Mencintai dengan Cemas di Balik Hubungan yang Terlihat Baik-Baik Saja
Humaniora | 2026-02-15 21:59:37
Di luar, semuanya tampak baik. Foto berdua terlihat hangat. Percakapan di depan teman-teman terdengar mesra. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada drama yang diumbar. Namun di dalam hati salah satu dari mereka, ada gelombang kecil yang tidak pernah benar-benar tenang. Gelombang itu bernama cemas.
Mencintai dengan cemas adalah pengalaman yang sunyi. Ia tidak selalu terlihat, bahkan sering disembunyikan rapat-rapat. Seseorang bisa tertawa bersama pasangannya, tetapi diam-diam takut pesan terakhirnya terdengar salah. Ia bisa berkata tidak apa-apa, padahal pikirannya berlari ke mana-mana. Takut tidak cukup. Takut tergantikan. Takut suatu hari ditinggalkan tanpa penjelasan.
Filsuf Soren Kierkegaard pernah menulis bahwa kecemasan lahir dari kemungkinan. Kita cemas karena kita tahu sesuatu bisa terjadi. Dalam hubungan, kemungkinan itu nyata. Kita tahu orang yang kita cintai adalah pribadi yang bebas. Ia bisa memilih bertahan, tetapi juga bisa memilih pergi. Kesadaran itulah yang membuat hati kadang bergetar. Cinta selalu berjalan berdampingan dengan risiko.
Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving mengingatkan bahwa cinta bukan sekadar rasa, melainkan kemampuan. Kemampuan untuk memberi, untuk percaya, untuk berdiri sebagai pribadi yang utuh. Di titik ini, banyak kecemasan dalam hubungan sebenarnya bukan soal pasangan, melainkan soal diri sendiri. Luka lama yang belum sembuh sering ikut duduk di meja makan bersama hubungan yang baru.
Contohnya sederhana dan dekat dengan keseharian. Seseorang yang pernah dikhianati mungkin menjadi sangat peka terhadap perubahan kecil. Nada pesan yang lebih singkat saja bisa terasa seperti pertanda. Ia tahu tidak semua keheningan berarti jarak. Ia tahu tidak semua keterlambatan adalah tanda berpaling. Tetapi pengalaman masa lalu membuat tubuhnya waspada sebelum pikirannya sempat tenang.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang terlalu takut kehilangan sering kali menggenggam terlalu erat. Dan sesuatu yang digenggam terlalu erat justru mudah retak. Kecemasan yang tidak diolah bisa berubah menjadi kecurigaan, tuntutan validasi tanpa henti, atau kebutuhan untuk selalu diyakinkan. Padahal cinta yang sehat butuh ruang untuk bernapas.
Namun bukan berarti rasa cemas harus dihapus. Ia adalah bagian dari menjadi manusia. Jean Paul Sartre pernah menyinggung bahwa kesadaran akan kebebasan membuat kita gelisah. Dalam hubungan, kita sadar bahwa kita tidak bisa mengontrol segalanya. Kita hanya bisa mengontrol cara kita hadir.
Barangkali kunci dari mencintai dengan cemas bukanlah menunggu pasangan berubah, melainkan belajar menenangkan diri sendiri. Berani berkata jujur bahwa kita takut. Berani mengakui bahwa kita butuh diyakinkan, tanpa menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber rasa aman. Karena rasa aman yang paling kuat tumbuh dari dalam.
Hubungan yang terlihat baik-baik saja belum tentu bebas dari kegelisahan. Tetapi kegelisahan tidak selalu berarti hubungan itu salah. Kadang ia hanya menandakan bahwa dua orang sedang belajar. Belajar percaya. Belajar melepaskan bayangan masa lalu. Belajar memahami bahwa cinta bukan tentang memastikan tidak ada kemungkinan buruk, melainkan tentang tetap memilih satu sama lain meski kemungkinan itu ada.
Seperti pepatah lama yang mengatakan bahwa cinta bukan soal memiliki, melainkan merawat. Merawat berarti sabar pada pasangan, dan juga sabar pada diri sendiri. Mencintai dengan cemas bukan akhir dari cerita. Ia bisa menjadi awal dari kedewasaan, jika kita mau melihatnya sebagai undangan untuk bertumbuh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
