Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rifqi Sibyan Kamil

Hubungan Iklim Pembelajaran dengan Motivasi dan Emosi Siswa

Edukasi | Tuesday, 31 Oct 2023, 10:44 WIB

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai suatu kesatuan jasmani dan rohani. Singkatnya, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Sementara, psikologi pendidikan diungkapkan oleh Lester D. Crow dan Alice Crow adalah ilmu yang berusaha menjelaskan masalah-masalah belajar yang dialami individu sejak lahir, terutama kondisi yang memengaruhi belajar.

Belajar menurut Good dan Brophy bukan hanya tingkah laku yang nampak, tetapi juga proses yang terjadi dalam diri individu untuk memperoleh hubungan-hubungan baru. Ketercapaian belajar tentu dipengaruhi berbagai faktor yang dibedakan menjadi dua:

1. Faktor internal, seperti kecerdasan, motivasi, emosi, dan kematangan.

2. Faktor eksternal, seperti keluarga, guru, cara pembelajaran, dan lingkungan.

Sumber: meenta.net

Kedua faktor tersebut tentunya saling berhubungan, seperti iklim pembelajaran (yang mengandung faktor eksternal) dengan motivasi dan emosi siswa. Kondisi iklim pembelajaran di rumah dapat memengaruhi motivasi dan emosi siswa ketika di sekolah. Begitu juga kondisi di sekolah yang telah dialami siswa sebelumnya dapat memengaruhi motivasi dan emosi siswa ke depannya.

Iklim kelas yang kondusif dapat menguatkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Muhtadi (2005) menjelaskan bukan hanya materi atau siapa yang mengajar, tapi juga bagaimana materi diajarkan dan bagaimana guru menciptakan iklim kelas. Iklim kelas yang positif diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar, dan motivasi belajar dapat menentukan keberhasilan pembelajaran.

Iklim sekolah memengaruhi pencapaian akademik siswa. Tinjauan Anderson (1982) dalam J.S Cangelosi (1993) mengenai 40 studi iklim sekolah dari tahun 1964 sampai 1980, lebih dari setengahnya menunjukkan komitmen guru yang tinggi, hubungan sebaya yang positif, kerja sama tim, ekspektasi tinggi guru dan administrator, konsistensi hukuman, konsensus kurikulum pembelajaran, dan kejelasan tujuan memberikan pengaruh berharga pada pencapaian hasil akademik siswa.

Battistich dan Hom (1997) dalam Galay dan Pong mengungkapkan dengan adanya perasaan akan komunitas dapat mengurangi munculnya perilaku bermasalah seperti narkoba, kekerasan, dan kenakalan remaja. Iklim positif juga dapat menurunkan depresi. WHO pada 1983 menguji anak muda di 28 negara dan menemukan hasil bahwa peran sekolah, dukungan guru dan siswa lain dapat mengurangi kebiasaan buruk.

Keluarga sangat berperan karena keseimbangan pencapaian harmonisasi keluarga menjadi landasan berpikir, bertindak, dan kebiasaan belajar siswa. Orang tua tidak hanya menurunkan sifat genetis biologis, tetapi juga menyangkut emosi. Faktor sosiopsikologis di rumah merupakan potensi yang dibawa ke sekolah, sehingga perlu perhatian dari pendidik.

Emosi sering dianggap sebagai kemarahan, padahal emosi adalah reaksi kompleks yang melibatkan pengalaman, perilaku, dan perubahan fisiologis (Reber & Reber, 2010). Maka dari itu diperlukan adanya pengelolaan emosi agar memiliki kemampuan mengolah emosi, tahu kapan merasakan, serta bagaimana mengalami dan mengekspresikannya dengan akurat dan proporsional (Gross, 2007). Kurangnya kemampuan mengelola emosi dapat berdampak pada terhambatnya kemampuan sosial, pengendalian diri, dan prestasi akademik.

Motivasi berperan dalam pembentukan emosi. Fischer dalam Philipot (2004) mengungkapkan orang cenderung menginginkan situasi yang nyaman dan menghindari keadaan negatif.

Motivasi menjadi syarat mutlak belajar. Anak yang malas, tidak menyenangkan, membolos, dan lainnya adalah contoh dari kurangnya motivasi yang tepat. Begitu pula banyak bakat anak yang tidak berkembang karena tidak ada motivasi. Peran guru dan orang tua adalah memberikan motivasi sosial yang baik sehingga muncul motivasi pribadinya berupa dorongan dan hasrat untuk belajar dengan baik. Anak dapat mengetahui gunanya belajar dan apa yang ingin dicapai. Motivasi ini dapat muncul juga dari semua orang di sekitarnya, dan mungkin juga anak terima tanpa disadari.

Kondisi anak dan remaja sekarang dihadapkan dengan kondisi rumit dan kompleks di sekolah, keluarga, dan media sosial, dan mereka belum dapat menanggapinya dengan emosi yang proporsional. Terlihat dari ekspresi langsung dan tidak langsung (media sosial), seperti agresif, bullying, mudah tersinggung, dan menyakiti diri sendiri. Hal ini berakibat dikucilkan dan penurunan prestasi akademik.

Guru dan orang tua seharusnya mulai mengenalkan dan menerapkan pengelolaan emosi sejak taman kanak-kanak. Guru dan orang tua juga perlu menciptakan suasana yang mendukung bagi pengelolaan emosi yang baik bagi anak. Suasana nyaman juga dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Motivasi berperan dalam pembentukan emosi, dan dengan pengelolaan emosi yang baik dapat memunculkan motivasi belajar.

Referensi

Asril. (2010). Mengapa Iklim Kelas Berpengaruh terhadap Motivasi Belajar: Critical Review terhadap Hasil Penelitian. Kemenag Sumsel.

Kumara, A., dkk. (2018). Studi Kasus Mengenali dan Menangani Emosi pada Siswa. Sleman: PT Kanisius.

Kuswana, W. S. (2011). Taksonomi Berpikir. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Purwanto, M. N. (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Winandari, W. (2016). Hubungan Antara Iklim Kelas dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD Negeri di Kecamatan Boja Kabupaten Kendal. (Skripsi). Pendidikan Gurus Sekolah Dasar, Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image