Etika Periklanan Bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Menjaga Kepercayaan Publik
Pendidikan dan Literasi | 2025-05-07 07:32:58Etika sebagai norma, prinsip dan standar dalam beriklan untuk menjaga pesan yang disampaikan sesuai. Etika penting untuk mengatur periklanan yang bertujuan untuk melindungi konsumen dari iklan yang menyesatkan, mendorong tanggung jawab sosial, menjaga kehormatan dan persaingan yang sehat, menegakkan nilai-nilai sosial. Pesan dalam periklanan tidak dituntut untuk menciptakan pesan yang viral tetapi sebagai pesan yang beretika dan bertanggung jawab sebagai pesan yang bernilai dan dipercayai, sehingga terciptanya kepercayaan publik dan membangun komunikasi yang sehat.
Iklan dalam kehidupan masyarakat penting karena sebagai informasi, kebutuhan sosial masyakat sehingga iklan yang dibuat oleh pelaku periklanan harus jujur, benar dan bertanggung jawab. Etika iklan sebagai bentuk tanggung jawab sosial, dimana iklan bukan hanya alat promosi untuk meningkatkan minat konsumen, tetapi untuk membentuk opini publik, nilai sosial dan perilaku masyarakat. Iklan tidak hanya menjual tetapi mempengaruhi cara berpikir masyarakat untuk menciptakan komunikasi yang tidak hanya efektif tetapi juga bermartabat sosial.
Bentuk dan contoh tanggung jawab sosial dalam iklan sebagai berikut:
1. Menampilkan keberagaman dan iklusitivitas.
Contohnya pada iklan Nike “You Can’t Stop Us” dimana iklan Nike menampilkan perbedaan latar belakang atlet seperti ras, jenis kelamin, agama, dan disabilitas. Iklan tersebut menyuarakan semangat sportivitas yang inklusif dan menyatukan semua kalangan tanpa diskriminasi. Nike sebagai produk yang tidak hanya menjual produk olahraga, tetapi juga menyuarakan pentingnya kesetaraan dan keberagaman di dunia olahraga dan masyarakat.
2. Mengangkat isu sosial seperti lingkungan, pendidikan, kesehatan.
Contohnya iklan Tokopedia x BTS “Mulai Aja Dulu” yang mengangkat semangat pendidikan dan pengembangan anak muda Indonesia. Dengan narasi bahwa setiap orang bisa memulai dari mana saja, sengan teknologi sebagai jembatannya. Iklan ini mendorong literasi digital dan semangat wirausaha pada generasi muda.
3. Tidak menyebarkan hoaks atau klaim berlebihan.
Contohnya pada iklan Pocari Sweat “Ion Penting Saat Tubuh Kehilangan Cairan” dengan menyampaikan fakta ilmiah jika tubuh kehilangan cairan saat beraktivitas Pocari Sweat dapat membantu menggantikan ion tubuh. Tidak berlebihan atau memberikan klaim tidak logis seperti “Pocari Sweat membuat tubuh super kuat”. Iklan ini menyampaikan manfaat produk berdasarkan sains.
4. Tidak menampilkan kekerasan, pornografi, diskriminasi atau penghinaan terhadap kelompok tertentu.
Contohnya iklan Telkomsel “Buka Semua Peluang” mengangkat kisah anak muda dari daerah terpencil yang mampu beradaptasi dengan akses internet. Tidak menampilkan kekerasan, tidak diskriminasi tetapi penuh motivasi, dimana mendukung semangat kemajuan tanpa mengeksploitasi atau menyinggung kelompok tertentu.
Sementara dari iklan yang dikonsumsi konsumen, peran konsumen sebagai pengontrol iklan dimana konsumen sebagai pengawas sosial jika iklan tidak jujur, tidak menyesatkan, dan tidak mengeksploitasi. Dan berhak melaporkan iklan yang bermasalah ke lembaga terkait, menolak iklan yang diskriminatif atau manipulatif, sehingga konsumen dapat memilih brand yang etis sebagai bentuk dukungan sosial. Iklan tidak hanya berperan sebagai alat promosi dari produsen kepada konsumen tetapi juga sebagai refleksi dari nilai sosial yang hidup dalam masyarakat.
Pedoman etika periklanan dibentuk melalui Etika Pariwara Indonesia (EPI) yaitu ketentuan normatif menyangkut profesi dan usaha dibidang periklanan yang telah disepakati untuk dihormati, ditaati, dan ditegakkan oleh asosiasi dan lembaga pengembangannya dan disepakati oleh pelaku periklanan untuk dijadikan pedoman bersikap dan bertingkah laku secara internal, sehingga iklan dapat sesuai dengan nilai-nilai yang di anut oleh masyarakat. Pedoman etika periklanan ini dijadikan rujukan utama dalam upaya penegakkan iklan, baik secara internal maupun dalam keterkaitannya dengan pihak lain.
Sementara fungsi dan tujuan etika periklanan yaitu sebagai teguran bagi para perlaku pengiklan yang iklannya berbohong atau melebih-lebihkan, karena tujuannya iklan sebagai media informasi. Maka etika periklanan ini diperlukan kontrol ketat untuk menghindari iklan yang tidak sesuai dengan nilai etika dan moral, menurut Yuni Mogat Prahoro (2021).
Etika periklanan berfungsi sebagai norma yang diatur untuk pelaku periklanan untuk menyampaikan pesan yang jujur, bertanggung jawab dan sesuai dengan nilai sosial. Iklan tidak hanya menjual produk, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan opini publik yang sehat. Dalam hal ini konsumen sebagai pengawas sosial juga sangat penting untuk menjaga isi iklan, iklan yang beretika bukan hanya membangun citra brand, tetapi juga membangun masyakarat yang kritis, inklusif, dan berdaya.
Lailani Octavia Rahmadhani
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
