Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syahrial, S.T

Ilmu Sejati: Sumbernya Al-Quran dan Sunnah

Agama | 2023-09-08 16:58:47
Dok. Republika.co.id

Ilmu adalah aspek penting dalam kehidupan manusia. Namun, apa yang sebenarnya dianggap sebagai ilmu yang benar? Dalam konteks ini, kita akan menjelaskan betapa pentingnya ilmu yang berlandaskan pada firman Allah dan sabda Rasul-Nya, seperti yang diuraikan dalam Al-Quran dan hadits. Ilmu semacam ini dikenal sebagai ilmu syar'i, yang membawa manfaat di akhirat dan mengantarkan seseorang menuju keselamatan dari kebodohan.

Ilmu yang Berlandaskan pada Al-Quran dan Hadits

Ilmu sejati adalah apa yang berasal dari sumber yang benar, yaitu Al-Quran dan hadits Rasul-Nya. Dalam Al-Quran, Allah berfirman dalam Surah Ali Imran (3:18): "Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada sesembahan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar adalah yang bersumber dari Allah sendiri.

Selanjutnya, dalam Surah Fathir (35:28), Allah menjelaskan bahwa "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama." Ini menegaskan bahwa ulama yang memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah dan agama-Nya adalah yang sejati takut kepada Allah.

Ulama sebagai Khulafa Allah

Ulama adalah para khulafa Allah di bumi setelah rasul-rasul. Mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menjelaskan agama, menunjukkan jalan menuju Allah dan agama-Nya kepada umat manusia. Mereka adalah penerus para rasul dan pengikut setia mereka yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang agama.

Pentingnya Mentadaburi Kitab Allah dan Sunnah Rasul

Seorang penuntut ilmu tidak dapat menjadi ahli ilmu atau ulama kecuali dengan tekun menapaki ketaatan, tadabbur, dan berusaha untuk memahami serta mengambil faidah dari kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnah Rasul. Ini adalah jalan menuju ilmu yang sejati. Seseorang harus membaca dengan niat untuk mengambil manfaat dan memahami dengan seksama.

Tafsir dan Hadits sebagai Sumber Ilmu

Seorang penuntut ilmu harus menjadikan kitab-kitab tafsir sebagai acuan utama, seperti Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir al-Baghawi. Tafsir ini membantu untuk memahami makna dan pesan yang terkandung dalam Al-Quran. Selain itu, pengkajian kitab-kitab hadits juga penting untuk memahami ajaran Rasulullah.

Mengambil Ilmu dari Ahli Sunnah wal Jamaah

Ilmu yang benar harus bersumber dari ulama ahli Sunnah wal Jamaah, yaitu mereka yang memiliki hujjah dan ilmu yang benar. Sebaliknya, ilmu yang berasal dari ulama kalam atau ulama ahli bid'ah harus dihindari. Ilmu yang benar adalah ilmu yang berakar pada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Ilmu Syar'i untuk Keselamatan Akhirat

Yang paling penting, ilmu yang benar adalah ilmu syar'i yang membawa manfaat di akhirat dan melindungi seseorang dari kebodohan. Dengan ilmu ini, seseorang dapat memahami agamanya, mengetahui apa yang Allah wajibkan atas dirinya, dan memahami apa yang diharamkan oleh Allah. Inilah jenis ilmu yang sejati dan yang harus dicari oleh setiap penuntut ilmu yang sungguh-sungguh.

Kesimpulan

Ilmu yang berlandaskan pada Al-Quran dan hadits adalah ilmu yang sejati dan membawa manfaat di dunia dan akhirat. Ulama adalah khulafa Allah yang bertugas menjelaskan agama dan menunjukkan jalan kepada manusia. Sebagai penuntut ilmu, kita harus tekun dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta mengambil ilmu dari ahli Sunnah wal Jamaah. Hanya dengan ilmu syar'i yang benar, kita dapat mencapai keselamatan dan pengetahuan yang mendalam tentang agama kita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image