Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Haekal Izzatul

Pemandi Jenazah Bukan Profesi, Tapi Panggilan Hati: Kisah Jalalludin Sang Pemandi Jenazah

Agama | 2025-07-20 00:24:55
Tempat Pemakaman Umum (TPU) di daerah Jakarta Selatan. Sejumlah makam terlihat  rapi dan asri. Foto: Dok. pribadi.
Tempat Pemakaman Umum (TPU) di daerah Jakarta Selatan. Sejumlah makam terlihat rapi dan asri. Foto: Dok. pribadi.

Tangerang, 19 Juli—Di balik hiruk-pikuk kehidupan yang penuh ambisi, ada satu sisi yang jarang disadari dan cenderung ditakuti oleh manusia: kematian. Ia datang tanpa permisi. Ia datang tak kenal waktu, usia, ataupun status sosial seseorang.

Kematian sering menimbulkan duka. Di balik selimutan duka tersebut, ada sosok-sosok yang hadir bukan untuk menangisi, tapi menjalankan tugas terakhir dengan penuh kehormatan: memandikan jenazah.

Salah satunya adalah Jalalludin, panggilan akrabnya Jalal (49), warga Tangerang, yang telah mengabdikan diri menjadi pemandi jenazah selama empat tahun terakhir.

“Memandikan jenazah ini sudah kurang lebih 4 tahun. Dari sekitar 2021,” ujar Jalal ketika diwawancarai di kediamannya, pada Jumat (18/7). “Awalnya sih, karena saya mengikuti pelatihan pemulasaran jenazah. Saat saya sudah selesai pelatihan dan mendapatkan sertifikat, banyak orang yang tau kalau saya sudah bisa untuk mengurus jenazah. Dari sana kemudian berlanjut sampai sekarang.”

Bagi Jalal, tugas ini bukanlah sekadar rutinitas keagamaan semata, melainkan bentuk pengabdiannya pada kemanusiaan. Di saat banyak orang menjauh karena rasa takut, trauma atau bahkan jijik, Jalal justru memilih untuk mendekat. Dia berdiri disamping jenazah dengan cinta dan niat tulus untuk menunaikan amanah.

“Kalau dibilang profesi, ini sebenarnya bukan, ya. Kalau bukan karena panggilan hati, saya rasa sulit untuk menjalaninya. Banyak orang yang punya ilmunya, tapi kalau belum ada panggilan dalam hatinya, kayaknya dia tidak akan terjun (menjadi pemandi jenazah),” ujar Jalal. Pernyataan itu menegaskan bahwa menjadi pemandi jenazah bukanlah sekadar tahu tata cara syariat, melainkan harus siap secara mental dan spiritual.

Jalal masih mengingat jelas pengalaman pertama kali ketika dia memandikan jenazah. Dia menjalani tugas pertamanya itu dengan penuh kekhawatiran dan ketakutan. Bukan takut akan hal-hal mistis, tapi kesalahan dalam menjalankan syariat. Namun meski dibayangi dengan ketakutan, ia tak gentar. Ia tetap melangkah.

“Pasti momen pertama kali yang dirasa pastilah mendebarkan, ya. Apalagi ini, kan, tugas yang sangat sakral dan mulia gitu. Jadi harus perlu ditangani dengan kehati-hatian,” ujar Jalal.

Menjadi pemandi jenazah juga mempertemukan Jalal dengan hal-hal yang sulit dijelaskan dengan logika. “Namanya pemandi jenazah, pastilah beberapa kali mengalami hal-hal mistis. Entah itu didatangi melalui mimpi atau yang lain, itu pernah saya alami sendiri,” kisahnya.

Meski sempat merasa takut, Jalal memilih untuk tetap fokus pada niatnya. “Saya husnudzon, berserah diri, tawakal aja sama Allah, karena, kan, niat awalnya juga mulia,” tegasnya.

Untuk memahami lebih jauh perspektif agama tentang tugas ini, saya menghubungi Ustadzah Efih Setiawati (52), seorang tokoh agama yang juga pimpinan Majelis Taklim Ittihadul Islamiyyah, Cipadu, Kota Tangerang.

Menurut Efih, seorang pemandi jenazah merupakan seseorang yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam Islam, karena mereka mengemban kewajiban agama. “Pemandi jenazah adalah profesi yang sangat mulia,” ujar Efih.

“Dalam Islam, hukum pemulasaran jenazah adalah fardhu kifayah, artinya jika tidak ada satu pun yang melakukannya, maka seluruh umat Islam di lingkungan itu akan menanggung dosa. Selain membantu keluarga jenazah, orang-orang seperti Pak Jalal ini juga membantu meringankan beban umat,” jelas Efih.

Di balik tugas yang Jalal jalani ini, ia menemukan pelajaran hidup yang sangat berharga. Ia menyadari bahwa hidup yang dijalaninya kini hanyalah titipan sementara “Semakin sering saya memandikan jenazah, semakin yakin pula bahwa suatu hari, pasti saya yang akan dimandikan,” ujarnya lirih.

Baginya, setiap jenazah yang ia mandikan adalah kenyataan tentang kehidupan: yang hidup, pasti akan mati. Tak peduli seberapa kaya atau berkuasa seseorang semasa hidupnya, pada akhirnya dia akan terbujur dalam diam, dibalut kain putih, dan diantarkan menuju liang yang sunyi.

Jalal memandang kehidupan ini sebagai anugerah dari Allah SWT yang harus digunakan sebaik-baiknya. “Gunakan hidup ini dengan sebaik-baiknya, memupuk amal dan hindari dosa, baik yang kecil atau yang besar. Ya, itu, hidup ini sementara, yang kekal nanti di akhirat,” jelas Jalal.

Namun, pengabdian mulia yang Jalal jalani tak selalu mendapat sambutan hangat dari lingkungan sekitarnya. Tak jarang Jalal menjadi sasaran komentar sinis dan cemoohan. “Kadang ada aja gitu, orang yang bilang, ‘ah, si dia sering mandiin jenazah, pasti seneng tuh kalau ada orang yang mati.’ Padahal tidak seperti itu,” tutur Jalal dengan meniru ucapan yang pernah ia dengar.

Bagi Jalal, menjadi seorang pemandi jenazah hanya dengan niat membantu. “Kita kalau ada yang meninggal, ya, pasti kita tolong, kan? Semua juga gitu, kalau tetangga sekitar kita ada yang meninggal ya pasti kita bantu keluarganya. Saya juga begitu, cuman bantu aja,” jelas Jalal dengan suara lirih.

Di akhir perbincangan kami, ada satu hal yang menjadi kekhawatiran mendalam bagi Jalal: regenerasi. Ia menyadari sebesar apapun niatnya dan semangatnya, suatu hari ia pasti akan menua dan tak sanggup lagi menjalani tugas ini. Saat hari itu tiba, siapa yang akan meneruskan?

“Saya sering mengajak orang lain yang lebih muda dari usia saya untuk menjadi asisten,” ujar Jalal. "Tapi ketika ditanya ‘apa mau menggantikan’ dia jawab enggak. Ya, itulah balik lagi kalau orang belum menerima panggilan di hatinya, akan susah untuk menjalaninya,” ujar Jalal.

Sebagai penutup, Jalal tetap menaruh harapan besar akan adanya orang yang menggantikan dirinya suatu hari nanti. “Pengen banget saya ada regenerasi, ada yang gantiin saya. Terutama dari kawula muda ada yang mau menjadi pemandi jenazah,” tutur Jalal.

“Supaya apa? Supaya pemandi jenazah ini tidak menjadi sosok yang langka di lingkungan sekitar kita. Jadi, jangan takut untuk menjadi seorang pemandi jenazah, karena ini bisa jadi ladang pahala kita nanti,” tutup Jalal.

———

Penulis: Haekal Izzatul Putra

Seorang mahasiswa semester 2 Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image