Struktur Bahasa Pada Perbedaan Gender di Whatsapp
Riset dan Teknologi | 2024-06-28 14:14:23
Bahasa merupakan alat komunikasi yang bersifat dinamis, kedatangannya tidak ada yang mengetahui bagaimana tiap kosa katanya terbentuk dan terserap ke dalam sebuah bahasa. Bahasa itu sendiri memiliki variasi antara kelompok sosial tertentu dengan kelompok sosial lainnya. Menjadikan adanya perbedaan antara usia, jenis kelamain, pekerjan dan pendidikan.
Dalam studi sosialinguistik, bahasa perempuan cenderung lebih standar dibandingkan laki-laki. Penggunaan bentuk yang lebih standar pada perempuan disebabkan oleh tuntutan untuk besikap sopan sebagai kelompok bawahan. Di sisi lain, laki-laki memiliki Vernacular Express Machismo yaitu laki-laki menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang menunjukkan konotasi macho, maskulin dan ketangguhan.
Di media sosial grup whatsapp, perbedaan struktur bahasa ini juga terlihat jelas kalau bahasa perempuan di media sosial cenderung lebih terstruktur dan formal. Mereka lebih sering menggunakan kalimat lengkap, tanda baca yang benar, dan gaya bahasa yang lebih sopan. Hal ini mungkin disebabkan oleh norma sosial yang mengharapkan perempuan untuk tampil lebih sopan dan terkendali dalam komunikasi publik. Sebaliknya, laki-laki sering kali menggunakan bahasa yang lebih santai dan kurang formal di media sosial. Mereka mungkin lebih sering menggunakan slang, singkatan, dan bahasa gaul yang mencerminkan kepribadian yang santai dan maskulin. Penggunaan bahasa yang lebih vernakular oleh laki-laki ini dapat dilihat sebagai upaya untuk mempertegas identitas gender mereka, menonjolkan citra diri yang kuat dan tangguh.
Selain itu, perempuan cenderung lebih ekspresif dalam menggunakan emoji dan tanda baca untuk menyampaikan emosi dan nuansa dalam komunikasi mereka. Misalnya, penggunaan tanda seru ganda (!!!), emoji hati, atau wajah tersenyum sering ditemukan dalam postingan dan komentar mereka. Hal ini mencerminkan kecenderungan untuk lebih menonjolkan aspek emosional dan empati dalam komunikasi mereka.
Laki-laki, di sisi lain, cenderung lebih minimalis dalam penggunaan tanda baca dan emoji. Mereka mungkin lebih sering menggunakan emoji yang lebih sederhana atau netral, seperti ibu jari ke atas (????) atau wajah tertawa (????), yang mencerminkan sikap yang lebih santai dan tidak terlalu emosional dalam berkomunikasi.
Berikut struktur bahasa yang terjadi oleh perbedaan gender di grup whatsappS
Data 1 : “Lah anggi keluar?” bentuk bahasa yang digunakan oleh perempuan terlihat formal, adanya tanda baca menunjukkan bentuk bahasa perempuan yang lebih ekspresif. Sedangkan laki-laki “Ngambek lagi si aming” menggunakan bahasa yang lebih santai dalam konteks sebuah candaan.
Data 2 : “Ouh anggi lgi kaga ada nama nya lu ????” pada laki-laki menggunakan bentuk bahasa singkatan dan emoji, mencerminkan bentuk bahasa yang lebih santai. Di sisi lain, “Hehe iyaaa de” bentuk bahasa pada perempuan lebih sederhana dan sopan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa perbedaan-perbedaan ini tidak mutlak dan dapat bervariasi tergantung pada konteks, individu, dan budaya. Media sosial juga merupakan ruang di mana batasan-batasan gender tradisional dapat diuji dan dipertanyakan, memungkinkan individu untuk mengekspresikan diri mereka di luar stereotip gender yang kaku.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
