aktif memperkenalkan debus kepada generasi muda melalui Sanggar Titisan Karuhun yang ia dirikan. Sanggar tersebut menjadi ruang belajar bagi anak-anak hingga remaja untuk mengenal berbagai kesenian Sunda, termasuk debus, pencak silat, seni lengser, dan nilai-nilai budaya lokal lainya. Baginya, melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan pertunjukannya, tetapi juga harus mewariskan makna yang terkandung di dalam setiap tradisi.
Di tengah arus modernisasi, Kang Sansan menyadari bahwa minat generasi muda terhadap budaya daerah semakin berkurang. Oleh karena itu, ia berusaha menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan anak-anak muda melalui pertunjukan yang edukatif, pelatihan rutin, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana memperkenalkan filosofi seni debus kepada masyarakat luas. Ia berharap generasi muda tidak hanya bangga mengenakan identitas budaya Sunda, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Baginya, debus bukanlah pertunjukan untuk menantang bahaya ataupun menunjukkan kesaktian seseorang. Debus adalah simbol perjuangan manusia dalam mengendalikan hawa nafsu, membangun keberanian, serta menjaga keseimbangan antara kekuatan fisik dan batin. Ketika filosofi tersebut dipahami, masyarakat akan melihat bahwa seni debus merupakan warisan budaya yang kaya akan pesan kehidupan.
Melalui dedikasinya, Kang Sansan ingin membuktikan bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman. Ia percaya bahwa warisan leluhur akan tetap hidup apabila terus dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, seni debus tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi sumber pendidikan karakter yang relevan bagi kehidupan masyarakat masa kini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
