Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

The Heroes: Ayah, Pahlawan untuk Rumah dan Bangsa

Eduaksi | 2025-10-14 12:35:43

Ditulis Oleh : Takdir Alim Syah

Saat itu, si Kelinci rupanya tertidur. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh si Kura-kura. Tanpa menunggu lama, si Kura-kura dengan bersemangat menyelesaikan lomba itu dan akhirnya dimenangkan olehnya.

Sepenggalan kisah di atas mungkin sangat familiar bagi kita semua. Namun, apakah kisah itu sudah selesai? Ternyata, di versi lainnya, kisah ini belum selesai. Singkatnya, si Kelinci, yang sudah menyadari sikap sombongnya yang salah itu, menantang si Kura-kura untuk kembali berlomba. Lalu, si Kelinci memenangkan lomba ke dua itu.

Selesai?

Belum!

Si Kura-kura kembali menantang si Kelinci yang akhirnya dimenangkan oleh si Kura-kura karena jalur lomba harus menyeberangi sungai. Selesai? Belum juga. Karena si Kelinci kembali mengajak lomba, tetapi dilakukan bersama.

Awal lomba, si Kelinci akan menggendong si Kura-kura hingga pinggir sungai. Setelah itu, si Kura-kura menggendong si Kelinci untuk menyeberangi sungai. Akhirnya mereka berdua menyelesaikan lomba bersama-sama dan jadi teman selamanya.

Happy ending untuk akhir cerita yang sangat menyenangkan. Sungguh menarik bukan? Kisah yang umumnya biasa menjadi tidak biasa karena ada “bumbu” yang ditambahkan agar cerita itu memiliki POV berbeda. Lalu, mengapa cerita itu menjadi menarik?

Semua berawal dari sebuah keresahan yang muncul dari masyarakat belakangan ini. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga-Kepala BKKBN Wihaji mengatakan 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa peran ayah (fatherless) yang menyebabkan mereka mengalami hambatan perkembangan emosi, sosial, dan kognitif (Tempo.co). Peran ayah menjadi hal penting dalam perkembangan anak di semua aspek. Bila peran itu hilang, maka anak kekurangan role model dalam menghadapi lika-liku kehidupannya nanti.

Lalu, apa saja faktor yang menyebabkan peran ayah menghilang dari perkembangan anak? Dari beberapa kondisi, faktor tersebut antara lain kehadiran fisik, kehadiran emosional, dan sosial budaya masyarakat menjadi penyebab munculnya kondisi tersebut.

Kehadiran Fisik

Setiap anak pasti akan menantikan kehadiran, secara fisik, kedua orang tuanya, khususnya ayah, di dekat mereka. Namun, kadang kondisi keluarga tidak memungkinkan hal itu terjadi. Misalnya saja, ayah yang meninggal dunia, perceraian, dan ayah yang bekerja jauh dalam waktu lama. Bila kondisi tersebut menimpa anak, maka akan ada potensi peran ayah berkurang.

Kehadiran Emosional

Namun, terkadang kondisi di atas tidak terjadi. Ayah selalu ada setiap hari di rumah atau memiliki waktu yang cukup berada di rumah bersama keluarga. Hanya saja kehadiran ayah hanya dalam bentuk fisik saja, tidak secara emosional dan psikis hadir di sisi anak. Maka akan ada potensi peran ayah berkurang akan muncul

Sosial Budaya

Beda lagi dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang berbeda. Ada persepsi yang muncul bahwa ayah hanya bertugas mencari nafkah dan ibu menjaga anak dan merawatnya. Belum lagi dengan kondisi personal ayah yang mungkin sedang menghadapi permasalahan pribadi. Lalu, bentuk role model seperti apa yang akan diharapkan muncul bila hal itu terjadi di antara anak kita?

“Jadilah berguna”, ungkapan ini muncul dari seorang Arnold Schwarzenegger di situs web ameera.republika.co.id karena mengenang jasa ayahnya yang membentuk kepribadian dirinya dari kecil hingga saat ini. Banyak momentum antara ayah dan anak untuk dijadikan momen sejarah membentuk kepribadian anak. Ayah perlu menciptakan momen itu karena anak adalah investasi sebuah bangsa. Merekalah yang nantinya akan mengganti peran-peran penting bangsa ini di masa depan. Mulailah dari sekarang, mulai menjadi seorang pahlawan sebenarnya di dalam keluarga dan bangsa.

Hal yang mungkin paling sederhana bagi ayah untuk membuat momentum itu adalah bercerita. Seperti kisah si Kelinci dan si Kura-kura di atas. Kehadiran ayah yang penuh kasih akan memberikan rasa aman dan kepercayaan diri pada anak https://dp3appkb.bantulkab.go.id. Sekadar obrolan dan cerita-cerita ringan menjadi sarana bagi ayah untuk bisa lebih dekat kepada anak dan saling mengenal satu dan lainnya.

Nah, sebagai ayah, saatnya memulai cerita kepada anak. Dengan bercerita (hal sederhana bukan?) akan membentuk persepsi positif anak, menjadi modal, dan model mereka di saat dewasa kelak.

Ayah dapat menggunakan kisah kelinci dan kura-kura itu atau yang lainnya. Bebas saja. Pertanyaannya, apakah kisah si Kelinci dan si Kura-kura itu sudah benar-benar selesai? Silakan dijawab dengan bercerita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image