Keterkaitan Mengenai Cemburu dengan Sibling Rivalry
Pendidikan dan Literasi | 2023-11-24 11:56:13Hampir semua khalayak memahami tentang perasaan cemburu. Dari generasi tua hingga yang muda, bahkan anak-anak yang usianya masih belia pun memahami perasaan cemburu atau yang disebut sebagai jealous ini. Sekalipun belum begitu memahaminya, jika kita mencari pada laman pencarian google tentang cemburu, nantinya dapat termuat seperti beragam definisi cemburu, alasan seseorang dapat cemburu, berita mengenai cemburu, dlsb. Parahnya lagi, karena adanya rasa cemburu ini bisa membuat seseorang merenggut nyawa orang lho!
Tetapi tenang saja, tujuan dibuatnya artikel ini bukanlah ingin membahas mengenai hal yang “dark” seperti itu. Pada artikel ini, akan mengulas tentang hubungan atau keterkaitan cemburu dengan sibling rivalry atau persaingan saudara kandung. Sebelum menelaah lebih lanjut, mari kita membahas mengenai cemburu terlebih dahulu.
Definisi dan Jenis Cemburu
Tentunya terdapat beragam definisi mengenai cemburu itu sendiri. Menurut pendapat beberapa ahli mengemukakan bahwa cemburu merupakan emotions, cognitions, and behavior assosiated with the appraisal of the threat arising from the potential, actual, or imagined in-volvement of one’s loved one or mate in a relationship with an interloper. Dari penjelasan tersebut adanya cemburu bertalian dengan adanya proses tingkah laku, reaksi emosional, serta pemahaman, dan tentunya tidak terjadi secara gamblang begitu saja tanpa melalui sebuah proses. Menurut American Psychological Association (APA), adanya rasa cemburu atau iri umumnya nampak ketika kita melihat orang lain memperoleh lebih banyak afeksi ataupun kasih sayang, dan dari situ kita menginginkan hal serupa dari yang orang lain miliki.
Menurut pendapat ahli, terdapat dua pembagian jenis cemburu yang meliputi Naturally-occuring jealousy dan induced jealousy. Naturally occuring jealousy merupakan jenis cemburu yang terjadi begitu saja tanpa adanya maksud serta niat untuk melangsungkannya. Yang umumnya teman-teman ketahui jika mendengar kata cemburu pastinya terdapat pada hubungan percintaan saja bukan? Sebenarnya cemburu juga bisa terjadi pada hubungan pertemanan. Hanya saja, dalam pertemanan kita lebih fleksibel memperbolehkan teman kita berteman dengan yang lain, ketimbang dalam percintaan yang jika kita memiliki pasangan maka akan memiliki kesan yang buruk jika pasangan kita memiliki hubungan dengan orang lain. Dan sesuai dengan judul awal ini sendiri, selain karena pertemanan ataupun pada percintaan, rasa cemburu juga dapat timbul pada hubungan saudara kandung kita sendiri atau disebut sebagai sibling rivalry.
Penjelasan Sibling Rivalry
Umumnya, dalam setiap keluarga yang memiliki anak dua atau lebih kerap terjadi pertengkaran ataupun perkelahian. Sibling rivalry dapat diartikan menjadi persaingan antar saudara kandung, bisa saudara kandung sesama jenis ataupun berbeda jenis kelamin. Persaingan anak banyak disebabkan oleh kemarahan, persaingan dan kecemburuan terhadap saudaranya karena merasa kehilangan kasih sayang dan perhatian orang tua setelah menambah saudara baru dalam keluarga. Selain itu juga bisa bersaing untuk memperoleh sesuatu: mainan baru, memperoleh perhatian, serta bersaing untuk membuktikan sesuatu: prestasi, banyak teman, paling disayang orang tua, dlsb.
Menurut pendapat ahli, Problems in managing emotions in children who have excessive jealousy with siblings tend to experience siblingrivalry, yang berarti masalah dalam mengelola emosi pada anak yang memiliki rasa cemburu yang berlebihan terhadap saudara kandungnya cenderung mengalami siblingrivalry. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa termasuk pada jenis Naturally-occuring jealousy mengingat bahwa cemburunya terjadi secara begitu saja, orang tua juga harus lebih memperhatikan mengenai emosi pada anak, dan diharapkan agar memberikan afeksi yang sama kepada sesama anaknya agar tidak terjadi rasa cemburu yang bisa menyebabkan perselisihan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
