Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

Dari Kritik Menjadi Kekuatan: Menemukan Resiliensi Sosial

Politik | 2025-09-06 07:26:57

Muliadi Saleh

Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan

Setiap bangsa diuji oleh zaman. Ada yang goyah lalu runtuh, ada pula yang terguncang namun justru menemukan kekuatannya. Indonesia hari ini sedang berada pada fase itu: dihujani kritik, diterpa tuntutan publik, tetapi sekaligus sedang belajar untuk menguatkan diri. Inilah yang dalam ilmu sosial disebut resiliensi sosial—kemampuan masyarakat untuk bangkit dan beradaptasi di tengah tekanan.

Kritik publik yang mengalir deras, dari jalanan hingga dunia maya, bukanlah tanda kehancuran. Ia justru pertanda bahwa nurani bangsa masih hidup. Tuntutan yang terdengar lantang menunjukkan bahwa rakyat masih percaya ada kemungkinan perubahan. Jika masyarakat apatis, diam, dan tidak peduli, barulah kita perlu cemas. Suara keras rakyat sesungguhnya adalah denyut kehidupan, tanda bahwa bangsa ini menolak menyerah pada ketidakadilan.

Resiliensi sosial tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari guncangan. Ia muncul ketika masyarakat terpaksa beradaptasi, menemukan cara baru, dan mengubah krisis menjadi peluang. Pandemi global memberi contoh nyata: di tengah keterbatasan, masyarakat Indonesia membangun solidaritas, dari gerakan berbagi masker hingga dapur umum. Energi sosial itulah yang membuat kita bertahan.

Hari ini, energi yang sama dibutuhkan. Kritik terhadap kebijakan, tuntutan atas transparansi, jeritan rakyat kecil tentang harga kebutuhan pokok—semua itu jangan dipandang sebagai ancaman. Pemerintah perlu melihatnya sebagai masukan, masyarakat sipil mengartikannya sebagai ajakan untuk berkontribusi. Resiliensi sosial hanya tumbuh jika negara dan rakyat bersedia belajar bersama.

Ibarat bambu yang lentur diterpa angin, bangsa yang resilien bukanlah bangsa yang kaku, melainkan yang sanggup menekuk dirinya tanpa patah. Kritik dan tuntutan adalah angin kencang yang membuat kita lentur, tetapi juga membuat akar kita semakin dalam. Dengan cara itu, bangsa tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh lebih sehat.

Resiliensi sosial mengingatkan kita bahwa kritik bukan tanda benci, melainkan bukti cinta. Tuntutan bukan beban, melainkan peta jalan menuju keadilan. Jika kita mampu menjadikannya energi bersama, maka badai sosial hari ini akan melahirkan Indonesia yang lebih matang, lebih adil, dan lebih beradab.

Bangsa ini tidak akan runtuh oleh kritik. Justru sebaliknya: ia akan runtuh bila kritik dibungkam. Selama rakyat masih berani bersuara, selama negara masih mau mendengar, selama kita semua masih percaya pada cita-cita bersama, maka resiliensi sosial akan terus menjadi fondasi yang membuat Indonesia berdiri tegak di tengah guncangan zaman.

---

Muliadi Saleh

Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image