Dilema Lulusan SMK Tata Boga: Kuliah atau Langsung Terjun ke Industri?
Sekolah | 2024-07-19 21:37:13Setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan tata boga, lulusan dihadapkan pada dua pilihan utama: kuliah atau langsung terjun ke dunia kerja. Setiap pilihan memiliki tantangan dan keuntungannya sendiri. Mereka harus mempertimbangkan banyak hal, seperti biaya, pengalaman, dan peluang kerja, karena keputusan yang dibuat bisa memengaruhi jalan karier dan perkembangan mereka di masa depan.
“Saya memilih untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu yang sudah diterima dari sekolah dengan bekerja di restoran atau hotel,” ujar Refi, alumni SMK Negeri 27 Jakarta jurusan tata boga yang kini bekerja sebagai pekerja harian food and beverage (F&B) servis di Hotel Park Hyatt Jakarta dalam wawancara langsung pada Senin, 8 Juli 2024.
Berbeda dengan Refi yang memilih bekerja, Afifah, alumni dari sekolah yang sama, memutuskan untuk berkuliah. “Awalnya saya ingin langsung bekerja di hotel tempat saya PKL (Praktik Kerja Lapangan) dulu, lalu ibu saya juga mengajak untuk buka bisnis bersama,” ungkap Afifah dalam wawancara langsung pada Rabu, 10 Juli 2024. Namun, peluang untuk melanjutkan studi ke Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta dengan Program Studi Seni Kuliner pun terbuka lebar bagi Afifah. “Nah, di awal tahun 2023 ada pengumuman siswa eligible untuk daftar Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Jadi saya putuskan untuk mencoba daftar dan ternyata lolos. Akhirnya saya melanjutkan kuliah,” tambahnya penuh semangat.
Meski berasal dari jurusan yang sama, pilihan Refi dan Afifah nyatanya berbeda setelah lulus dari SMKN 27 Jakarta. “Bekerja membuat saya memiliki banyak wawasan. Contohnya, saya mempelajari lebih lanjut tentang the art of napkin folding, teknik untuk set up table, melayani tamu, pengetahuan tentang kopi dan teh, dan macam-macam gelas,” Refi membuka percakapan dengan memaparkan keuntungan yang ia dapatkan dengan langsung terjun ke dunia kerja. “Bisa menambah kemampuan juga. Ketika saya menjadi Houseman, itu bertugas untuk menyiapkan acara. Belajar teknik pouring water, juga cara memegang botol wine,”lanjutnya.
Di sisi lain, afifah mengatakan bahwa salah satu keuntungan dari berkuliah adalah memperluas pengetahuan kulinernya, “Pastinya nambah relasi ya, memperdalam ilmu karena diperkuliahan ini teorinya lebih merinci. Selain itu, kuliah saya juga berjalan dengan lancar. Ini bukan sesuatu yang mengejutkan karena saya sebelumnya dari jurusan tata boga, sehingga saya memahami konsep dasar. Praktik di perkuliahan juga lebih sering dilakukan karena selama di SMK terhalang pandemi, sekalinya tatap muka langsung PKL,” paparnya.
Seiring berjalannya waktu, Refi dan Afifah mengalami tantangan yang cukup berbeda,“Menjadi Houseman membuat saya memiliki tanggung jawab yang besar,” ungkap Refi. “Saya harus mengoordinasikan 16 lantai, menjaga kelancaran selama acara, memastikan ketersediaan barang, serta menguasai detail produk saat bertugas di bar. Tidak hanya itu, saya terus berusaha untuk menjadi lebih baik ketika mengatasi keluhan tamu,”lanjutnya.
Afifah yang sedang berkuliah, mengaku bahwa tantangan yang dihadapinya cukup sulit, “Harus bereksperimen ketika membuat Karya Tulis Ilmiah untuk proyek ujian,” ungkapnya. “Namun, tugas akhir adalah tantangan yang terbesar karena mahasiswa ditugaskan untuk menjadi food innovator, jadi harus membuat makanan dengan inovasi baru. Sulit menemukan referensi untuk itu,”terangnya.
Memasuki dunia industri kuliner, Refi dan Afifah setuju bahwa penting untuk memadukan teori dan pengalaman kerja nyata.“Itu termasuk hal yang penting, karena ilmu yang didapat dari sekolah bisa saya terapkan langsung ditempat kerja. Dengan bekerja, saya juga mendapat ilmu yang lebih merinci, contohnya seperti membuat set menu western yang sudah diajarkan di SMK, tapi ditempat kerja saya ada tambahan butter dish, gobletnya pun diganti dengan water glass,” jelas Refi.
Senada dengan Refi, Afifah menyatakan bahwa kombinasi teori dan praktik merupakan kunci untuk membangun karier yang sukses. “Itu sangat penting untuk membangun karier. Dari teori kita bisa memiliki banyak pengetahuan dan membuat inovasi baru. Contoh ingin membuat bolu dan mengolah menteganya dengan teknit au bain marie, hasilnya akan lebih lembut daripada menteganya dicairkan langsung di atas kompor,” ungkapnya.
Menurut Afifah, dibandingkan dengan lulusan jurusan di luar bidang pariwisata, lulusan SMK Tata Boga memiliki pengalaman yang lebih besar dalam bekerja di sektor pariwisata, terutama di bidang F&B. “Contohnya saat bekerja, kita terbiasa menyebut alat atau bahan dengan bahasa inggris,” tambahnya.
Bagi lulusan SMK Tata Boga yang sedang dihadapkan pada pilihan melanjutkan studi atau langsung bekerja, Refi dan Afifah memberikan saran yang dapat dipertimbangkan. Menurut Refi, keputusan tersebut tergantung pada tujuan setiap individu. “Bisa lanjut kuliah jika ingin memperdalam teori atau bekerja jika ingin menerapkan teori yang sudah dipelajari. Jika bekerja, dapat belajar secara langsung di lapangan. Setiap pilihan ada kelebihan dan kekurangan, seperti bahwa kita harus siap secara mental dan fisik untuk bekerja, dan karena jam kerja yang tidak teratur, kita harus setia kepada perusahaan," jelasnya.
Di sisi lain, Afifah menyarankan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. “Jika ingin kuliah, bisa diskusi dengan orang tua untuk mendapat dukungan, terutama dari segi finansial, dan menurut saya bekerja itu mudah bagi lulusan SMK tata boga karena kita sudah memiliki pengalaman, pengetahuan, dan juga relasi. Bekerja juga bisa menambah wawasan dengan eksplorasi tempat kerja, entah itu di restoran atau hotel.” ujarnya.
Afifah juga menegaskan bahwa ilmu tidak harus diperoleh melalui kuliah. “Teori, wawasan luas, dan value diri itu ga harus didapat dengan berkuliah, dengan mengeksplor tempat kerja juga bisa,” pungkasnya.
Pada akhirnya, tujuan, minat, dan kondisi setiap lulusan harus dipertimbangkan sebelum membuat keputusan antara melanjutkan studi atau langsung bekerja.
Penulis: Aulya Zean Syahira, Mahasiswi semester 2 Program Studi Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
