Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Igist Adhyasta Pamungkas

Kini Jenis Gender Anak Bisa Dirancang? Ilmu dan Etika di Baliknya

Teknologi | 2025-09-25 07:23:21
Perkembangan teknologi kedokteran terus membuka peluang yang sebelumnya hanya terlihat dalam film fiksi ilmiah. Salah satunya adalah kemampuan untuk memilih jenis kelamin anak sebelum lahir. Pertanyaannya, benarkah suami-istri sekarang bisa menentukan apakah mereka ingin anak laki-laki atau perempuan?

Bagaimana Teknologi Ini Bekerja

Secara alami, jenis kelamin ditentukan oleh kromosom. Sel telur ibu selalu membawa kromosom X, sedangkan sperma ayah bisa membawa kromosom X atau Y. Kombinasi XX akan menghasilkan anak perempuan, sementara XY menghasilkan anak laki-laki. Namun dengan teknologi reproduksi berbantu, proses ini dapat diarahkan. Melalui Preimplantation Genetic Diagnosis (PGD) dalam program bayi tabung (IVF), dokter dapat memeriksa kromosom embrio sebelum ditanamkan ke rahim. Embrio dengan jenis kelamin yang diinginkan dapat dipilih. Ada juga metode sperm sorting, yaitu pemisahan sperma pembawa X dan Y, yang meningkatkan peluang melahirkan anak sesuai harapan orang tua.

Penelitian dan Fakta Lapangan

Studi oleh Hodes-Wertz dkk. (2013) yang dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility menemukan bahwa lebih dari 70% klinik fertilitas di AS menawarkan layanan pemilihan jenis kelamin meskipun tanpa alasan medis.Riset terbaru oleh Xu K. dkk. (2023) juga menemukan bahwa dari ribuan siklus IVF dengan PGD, 45,5% pasangan memilih embrio berdasarkan jenis kelamin. Dari jumlah itu, 56,5% memilih embrio laki-laki, sedangkan 43,5% memilih embrio perempuan.Contoh nyata dapat dilihat di klinik fertilitas di California, AS. Mereka bahkan menawarkan layanan “family balancing”, contohnya pasangan yang sudah memiliki dua anak laki-laki dapat memilih embrio perempuan untuk anak berikutnya.

Pro-Kontra di Dunia MedisMeskipun teknologi ini ada, kontroversi seputar hal ini tidak dapat dihindari. American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menekankan bahwa pemilihan jenis kelamin sebaiknya hanya untuk alasan medis, seperti pencegahan penyakit genetik tertentu.Alasannya jelas: jika masyarakat terlalu condong memilih anak laki-laki atau perempuan, hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan gender dalam populasi. Kasus seperti ini sudah terlihat di beberapa negara Asia, termasuk India dan Tiongkok, yang akhirnya melarang praktik pemilihan jenis kelamin non-medis.

Kini jelas bahwa memilih jenis kelamin anak bukan lagi sekadar mimpi, melainkan kenyataan medis. Namun, kemampuan ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah kita benar-benar siap secara sosial dan etis untuk menentukan sesuatu yang selama ini ditentukan oleh alam?Teknologi memang memberikan pilihan, tetapi tanggung jawab etika ada di tangan manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image