Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Manisa Putri

Belum Sarapan Kalau Tak Makan Nasi

Gaya Hidup | 2024-05-17 18:03:43
Sumber: Ilustrasi nasi putih. (FREEPIK/KAMRANAYDINOV)
Sumber: Ilustrasi nasi putih. (FREEPIK/KAMRANAYDINOV)

Aku Manisa, mahasiswi gizi tapi related dengan topik ini. Selalu ada niat untuk hidup yang lebih sehat, tapi bunda jadi penganut budaya kuno ‘Belum Sarapan Kalau Tak Makan Nasi’. Tak hanya itu, aku sebagai calon ahli gizi muda juga sering tertampar kalimat pedas dari netizen, misalnya loe makan karbo, tapi kok tetep kecil? Kok bisa tetep ramping, sehat sih? Kan nasi putih banyak gulanya, ga takut diabetes loe? Udah PD hidup sehat 100% sist? Oke, sabar ya bestie. Pelan tapi pasti, mari kita kupas satu per satu agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita!

Nasi merupakan olahan beras yang dijadikan sebagai makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Kehidupan mayoritas masyarakat di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari keberadaan nasi putih ini sebagai makanan pokok. Sebagian masyarakat umum beranggapan nasi sebagai sumber karbohidrat yang hukumnya wajib ada di piring saat sarapan untuk mengawali hari. Hampir seluruh penduduk di Pulau Jawa mengonsumsi nasi putih dengan persentase tinggi. Nasi merupakan sumber karbohidrat yang kaya serat dan nutrisi sehingga lebih mudah dicerna.

Karbohidrat merupakan salah satu makronutrien penting bagi tubuh manusia. Karbohidrat menjadi sumber nutrisi yang mampu menunjang berbagai fungsi tubuh. Karbohidrat dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah besar sebagai makronutrien untuk menghasilkan energi sehingga mampu mendukung berbagai aktivitas sehari-hari, seperti bernapas, berpikir, berlari, berolahraga, dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian Licorice: Southeast Asian Market Insights, dinyatakan persentase tingkat konsumsi karbohidrat rata-rata dari orang Indonesia sebagaimana populasi 88,40% orang Indonesia menyukai nasi, dan 8,60% diantaranya menyukai mie, serta 4,80% lainnya menyukai roti.

Tidak hanya karbohidrat, sebutir nasi juga mengandung glukosa. Glukosa merupakan komponen karbohidrat yang memiliki peran tidak jauh seperti karbohidrat. Glukosa sebagai sumber energi utama yang digunakan oleh sel-sel otak. Nasi putih memang mengandung kadar glukosa makanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sumber karbohidrat lainnya. Kandungan glukosa makanan pada beras putih per 100 gram yaitu 25,40 (Diyah, 2016). Konsumsi glukosa sangat penting bagi tubuh. Namun, kandungan glukosa ini dapat mengalami perubahan selama proses penyimpanannya (Sofyan, 2008).

Masyarakat Indonesia diantaranya setuju dengan istilah “belum makan namanya kalau tidak ada nasi” atau “belum kenyang rasanya kalau belum makan nasi”. Sepanjang berjalannya waktu, hal tersebut secara tidak langsung tertanam dan menjadi mindset bagi setiap individu. Lambat laun, eksistensi sesuap nasi saat sarapan untuk mengawali hari menjadi wajib hukumnya. Rasanya tidak lengkap apabila makan di pagi hari sebagai awalan dari suatu aktivitas apabila tanpa sepiring nasi. Tanpa kita sadari, tumbuhnya suatu budaya lokal yang sebenarnya bisa memicu dampak negatif bagi tubuh kita.

Nasi yang baru saja matang tentu akan terasa lebih nikmat saat dimakan. Namun, hal itu justru berpotensi mengundang risiko yang berbahaya bagi kesehatan. Kadar glukosa akan jauh lebih meningkat apabila nasi dalam keadaan masih panas atau baru saja matang. Beda halnya dengan kadar glukosa pada nasi yang sudah dingin. Nasi dingin memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan dengan nasi yang masih panas sehingga nasi dalam keadaan dingin tidak menaikkan kadar gula darah dengan cepat (Haryono, 2011). Nah, memang setiap sarapan aku selalu dibiasakan untuk makan sepiring nasi komplit beserta lauknya. Tetapi, aku tim sarapan dengan nasi yang sudah didinginkan sebelumnya. Dan bisa dipastikan pula kadar glukosa untuk porsi sarapanku sudah cukup untuk memenuhi nutrisi dan energiku untuk beraktivitas seharian.

Frekuensi kadar glukosa yang tinggi pada tubuh manusia tentunya akan mempengaruhi kesehatan. Segala hal yang tidak sesuai dengan porsinya tentu akan mengundang risiko. Kelebihan kadar glukosa dalam darah akan berisiko terkena penyakit obesitas dan berbahaya bagi penderita diabetes (Nugraheni, 2011). Namun, apabila kita berupaya untuk mengurangi konsumsi karbohidrat dan glukosa pada makanan khususnya nasi, hal ini akan menjadikan makanan yang masuk akan lebih aman dalam pencernaan sebagai nutrien, khususnya pada penderita diabetes melitus (Rafanani, 2013). Tanpa olahraga rutin dan makanan dengan bergizi seimbang, konsumsi nasi berlebih bisa meningkatkan kadar gula darah dan menyebabkan resistensi insulin sehingga tubuh akan lebih rentan mengalami indikasi penyakit diabetes tipe dua. Asupan nasi berlebih bisa meningkatkan kadar lemak pada perut.

Menurut Yasuhiko Minokoshi, ilmuwan dari Institut Nasional Ilmu Fisiologis Jepang, mengatakan otak akan memainkan peran dalam preferensi untuk karbohidrat atau lemak. Minokoshi menyebutkan bahwa manusia pada umumnya memang akan jauh lebih memilih makanan berdasarkan selera dan keadaan gizi tubuh mereka. Dalam Clinical Chemistry, dijelaskan bahwa bertambahnya glukosa dan insulin bisa meningkatkan kadar dopamin. Efeknya, kita akan merasa terus ingin mengulangi makan nasi lagi dan lagi (Belinda Lennerz dan Jochen K. Lennerz, 2018). Hipotesis bahwa enzim glukokinase mungkin berperan dalam mendorong keinginan pada glukosa. Glukokinase ditemukan dalam bagian otak yang disebut hypothalamus, yang mengatur beragam fungsi termasuk asupan makanan.

Menurut Dr. James Gardiner dari Imperial College London dalam Journal of Clinical Investigation, mengatakan bahwa otak sangat bergantung pada komponen glukosa untuk menghasilkan energi. Dr. James meyakini terdapat sinyal dari otak untuk mendorong tubuh manusia secara terus-menerus melahap makanan manis dan bertepung. Hal ini disebabkan, karena neuron atau sel saraf yang merespons keadaan stres sosial sedang aktif dan membuat nafsu makan bertambah. Bukti bahwa perkembangan dan fungsi otak dapat dipengaruhi oleh berbagai peristiwa lingkungan khususnya pola makan.

Bukan hal yang mudah untuk menghilangkan anggapan belum makan berat kalau tidak konsumsi nasi. Namun, kita harus tetap memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi sehari-hari demi menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Memiliki berat badan ideal dan tetap sehat adalah impian setiap individu. Selain nasi putih, ada banyak makanan pokok yang mudah untuk kita jumpai, memberikan sensasi mengenyangkan, dan tak kalah penting juga sama sehatnya, seperti: jagung, beras merah, oatmeal, sagu, dan bihun jagung. Jenis-jenis makanan tersebut lebih kaya akan serat daripada nasi putih biasa. Asupan serat akan membuat kita merasa kenyang lebih lama dan menjaga kadar gula darah. Perlu kita ketahui bahwa nasi putih sudah mengalami proses pengupasan kulit sehingga kadar mineral dan seratnya berkurang. Selain itu, beberapa dari jenis makanan pengganti diatas mengandung beta-karoten dan antosianin. Kedua senyawa ini merupakan antioksidan yang bisa mencegah kerusakan sel tubuh akibat radikal bebas.

Sangatlah penting untuk kita selalu menerapkan pola hidup sehat. Penerapan pola makan dengan menu bergizi harus diperhatikan. Buat kombinasi seimbang antara lauk yang kaya protein dengan makanan bergizi lainnya agar kita tidak mengalami malnutrisi (kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu). Kalau BB udah naik, pusing sendiri ga loe! Insecure lagi! Badmood lagi! Makanya jangan lupa atur pola makanmu ya bestie! Salam sehat, salam waras.

REFERENSI:

Diyah ;Nuzul W; dan Ambarwati, A. 2016. Evaluasi Kandungan Glukosa Dan Indeks Glikemik Beberapa Sumber Karbohidrat dalam Upaya Penggalian Pangan Ber-Indeks Glikemik Rendah. Jurnal Farmasi Dan Ilmu Kefarmasian Indonesia 3 (2).

Haryono M. 2011. Kandungan Nutrisi Nasi Putih Dilihat dari Proses Pengolahannya. [skripsi]. Institut Pertanian Bogor.

Nugraheni. 2011. Pengaruh Konsumsi Karbohidrat Berlebih Pada Tubuh. Kimia Pangan. Vol 1. pp: 5-11.

Perguruan Tinggi Kekaisaran London. "Mekanisme otak yang mendorong kita makan glukosa ditemukan. "Harian Sains. ScienceDaily, 8 Desember 2014. Dapat diakses pada tautan laman berikut www.sciencedaily.com/releases/2014/12/141208170708.htm.

Rafanani B. 2013. Buku Pintar Pola Makan Sehat & Cerdas Bagi Penderita Diabetes. Yogyakarta: Araska

Sofyan. 2008. Perubahan Kadar Glukosa Pada Nasi Beras Merah dan Nasi Beras Putih Selama Penyimpanan dalam Pemanas. [Skripsi]. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: Universitas Tadulako Palu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image