113 Juta Pemilih Muda, Gerakan Moral atau Kapital?
Politik | 2023-11-09 10:17:48
Dalam menjelang momentum kontestasi pesta demokrasi pemilu 2024 nanti, banyak hal yang sangat menarik untuk terus dikaji guna menciptakan iklim demokrasi yang lebih baik, berkualitas dan terbuka. Hal yang sangat menarik itu diantaranya adalah angka pemilih muda yang berasal dari generasi milenial dan generasi Z.
Berdasarkan rilis dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) bulan Juli 2023, data terkait daftar pemilih tetap Pemilu 2024 di dominasi oleh pemilih muda. Dari jumlah total daftar pemilih tersebut, Sebanyak 66.822.389 atau 33,60% pemilih dari generasi milenial. Sedangkan pemilih dari generasi Z adalah sebanyak 46.800.161 pemilih atau sebanyak 22,85%. Total mereka mencapai sekitar 113.622.550 pemilih atau 52% dari total DPT Pemilu 2024.
Dari jumlah angka yang sangat dominan tersebut, tentu kelompok muda ini akan menjadi fokus lahan garapan para peserta pemilu supaya dapat menarik suara mereka. Oleh karena itu, untuk menarik perhatian kelompok muda, para peserta pemilu baik dari tingkat pusat sampai daerah banyak yang menjual simbol dan narasi-narasi dengan "embel-embel" pro generasi muda.
Tidak heran, dalam momentum kontestasi saat ini, beberapa partai politik banyak menarik dan mencalonkan berbagai deretan tokoh publik seperti dari kalangan artis atau influencer yang mempunyai popularitas tinggi dan dianggap dapat menopang suara dari kelompok generasi muda.
Apalagi ditambah dengan ramainya perbincangan publik atas hasil putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Capres dan Cawapres yang disinyalir menjadi pintu masuk Gibran Rakabuming Raka, Walikota Solo sekaligus anak Presiden Joko Widodo yang masih berusia dibawah 40 tahun dapat mencalonkan diri menjadi Calon Wakil Presiden dalam kontestasi pemilu 2024.
Disatu sisi, putusan MK tersebut seolah-olah dianggap menjadi pintu awal para tokoh pemimpin muda bisa ikut berkontestasi dalam tingkat kepemimpinan nasional. Namun, dilain sisi terdapat beberapa kontroversi karena sarat akan kepentingan politik dinasti dari Presiden Jokowi.
Tentu untuk menciptakan kondisi demokrasi yang benar-benar pro terhadap generasi muda tidak cukup dengan simbol membuka jalan kekuasaan untuk "anak raja". Lebih daripada itu, generasi muda yang menurut Tan Malaka mempunyai "Idealisme" sebagai keistimewaannya perlu di pertimbangkan juga dengan seksama.
Antara Gerakan Moral & Kapital
Sejarah mencatat, gerakan moral yang diinisasi oleh para generasi muda sangat berpengaruh besar terhadap kemerdekaan negara indonesia. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya para tokoh kemerdekaan bangsa yang berasal dari kalangan generasi muda.
Semua itu berasal dari gerakan moral para generasi muda bangsa yang resah melihat kondisi bangsanya yang dikuasai oleh para penjajah. Sehingga, lahirlah kesatuan gerakan untuk memperjuangkan harkat, martabat dan derajat masyarakat indonesia dengan mewujudkan kemerdekaan indonesia.
Semangat yang diwariskan oleh tokoh bangsa itu tentu harus terus dijaga dan di gaungkan oleh para generasi muda saat ini. Sehingga, cita-cita bangsa untuk mewujudkan negara yang lebih maju, adil, makmur dan sejahtera bukan hanya sebatas menjadi slogan belaka.
Tapi, setiap generasi pasti mempunyai tantangan dan rintangannya masing-masing. Dahulu, generasi muda bangsa kita diuji dengan serangan kolonialisme. Namun, saat ini generasi muda bangsa kita diuji dengan dihadapkan mental-mental kapitalisme.
Mental kapitalisme ini berpotensi membentuk karakter generasi muda bangsa kita menjadi sosok yang konsumtif dan hanya mementingkan kepuasan individu. Sehingga, kepedulian terhadap persatuan dan kemajuan kolektif menjadi nomor sekian dalam hidupnya.
Tentu hal tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup generasi bangsa. Jangan sampai hal itu menjadi senada dengan kata bapak proklamator kita Ir. Soekarno yang menyebutkan "musuh terbesarmu adalah bangsamu sendiri" benar-benar terjadi dan memperburuk situasi dan kondisi bangsa.
Jika kita kembali kedalam konteks pemilu 2024, mental kapitalisme ini sangat rentan terjadi kepada generasi muda. Salahsatu bentuk contohnya adalah ketika idealisme para pemilih muda mulai digerus oleh berbagai macam tawaran-tawaran politis yang hanya memberikan kenikmatan sesaat.
Tindakan tersebut tentu menyempitkan sudut pandang dan peluang para kelompok muda terhadap proyeksi jangka panjang dari pemilu 2024. Dimana dari momentum jumlah pemilih yang sangat dominan ini kelompok muda hanya akan menjadi seperti buih-buih ombak dilautan saja. Yaa, banyak namun tidak berarti !
Padahal, dari angka yang sangat dominan ini para kelompok muda bisa menjadi seperti gelombang tsunami besar yang dapat merobohkan bangunan sistem-sistem lama yang penuh dengan karat dan virus berbahaya. Selain itu, dengan gerakan moral secara kolektif yang dilakukan oleh para kelompok muda dapat menjadi suatu gerakan investasi sistem positif untuk bekal generasi selanjutnya menjadi lebih baik.
Lantas, gerakan moral apa saja yang dapat dilakukan oleh kelompok muda dalam momentum pemilu 2024 sekarang? Tentu banyak hal yang dapat dilakukan. Namun, ada beberapa hal yang relevan untuk dilakukan.
Pertama, menjadi pemilih muda yang berkualitas dengan memilih kandidat yang paling layak diantara yang layak. Memilih kandidat yang paling layak diantara yang layak dapat dilakukan dengan cara profilling atau mencari tau terlebih dahulu track record dan gagasan besar dari setiap kandidat peserta pemilu. Dengan hal tersebut kita akan memilah secara objektif kandidat mana yang benar-benar layak untuk mewakili kepentingan masyarakat luas di intansi pemerintahan.
Kedua, menjadi kelompok muda yang aktif mensosialisasikan pemilu yang berkualitas. Dengan berperan aktif dalam mensosialisasikan pemilu, tentu akan berpengaruh besar dalam memperluas kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemilu yang berkualitas dan bermakna. Apalagi jika ditambah dengan kampanye edukasi pemilu, menghindari informasi hoaks dan menolak politik pecah belah, itu akan menjadi bagian upaya penguatan persatuan masyarakat dari dampak dinamika yang ditimbulkan oleh peserta pemilu.
Ketiga, menjadi kelompok muda yang terlibat dalam struktural pemilu dan upaya perbaikan sistem pemilu. Dalam hal ini tentu bukan hanya terlibat sebagai penyelenggara seperti di lembaga KPU dan Bawaslu saja. Lebih daripada itu, terlibat dalam lembaga peserta pemilu seperti partai politik juga tidak kalah penting. Selain bisa menjadi pembelajaran berharga dalam dunia politik, menciptakan program baru seperti strategi kampanye yang berkualitas, kekinian dan berorientasi terhadap masyarakat di partai politik juga sangat baik untuk penguatan sistem kelembagaan dan kepercayaan publik terhadap partai politik.
Tentu selain daripada hal-hal yang telah diuraikan diatas, masih banyak hal yang dapat dilakukan oleh para kelompok muda dalam momentum pemilu 2024 untuk melakukan gerakan moral secara kolektif dan menciptakan iklim demokrasi yang lebih terbuka dan bermakna. Dengan melakukan beberapa upaya diatas, diharapkan dapat menjadi suatu gerakan literasi pemilu bagi seluruh elemen masyarakat indonesia khususnya para kelompok muda.
Yang terpenting adalah jangan sampai dalam momentum pemilu 2024 ini suara "istimewa" kita sebagai kelompok muda ditukar atau dibeli dengan sesuatu yang berlaku sementara !
Karena harga masa depan bangsa kita tidak bisa dipertaruhkan dengan sesuatu yang berlaku sementara ! Karena suara kita adalah suara penentu arah bangsa !
113 Juta Untuk Indonesia Maju, Adil dan Sejahtera !
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
