Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Noor Ain Isnani

Cerita Lembaran Tua: Catatan Perjalanan Menelusuri Manuskrip Sijunjung

Sejarah | 2026-07-22 00:03:54
Praktek menganalisa data manuskrip, sumber : Panitia Riset dan Pengembangan Manuskrip

Sebagai salah satu peneliti muda yang tergabung dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Unand selama10 hari kami berkesempatan menelusuri tempat-tempat bersejarah di kabupaten Sijunjung dengan tujuan kegiatan Riset dan Pengembangan Khazanah Manuskrip Sumatera Barat. Setiap hari yang berlalu selalu menghadirkan pengalaman baru, mulai dari melihat tempat-tempat bersejarah tersimpannya manuskrip, membuka lembar demi lembar manuskrip yang usianya ratusan tahun, berdiskusi dengan para pewaris naskah, hingga menikmati perjalanan yang penuh canda, tawa, dan kebersamaan.

Pernah tersirat di hati, memang apa sih istimewanya sebuah Manuskrip?

Manuskrip bukan hanya soal lembaran-lembaran kertas tua yang kian hari kian rapuh. Namun, didalamnya tersimpan begitu banyak ilmu yang diwarisi ulama untuk masa depan yang lebih terarah. Berbagai bidang ilmu seperti Fiqih, Nahwu, Shorof, obat-obatan bahkan sebuah ramalan membaca tanda dari alam, Ta'bir gempa misalnya.

Begitu kayanya bukan? para leluhur sudah menyiapkan semua itu untuk kita beribu tahun yang lalu. Lantas seperti halnya kutipan ayat "...maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" Q.S Al-Jasiyah 23. Rugi nggak sih kalau ndak diteliti?

Digitalisasi Naskah, sumber : Panitia Kajian Riset dan Pengembangan Manuskrip

Dengan memanfaatkan teknologi yang semakin canggih seiring berjalannya waktu, digitalisasi naskah merupakan sebuah solusi dalam upaya menjaga naskah agar tetap bisa dipelajari manusia di masa depan dan dijangkau lebih banyak orang di suluruh dunia. Digitalisasi juga cara supaya naskah fisik tidak sering di buka, karena tangan memiliki zat asam yang sangat tinggi yang bisa merusak naskah jauh lebih cepat. Dengan adanya teknologi, peninggalan sejarah lebih mudah di akses semua orang tanpa perlu khawatir merusak fisiknya dan tanpa perlu ke lokasi langsung.

Jejak peradaban harus tetap abadi, kita sebagai generasi penerus memiliki peran penting dalam menjaga sejarah agar tetap lestari.

Perjalanan ini membuka pikiran saya untuk lebih peka pada lingkungan sekitar. Ternyata sejarah begitu dekat, saling berdampingan sampai saat sekarang. Hanya saja tak banyak orang yang peka dan peduli akan hal itu. Nyatanya kadang banyak hal yang kita lewati tanpa meliriknya sebagai sumber ilmu yang mesti diteliti.

Pengalaman terjun langsung kelapangan melihat kondisi naskah dan bisa berinteraksi dengan ahli waris merupakan momen yang berharga. Sambutan hangat yang kami dapati ketika menelusuri tempat-tempat keberadaan manuskrip di Sijunjung langsung menyentuh hati dan memperkuat keyakinan diri bahwa tak perlu waktu lama untuk menciptakan rasa kekeluargaan. Waktu mungkin memiliki batas dan sering kali menghadirkan jarak, namun perjalanan tidak usai disini. Ibarat sebuah novel, ketika lembaran awal dibuka pastinya ingin berlanjut ke halaman berikutnya. Begitu juga dengan kami yang akan tetap berusaha mempelajari lembaran demi lembaran ilmu yang di wariskan oleh leluhur.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image