Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ananda Nabila Nur Atifa

Hidup Santai di Tengah Tugas: Cara Mahasiswa Menemukan Ruang Napas

Gaya Hidup | 2025-11-11 13:04:00

Di tengah tumpukan tugas, deadline presentasi, dan organisasi kampus yang terasa tidak pernah libur, beberapa mahasiswa mulai mencari cara untuk tetap waras. Di balik segala keriuhan itu, mereka mulai menemukan ruang-ruang kecil untuk istirahat, meski hanya lima menit. Di kamar kos, di taman kampus, atau di kantin belakang fakultas, hidup yang pelan ternyata bisa dirayakan.

Hidup sebagai mahasiswa seringkali identik dengan kata “sibuk.” Kuliah pagi, rapat siang, revisi malam. Belum lagi tekanan sosial untuk selalu tampil aktif dan produktif. Tidak heran kalau banyak mahasiswa mulai merasa lelah secara mental.

Ainna Raihana, mahasiswi semester lima, mengaku pernah berada dalam fase merasa harus selalu ikut berbagai kegiatan kampus. Namun belakangan ini ia memilih untuk memperlambat langkahnya.

“Aku lebih milih fokus ke kuliah dulu sambil pelan-pelan nyari passion aku,” ujarnya.

Ia menyadari bahwa menjalani semua hal sekaligus hanya karena takut tertinggal justru membuat diri mudah jatuh.

“Aku nggak mau terburu-buru atau fomo ikut kegiatan orang lain. Aku masih ngukur kemampuan aku, takut nanti malah nggak bisa tanggung jawab atau komitmen,” jelasnya.

Penerapan slow living bagi Ainna dimulai dari hal sederhana: membaca dan menulis. Aktivitas yang dulu terkesan sepele itu kini menjadi cara untuk menemukan dirinya.

“Ternyata sedikit-sedikit aku nemu passion dari baca. Nambah kosa kata juga, jadi kalau ada tugas nulis atau mengarang itu jadi lancar banget,” tuturnya.

Namun proses ini bukan berarti bebas dari rasa lelah. Ada hari-hari ketika ia tetap burnout dan pikiran terasa penuh. Saat itu terjadi, Ainna memilih kegiatan yang membuatnya merasa ringan.

“Kalau lagi burnout atau nggak bisa tidur, aku biasanya masak atau jalan-jalan ke taman Summarecon. Biar kepala fresh lagi,” katanya.

Fenomena ini mencerminkan perubahan cara berpikir sebagian mahasiswa. Produktivitas tidak lagi diukur dari seberapa banyak yang dilakukan, melainkan bagaimana seseorang tetap hadir untuk dirinya sendiri. Slow living bukan tentang melambat secara total, tetapi memberi ruang untuk bernapas di antara rutinitas yang tidak pernah berhenti.

Hidup sebagai mahasiswa tidak harus selalu terlihat berlari cepat. Kadang langkah paling penting justru adalah berhenti sejenak. Slow living bukan berarti menyerah dari produktivitas, tapi memahami bahwa diri juga punya batas. Dalam kesibukan kampus yang tidak pernah istirahat, menemukan ruang napas adalah cara sederhana untuk tetap bertahan, tumbuh, dan tetap menjadi diri sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image