Dari Pembebas Jadi Penindas: Kelicikan Jepang Dalam Cerpen Marah Yang Marasai Karya A.A Navis
Sastra | 2025-05-22 10:58:32
Cerpen Marah Yang Marasai merupakan salah satu cerpen dari kumpulan cerpen karya A.A Navis. Cerpen ini ditulis pada tanggal 24 Juni 1998. Cerpen ini mengangkat tema propaganda dan manipulasi Pendudukan Jepang di Indonesia. Cerpen tersebut terjadi di daerah Padang di mana Marah Ahmad tinggal. Dari cerpen tersebut dapat kita ketahui bahwa latar waktu yang digunakan oleh A.A Navis yaitu tahun 1942, di mana seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Jepang mulai menjajah Indonesia mulai dari tahun tersebut setelah pengeboman pangkalan militer Amerika di Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1947. Cerpen ini menggambarkan suasana tegang, muram, dan ketidakpastiaan yang mencerminkan situasi masyarakat Indonesia pada masa transisi dari Belanda ke Jepang.
Marah Ahmad merupakan seseorang yang berdarah Padang yang bekerja sebaagai pegawai negeri yang telah mengabdi selama bertahun-tahun. Marah Ahmad pada awalnya merasa gamang ketika menyambut kedatangan Jepang setelah kekalahan Belanda. Ahmad tetap curiga terhadap pemerintahan Jepang meskipun sebagian masyarakat menganggap bahwa Jepang merupakan pembebas. Pada awalnya suasaana kota sangat tenang ketika Pendudukan Jepang di Padang, karena pemerintahan Jepang meminta warga menjaga ketertiban. Namun setelah bebrapa minggu, suasana berubah menjadi kacau karena terjadi penjarahan toko-toko Cina di mana-mana. Marah Ahmad syok melihat perubahan yang dilakukan oleh masyarakat. Kemudian ia baru menyadari bahwa semuanya terjadi karena provokasi dari Jepang.
Jepang sengaja melakukan hal tersebut, karena mereka ingin memanipulasi agar mereka mengambil alih kekuasaan militer. Rasa muak Marah Ahmad bertambah ketika tentara Jepang menembak para perampok yang merupakan orang suruhan mereka. setelah itu Jepang mengumumkan bahwa Jepang akan menguasai militer dan pemerintahan sekaligus melarang pengibaran bendera Merah Putih. Kemuakkan Marah Ahmad memuncak ketika upacara bendera Hinomaru, di mana ia menolak untuk membungkuk ke arah bendera tersebut. Hal tersebut membuat perwira Jepaang marah dan ia harus mengalah dan harga dirinya jatuh.
Ketika hari pertama Marah Ahmad masuk ke kantor ia datang dengan setengah hati. Namun, ketika ia melihat tentara Jepang memukul kepala pegawai tua karena ketika disuruh untuk membungkukkan baadan ia hanya menundukkaan kepala saja di situ hati Marah Ahmad tinggal seperempat. Kemudian ia dipanggil oleh Walikota dan ia hanya menganggukkan kepala sebagaimana sikapnya ketika berhadapan dengan Walikota Belanda. Hal tersebut memicu kemarahan Walikota, dan Marah Ahmad dicaci-maki, kemudian ia disuruh keluar, namun ia dipanggil lagi, ia tahu bahwa ia disuruh untuk meembungkuk, akhirnya ia membungkuk dan ketika itu lah hatinya habis tak bersisa. Karena itulah akhirnya Marah Ahmad berhenti kerja.
Setelah sepuluh hari tidak masuk kerja ia dijemput kampetai. Setelah limabelas hari ia bebas berkat bantuan sepupunya yang beristrikan Jepang. Ketika ia bebas, tubuhnya dipenuhi luka memar dan ibu jari kakinya terbalut oleh perban karena kukunya dicabut Kampetai waktu disiksa. Dan ketika ia berbica lagi kalimat yang diucapkan hanya "Nippon-Indonesia sama-sama" berulang-ulang.
Cerpen ini mengkritik kekuasaan Jepang di Indonesia yang bersifat otoriter dan memanipulasi rakyat. Dari cerpen tersebut pentingnya kita dalam mempertahankan prinsip yang kita miliki. Selain itu cerita ini mengingatkan kita, para pembaca, tentang pola manipulasi yang bisa saja terulang kembali.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
