Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rama Kurnia Santosa

Trauma dan Pengkhianatan yang Panjang

Sastra | 2026-02-10 20:19:58

Trauma bekerja seperti kecelakaan lalu lintas yang dilaporkan singkat di halaman belakang koran. Korbannya mungkin selamat, tetapi tubuhnya tidak pernah kembali utuh. Orang menyebutnya “berhasil bertahan”, sementara yang bersangkutan harus hidup dengan pincang yang tak terlihat. Begitu pula dengan pengkhianatan. Ia jarang membunuh seseorang secara langsung, namun hampir selalu merusak sesuatu yang lebih penting: kemampuan untuk percaya.

Aku dikecewakan bukan oleh satu kebohongan, melainkan oleh rangkaian dusta yang disusun rapi, seolah-olah kejujuran adalah kesalahan teknis yang bisa ditambal dengan kata-kata. Aku diperlakukan seperti orang bodoh yang sengaja dipelihara kebodohannya. Dan yang paling kejam dari semua itu adalah kenyataan bahwa aku tetap percaya—hingga pada satu titik, ketika bukti tidak lagi bisa dibantah, ketika realitas berdiri telanjang di hadapanku.

Pada saat itu, tubuh bereaksi lebih cepat daripada pikiran. Ada rasa mual, menahan muntah melihat isi percakapannya yang intim dengan seorang lelaki bajingan dan menjijikan. Aku melihat bahwa bibirnya mencium pispot jalang, lidahnya berlenggok mesra, dia tidur dengan seorang bajingan hampir beberapa kali dengan mencuri kesempatan. Tubuhku gemetar bukan karena cinta yang hilang, tetapi karena kesadaran bahwa kepercayaan bisa dipermainkan sedemikian rupa.

Tentu yang lebih mengganggu bukanlah pengkhianatan itu sendiri, melainkan cara pelakunya menolak tanggung jawab. Ia tampak menderita, bukan karena rasa bersalah, tetapi karena ketahuan. Dalam dunia yang terbalik, pelaku selalu menemukan posisi sebagai korban.Ia mengatakan semua itu terjadi tanpa perasaan. Kalimat yang tampak rasional, bersih, dan sangat berguna untuk mencuci dosa.

Namun tubuh yang borok, seperti sejarah, terlalu terlihat berbohong. Tindakan selalu lebih jujur daripada pernyataan. Dan di sanalah kontradiksi itu berdiri: antara kata-kata yang menenangkan dan perbuatan yang biadab selama ini dia lakukan.Perempuan yang murahan dan bajingan di dalam sistem moral yang rusak, pengkhianatan sering diberi justifikasi. Cinta dijadikan tameng, emosi dijadikan alasan, dan Tuhan diseret sebagai saksi sumpah yang tak pernah benar-benar dihormati. Orang bersumpah atas nama apa pun yang dianggap suci, lalu bertindak seolah sumpah hanyalah formalitas linguistik tanpa konsekuensi.

Namun sebab dan akibat tetap bekerja, meskipun manusia berusaha mengingkarinya. Mereka yang menanam badai akan selalu memanen kehancuran, cepat atau lambat. Bukan sebagai hukuman ilahi yang dramatis, melainkan sebagai hasil logis dari kesombongan yang tidak dikoreksi. Kehancuran jarang datang dengan suara keras; ia datang perlahan, menjadi kebiasaan, lalu menjadi badai.

Aku tidak mengklaim diri tanpa salah. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bersih. Tetapi ada perbedaan antara kesalahan dan pengkhianatan yang dilakukan dengan sadar. Dan perbedaan itu penting, karena di sanalah garis moral terakhir seharusnya ditarik.

Dalam dunia yang gemar memaafkan tanpa pertobatan, penolakan untuk memaafkan sering dianggap kejahatan. Padahal kadang, menolak memaafkan adalah satu-satunya cara menjaga kewarasan. Bukan untuk membalas, bukan untuk menang, melainkan untuk memastikan bahwa kebohongan tidak mendapatkan hak istimewa terakhir: dilupakan. Pengkhianatan harus menemukan jeranya dalam hukuman sosial. Perempuan jalang dan murahan harus diberi kenyataan bahwa dia tidak sesempurna cermin murahan miliknya.

Dan mungkin, pada akhirnya, itu saja yang tersisa—sebuah catatan dingin tentang bagaimana kepercayaan dihancurkan, dan bagaimana kehancuran itu, pelan-pelan, menemukan pemiliknya kembali.

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image